Tuesday, June 23, 2009

Hukum Membaca Surat Al-Fatihah Dalam Shalat dan Hukum Basmalah


Pendapat Pertama,Fardlu hukumnya membaca Surat Al-fatihah dalam tiap-tiap raka’at shalat karena Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat,dan tidak bisa diganti dengan membaca ayat lain dari Al-Qur’an.Pendapat ini Merupakan pendapat jumhur ulama dari mazhab Malikiyah,Syafi’iyah,Riwayat dari imam Ahmad bin Hanbal,dan Mazhab Dzohiriyah

Dalil Pendapat pertama:

Hadist riwayat dari ‘Ubadah Bin Ash-Shomit ra Bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw Bersabda “Tidak ada Shalat Bagi Orang Yang tidak membaca Fatihah Al-Kitab (surat Al-Fatihah)”.Pada Lafaz lain menurut imam Daraquthni “Tidak Cukup (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihah al-kitab (surat Al-fatihah),dan Pada Lafaz lain dalam kitab musnad Imam Ahmad “Tidak diterima shalat yang tidak dibaca dalam shalat tersebut Umm al-qur’an (al-fatihah).

Hadist Riwayat Aisyah Ra berkata :Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :”Barang siapa yang shalat yang tidak membaca (dalam shalatnya tersebut) Umm al-qur’an,maka Shalat nya Tersebut tertolak (Kurang/tidak sah)” (H.R.Imam Ahmad dan Ibn Majah)

Pendapat kedua,Fardlu hukumnya membaca salah satu ayat dari Al-qur’an karena membaca salah satu Ayat dari al-qur’an merupakan Rukun Shalat.Namun tidak mesti mengkhususkan bacaan dengan Al-Fatihah saja karena Al-fatihah bukan Rukun shalat jadi hukumnya tidak fardlu.Ini merupakan pendapat Mazhab Hanafiyah dan riwayat yang lain dari mazhab imam Ahmad bin Hanbal

Dalil Pendapat kedua :

Firman Allah Ta’ala “Maka Bacalah Oleh Mu Sesuatu (ayat) yang mudah Dari Al – Qur’an “,Dalam Ayat ini Allah swt menyuruh kita untuk membaca sesuatu/ayat yang mudah dari al-qur’an,dan tidak menyuruh kita untuk mengkhususkan membaca Al-Fatihah saja dalam Shalat.(Pendapat ini ditentang karena Ayat ini turun untuk Qiyamul lail saja,bukan untuk menjelaskan kewajiban membaca ayat yang mudah dari al-qur’an dalam Shalat)

Hadits yang diriwayatkan oleh abu Hurairah (hadist Panjang),dalam hadits tersebut Bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda : “Jika kamu mendirikan shalat maka takbirlah,kemudian bacalah yang mudah bagi mu dari Al-qur’an,kemudian ruku’ lah hingga tuma’ninah dalam ruku’ tersebut…(hingga Akhir Hadits).

Dalil ‘aqli bahwa sesungguhnya Surat Al-fatihah di qiyaskan (sama hukumnya) dengan Ayat Lainnya karena sama-sama berposisi sebagai mukjizat dan beribadah membacanya.

Apakah Makmum wajib membaca al-fatihah atau tidak?

Pendapat pertama,Wajib bagi makmum untuk membaca al-fatihah dalam shalat.Karena al-fatihah merupakan salah satu rukun shalat yang wajib bagi imam dan makmum . Ini merupakan pendapat mazhab Syafi’iyah

Dalil pendapat pertama :

Hadist riwayat ‘Ubadah Bin Ash-Shomit ra berkata :Kami shalat bersama Rasulullah saw dengan sebahagian shalat yang dijaharkan bacaannya,maka tatkala shalat tersebut selesai rasulullah memalingkan mukanya kepada kami dan kemudian berkata :” Adakah kalian membaca (sesuatu) ketika aku menjaharkan bacaan ? sebagian kami menjawab “ya,sesungguhnya kami memperbuat demikian” kemudian nabi berkata “……Maka jangan lah kamu membaca sesuatu ketika aku menjaharkan bacaan kecuali membaca Umm al-qur’an” (H.R.Abu daud)

Pendapat kedua,Tidak wajib membaca Al-Fatihah bagi makmum karena telah cukup dengan bacaan imam pada shalat jama’ah.Sekalipun shalat tersebut jahar ataupun sirr.Ini Merupakan pendapat mazhab Hanafiyah.Namun Menurut Pendapat Malikiyah,hanabilah dan Muhammad bin Al-Hasan dari mazhab Hanafiyah bahwa sunat hukumnya bagi makmum untuk membaca Al-fatihah dalam shalat sirr.

Dalil pendapat kedua :

Firman Allah Ta’ala “ Dan Apabila Dibacakan Al-qur’an maka dengarlah bacaan tersebut dan perhatikan lah mudah-mudahan kamu dirahmati “. Hadits riwayat Imam yang 5 selain Imam turmudzi Bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda “ dan jika Dibacakan Al-qur’an maka perhatikanlah “ (Hadist ini dishahihkan Imam Turnudzi).(Namun Ayat dan Hadist Diatas ini ditentang sebagai dalil karena keduanya tidak menjelaskan kekhususan dalam shalat.Artinya Ayat dan Hadist tersebut tidak memfaedahkan timbulnya hukum tidak wajib membaca al-fatihah bagi makmum)

Apakah basmalah termasuk satu ayat dari Al-qur’an?

Pendapat pertama,Basmalah tidak terhitung sebagai satu Ayat dari Al-fatihah,oleh karena itu membacanya dalam shalat pun hukumnya Sunat bukan wajib.Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan sebagian malikiyah,Riwayat kedua dari Imam Ahmad Bin Hanbal.Bahkan Menurut pendapat sebagian malikiyah makruh hukumnya membaca basmalah dalam Al-fatihah.

Dalil pendapat pertama :

Hadist riwayat Abu Hurairah Ra bahwa sesungguhnya nabi Muhammad saw bersabda “Allah berfirman (dalam Hadits qudsi) Aku membagi Shalat antara Ku dan Antara hambaku dua Bagian,Dan Untuk Hambaku apa yang dia minta.Maka jika berkata Hambaku “segala puji bagi Allah tuhan semesta Alam “ berkata Allah “Hambaku telah memujiku”,maka jika berkata hambaku “Yang maha pengasih lagi maha penyayang” berkata Allah “Hambaku telah MemuliakanKu”,Maka jika berkata hambaku “Hanya Kepadamulah Aku menyembah dan hanya kepadamulah Aku Minta Pertolongan” berkata Allah “Ini Antaraku dan antara Hambaku,dan Untuk Hambaku apa yang dia minta,maka jika berkata Hambaku “Tunjukilah kami jalan yang lurus,yakni jalan yang engkau berikan nikmat diatasnya bukan jalan yang engkau murkai dan bukan pula jalan yang sesat “ berkata Allah “ Ini Untuk Hambaku,dan Untuk hambaku Apa yang ia Minta” (H.R.Muslim) Hadist ini menunjukkan surat Al-Fatihah dan tidak disebutkan pada ayat ini Basmalah tapi disebutkan hanya dimulai dengan Alhamdulillah rabbil ‘alamin/segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam.

Hadist Riwayat dari Anas Bin Malik ra,dia berkata:Rasulullah saw,Abu bakar,umar,dan Ustman radiyallahu ‘Anhum memulai shalat dengan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (H.R.Bukhari)

Pendapat kedua,Basmalah merupakan ayat pertama dari surat Al-Fatihah,maka wajib membacanya dalam shalat.dan jika tidak dibaca dalam shalat maka batal shalat tersebut.Ini Merupakan pendapat sebagian ulama mazhab Malikiyah dan pendapat Mazhab Syafi’iyah dan riwayat lain dari Imam Ahmad Bin Hanbal.dan Ini merupakan mendapat yang dipakai kebanyakan para sahabat dan tabi’in

Dalil pendapat kedua :

Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab Tarikhnya Bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw “menjumlahkan Al-fatihah tujuh ayat,dan menjadikan Bimillahirrahmanirrahim sebagai satu ayat dari Al-fatihah”

Hadits Riwayat Abu Hurairah Ra.dia Berkata :Rasulullah saw bersabda “Jika Kamu membaca Al-Hamdu (surat Al-Fatihah) maka bacalah Bismillahirrahmanirrahim,sesungguhnya Al-fatihah itu adalah umm al-qur’an,umm al-kitab,dan sab’u al-matsaniy dan bismillahirrahmanirrahim merupakan satu ayat dari al-fatihah” (H.R.Daraquthniy)

Hadist riwayat dari Ummu salamah ummul mu’minin.ra.dia berkata :” rasulullah saw membilangkan Bismillahirrahmanirrahim satu ayat,dan alhamdulillahirrahmanirrahim sampai akhir ayat alfatihah sejumlah enam ayat.”

dikutip dari muqorror ahkam al ibadat

5:58 PM by Zamzami Saleh · 1

Thursday, June 18, 2009

Problematika Dakwah Di Era Modern


Kata-kata Dakwah memang bukan sesuatu yang asing di telinga kita saat sekarang ini.Mengingat dakwah bukan merupakan hal yang baru dalam islam namun telah ada sejak zaman Rasulullah saw dan berlangsung hingga sekarang.Dakwah yang secara etimologi berarti mengajak ini bisa terjadi dimana saja.Di mesjid,lingkungan masyarakat,tempat dan sarana pendidikan dan tempat-tempat lain.Ditambah lagi disaat ini,gerakan-gerakan dakwah tumbuh menjamur di Indonesia.Dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara dan metode-metode,baik secara lisan melalui ceramah,tarbiyah,khutbah,maupun dengan perbuatan dan dengan sikap dan kerja nyata kita.Dalam tulisan ini,penulis tidak akan banyak membahas tentang defenisi dan metode-metode,namun lebih membahas kepada problematika dakwah hari ini sebagai bahan intropeksi bagi semua.

Secara fisik , dakwah islam Di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.Hal ini terlihat dari banyaknya bangunan masjid,sekolah pendidikan islam , hingga rumah sakit yang berlabelkan islam.Selain itu juga banyak muncul lembaga-lembaga dan organisasi – organisasi yang berasaskan islam yang konsen dalam dakwah seperti Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang gencar dikembangkan di setiap perguruan tinggi di Indonesia .Hal ini dapat kita jadikan indicator peningkatan dakwah di Indonesia.

Namun disisi lain,Muncul beberapa problematika baru yang melanda ranah dakwah Islam Indonesia yang muncul dari berbagai sisi dan lini,secara umum dapat kita lihat dari sisi internal umat islam dan dari sisi sang da’I serta dari eksternal islam sendiri.Namun masalah yang mendasar adalah merujuk kepada Hadits Rasulullah saw “Bahwasanya suatu saat akan diangkat ilmu dengan cara diwafatkan para ulama dan akan mengangkat pemimpin yang jahil dan berfatwa dengan tanpa ilmu yang sesat lagi menyesatkan…” .Secara rinci kita lihat masalah tersebut dari permasalahan internal umat islam :

Permasalahan yang timbul dari sisi sang da’i

Pertama,terjadinya penyempitan makna dakwah oleh para da’i.Dakwah saat ini sering terkesan dimaknai sebatas pada ceramah-ceramah di mesjid,majelis ta’lim,dan pengajian-pengajian.Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa metode lisan merupakan salah satu metode dakwah namun hendaknya para da’I tidak menjadikan dakwah dengan metode ceramah sebagai hal yang esensi dalam dakwah.Bahkan akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sudah mulai bosan dengan ceramah-ceramahKalaupun ada yang mengikuti hanya sebatas gengsi atau mencari sisi lain yang menarik dari ceramah sang da’I seperti sang dai’ yang suka membuat lelucon,alhasil ketika ditanya kepada masyarakat tentang apa yang mereka dapatkan dalam ceramah tersebut mereka hanya menjawab “Uztadznya pelawak,lucu,dan menarik” namun esensi dakwah tidak lagi sampai kepada masyarakat tersebut.Padahal sebenarnya masyarakat di Indonesia saat ini membutuhkan dakwah dengan metode Bil HAL,mereka saat ini kehilangan figure Qudwah,Figure ustwah yang akan mereka jadikan pedoman dan tauladan dalam hidup.

Kedua,Merosotnya kualitas ilmu yang dimiliki para da’i.Hal ini berdampak pada menurunnya profesionalisme sang da’i.Contohnya banyak kita lihat di Indonesia bagaimana materi yang disampaikan hanya bersifat pengulangan sehingga para objek dakwah mudah bosan.selain itu, dakwah yang disampaikan sering tidak tepat sasaran karena metode yang dipakai sang da’I tidak sesuai dengan kondisi objek dakwahnya.Ditambah lagi sang da’I tidak memiliki keilmuan yang cukup terutama dalam bidang Fiqh dakwah sehingga sering mengecewakan objek dakwah. Kekurangan ilmu yang dimiliki da’I hari ini juga banyak menimbulkan masalah tersendiri dalam bidang dakwah.Sering kali terjadi kegoncangan pada umat diakibatkan keraguan yang ditimbulkan oleh para da’I dalam menetapkan sebuah hukum.Keraguan ini akan berlanjut pada ketidak percayaan terhadap sang da’I itu sendiri.Hal ini tentunya berdampak negative terhadap tatanan umat yang ada. Contoh lain,adalah seringnya para da’I terlalu memaksakan sebuah hukum namun tanpa alternative sehingga tak jarang sikap ini mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat kepada da’I tersebut malah masyarakat bisa menjadi apatis kepadanya.

Ketiga,Manajemen dakwah yang dilakukan oleh para da’I masih bersifat konvensional,yang hanya terbatas pada ceramah dan kuliah agama.Kurangnya pengetahuan da’I tentang ilmu dakwah ditambah lagi dengan kurang nya pengetahuan tentang manajemen dakwah yang efektif dan efisien membuat dakwah sering hanya bergaung dalam ceramah dan kuliah agama.

Permasalahan yang timbul dari internal umat islam

Adapun masalah yang timbul dari umat islam sendiri adalah kurangnya keinginan untuk mendengarkan kebajikan,ditambah lagi dengan system masyarakat yang seolah-olah membuat masyarakat gengsi untuk mendengarkan ceramah,majelis ta’lim serta ajakan kepada kebaikan.Kurangnya budaya amar ma’ruf nahi munkar,kurangnya niat untuk mengetahui pelajaran agama serta banyaknya penyakit takhayyul,bid’ah an khurafat .

Permasalahan yang muncul dari eksternal umat islam

Pertama,maraknya ghazwul fikri Yang dilakukan oleh beberapa golongan yang notabenenya memang tidak suka melihat laju pertumbuhan dakwah islam.Baik yang menyerang akidah maupun syari’ah,baik yang berhaluan kiri/komunis maupun liberal.Pemahaman Ghazwul fikri tersebut didasari dengan keraguan,sehingga bahkan pada akhirnya membuat seorang muslim meragukan kebenaran islamnya.Pemahaman tersebut juga ada yang didasari dengan paham relativisme yang menganggap bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak antara manusia sehingga pemahaman ini kemudian membawa kepada kebebasan beragama dan keseragaman agama dan ketuhanan.

Kedua, Imperialisme budaya asing peninggalan penjajah yang tidak sejalan dengan budaya islam.Secara fisik para penjajah memang meninggalkan dan membiarkan Indonesia merdeka namun disisi lain mereka mencekoki manusia Indonesia dengan paham sekularisme,liberalism,dan pluralism,yang kemudian mendobrak tatanan budaya timur yang dianut Indonesia.Yang pada akhirnya malah membuat manusia Indonesia tidak bangga lagi memakai budaya timur yang penuh sopan santun dan mulai beralih ke budaya barat yang bebas dan jauh dari nilai kesopanan.Tak heran kalau akhir-akhir ini kasus seks bebas,pemerkosaan,konsumsi narkoba,ketidak sopanan sering menghiasi layar berita di Indonesia.

Ketiga,Gerakan pemurtadan yang gencar dilakukan oleh para misionaris “agama tetangga”

Keempat,Dampak negative dari perkembangan IPTEK yang memberikan celah kepada orang yang tidak senang dengan islam untuk menyerang islam sendiri.Ditambah lagi dengan berkurangnya kesopanan dan etika akibat kesombongan para intelek.



Sesungguhnya Pada dasarnya Konsep dakwah adalah “Hadam Wal Bina’” artinya merubah sesuatu dan menjadikannya kepada yang sebenarnya.Metode dakwah yang digunakan tetap sesuai metode yang digunakan oleh manhaj salafus saleh namun tentunya uslub-uslub dari metode tersebut disesuaikan dengan kondisi dan realita zaman,maka dari itu dituntut dari seorang da’I untuk bersikap proporsional ,intelektual,cerdas serta mengerti,mengetahui,memahami objek dakwahnya,lalu siapa yang dia dakwahi,artinya tetap memakai konsep “Kallim an-nas ‘ala qadri ‘uqulihim “ berdakwah kepada masyarakat sesuai dengan kondisi masyarakat tersebut.Wallahu a’lam Bish-showab

10:09 PM by Zamzami Saleh · 0

HUKUM TRANSPLANTASI DALAM ISLAM


Transplantasi adalah pemindahan organ tubuh dari orang sehat atau dari mayat yang organ tubuhnya mempunyai daya hidup dan sehat kepada tubuh orang lain yang memiliki organ tubuh yang tidak berfungsi lagi, sehingga resipien ( penerima organ tubuh) dapan bertahan hidup secara sehat (M.Ramdan Arifin “Transplantasi Organ Tubuh Dalam Persfektif Islam”; Sinar Muhammadiyah 11-30 Sep 2008;Hal 19).Tujuan dari transplantasi tak lain adalah sebagai pengobatan dari penyakit karena islam sendiri memerintahkan manusia agar setiap penyakit diobati,karena membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian,sedangkan membiarkan diri terjerumus dalam kematian (tanpa ikhtiyar) adalah perbuatan terlarang, sebagai mana firman Allah dalam Al-qur’an Surat An-Nisa’ ayat 29 “Dan jangan lah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu” , maksudnya apabila sakit maka manusia harus berusaha secara optimal untuk mengobatinya sesuai kemampuan,karena setiap penyakit sudah ditentukan obatnya,maka dalam hal ini Transplantasi merupakan salah satu bentuk pengobatan.Namun persoalannya adalah bagaimana hukum mendonorkan organ tubuh untuk transplantasi tersebut ,baik dari yang masih hidup maupun dari organ tubuh manusia yang telah meninggal?

Hukum Mendonorkan organ tubuh dari manusia yang masih hidup

Pendapat pertama,Hukum nya tidak Boleh (Haram).Meskipun pendonoran tersebut untuk keperluan medis (pengobatan) bahkan sekalipun telah sampai dalam kondisi darurat

Dalil pendapat pertama :

Firman Allah swt “dan jangan lah kamu membunuh dirimu sendiri,sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu “ ( Q.S.An-Nisa’:4:29) dan Firman Allah swt “ Dan Jangan lah kamu jatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S.Al-Baqarah:2:195).Maksudnya Adalah bahwa Allah swt melarang manusia untuk membunuh dirinya atau melakukan perbuatan yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan.Sedangkan orang yang mendonorkan salah satu organ tubuhnya secara tidak langsung telah melakukan perbuatan yang membawa kepada kehancuran dan kebinasaan.Padahal manusia tidak disuruh berbuat demikian,manusia hanya disuruh untuk menjaganya (organ tubuhnya) sesuai ayat di atas.

Sesungguhnya perbuatan mengambil salah satu organ tubuh manusia dapat membawa kepada kemudlaratan,sedangkan perbuatan yang membawa kepada kemudlaratan merupakan perbuatan yang terlarang sesuai Hadist nabi Muhammad saw “Tidak boleh melakukan pekerjaan yang membawa kemudlaratan dan tidak boleh ada kemudlaratan”

Manusia tidak memiliki hak atas organ tubuhnya seluruhnya,karena pemilik organ tubuh manusia Adalah Allah swt.

Pendapat kedua,Hukumnya ja’iz (boleh) namun memiliki syarat-syarat tertentu yaitu :

Adanya kerelaan dari si pendonor.Keinginan untuk mendonorkan organ tubuhnya memang muncul dari keinginannya,tanpak ada paksaan.Serta kondisi si pendonor harus sudah baligh dan berakal.

Organ yang didonorkan bukanlah organ vital yang menentukan kelangsungan hidup seperti Jantung,hati,paru-paru dan lain-lain.Hal ini dikarenakan penyumbangan organ-organ vital tersebut dapat menyebabkan kematian bagi si pendonor.Sedangkan sesuatu yang membawa kepada kehancuran atau kematian diri sendiri dilarang oleh agama sesuai firman Allah swt dalam Al-qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 29 “dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri…”

Pengobatan dengan transplantasi merupakan jalan terakhir yang memungkinkan untuk mengobati orang yang menderita penyakit tersebut.

Kemungkinan untuk keberhasilan proses transplantasi lebih besar,artinya secara kebiasaan proses memotong organ sampai dengan proses meletakkannnya pada si penderita penyakit memiliki kemungkinan keberhasilan yang tinggi.Maka tidak boleh melakukan transplantasi oleh yang belum berpengalaman dan dengan cara eksperimen.

Si pendonor tidak boleh menuntut ganti secara finansial kepada si resipien ( yang menerima organ),karena proses pendonoran adalah proses saling tolong – menolong antara manusia,bukan proses jual-beli organ yang hukumnya haram dalam islam.

Dalil pendapat kedua :

Setiap insan,meskipun bukan pemilik tubuhnya secara pribadi,namun memiliki kehendak atas apa saja yang bersangkutan dengan tubuhnya,ditambah lagi bahwa Allah telah memberikan kepada manusia hak untuk mengambil manfa’at dari tubuhnya,selama tidak membawa kepada kehancuran,kebinasaan dan kematian dirinya (Qs.An-Nisa’ 29 dan al-Baqarah 95).oleh karena itu,jika pendonoran organ tubuhnya,atau kulitnya, atau darahnya tidak membawa kepada kematian dirinya serta tidak membawa kepada kehancuran dirinya,ditambah lagi pada waktu bersamaan pendonoran organnya dapat menyelamatkan manusia lainnya dari kekhawatiran akan kematian,maka sesungguhnya perbuatan donor organ tubuhnya merupakan perbuatan yang mulia.

Sesungguhnya memindahkan organ tubuh ketika darurat merupakan pekerjaan yang mubah ( boleh ) dengan dalil firman Allah Swt “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan perbuatan-perbuatan yang haram bagi mu kecuali ketika kamu dalam keadaan terpaksa (darurat)…”(Qs.Al-An’am 119)

Seseorang yang mendonorkan organ tubuhnya kepada orang lain untuk menyelamatkan hidupnya merupakan perbuatan saling tolong – menolong atas kebaikan sesuai firman Allah swt “ Dan saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu saling tolong monolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Qs.Al-ma’idah 2)

Hukum Mendonorkan organ tubuh dari manusia yang sudah meninggal

Pendapat pertama,Hukumnya Haram

Dalil pendapat pertama :

Kesucian tubuh manusia ;setiap bentuk agresi atas tubuh manusia merupakan hal yang terlarang,karena ada beberapa perintah Al-Qur’an dan Hadist Yang melarang.Diantara hadist yang terkenal “Mematahkan tulang mayat seseorang sama berdosanya dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang tersebut ketika ia masih hidup”

Tubuh manusia adalah amanah; Hidup,diri,dan tubuh manusia pada dasarnya bukanlah milik manusia tapi merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga,karena itu manusia tidak memiliki hak untuk mendonorkan nya kepada orang lain

Tubuh manusia tidak boleh diperlakukan sebagai benda material semata; transplantasi dilakukan dengan memotong organ tubuh seseorang untuk diletakkan (dicangkokkan) pada tubuh orang lain,padahal tubuh manusia bukanlah benda material semata yang dapat dipotong dan dipindah-pindahkan

Pendapat kedua,Hukumnya Boleh

Dalil pendapat kedua :

Transplantasi merupakan salah satu jenis pengobatan,sedangkan pengobatan merupakan hal yang disuruh dan disyari’atkan dalam islam

Terdapat dua hal yang mudlarat dalam masalah ini yaitu antar memotong bagian tubuh yang suci dan dijaga dan antara menyelamatkan kehidupan yang membutuhkan kepada organ tubuh mayat tersebut.Namun kemudlaratan yang terbesar adalah kemudlaratan untuk menyelamatkan kehidupan manusia.Maka dipilihlah sesuatu yang kemudlaratannya terbesar untuk dihilangkan yaitu memotong organ mayat untuk menyelamatkan kehidupan manusia.

Qiyas atas maslahat membuka perut mayat wanita yang hamil yang lewat 6 bulan yang disangka kuat hidup anaknya.

Qiyas atas boleh membuka perut mayat jika di dalam perutnya terdapat harta orang lain.

Terdapat dua Hal kemaslahatan yaitu antara maslahah menjaga kesucian mayat dan antara maslahah menyelamatkan nyawa manusia yang sakit dengan transplantasi organ mayat tersebut.

Namun pendapat yang membolehkan transplantasi organ mayat ini memiliki syarat-syarat yaitu :

Ada persetujuan/izin dari pemilik organ asli (atau wasiat ) atau dari ahli warisnya (sesuai tingkatan ahli waris),tanpa paksaan

Si resipien ( yang menerima donor ) telah mengetahui persis segala implikasi pencangkokan

Pencangkokan dilakukan oleh yang ahli dalam ilmu pencangkokan tersebut Tidak boleh menuntut ganti pendonoran organ dengan harta (uang dan sebagainya) Organ tidak diperoleh melalui proses transaksi jual beli karena tidak sah menjual belikan organ tubuh manusia

Seseorang muslim hanya boleh menerima organ dari muslim lainnya kecuali dalam keadaan mendesak (tidak ada muslim yang cocok organnya atau tidak bersedia di dinorkan dengan beberapa alasan).



Beberapa lembaga fatwa islam saat ini lebih dominan berpandangan mendukung bolehnya transplantasi organ tubuh seperti Akademi Fiqh Islam (lembaga dibawah liga islam dunia di Arab Saudi),aKademi fiqh Islam India,dan Darul Ifta’ (Lembagai otonom seperti MUI di Mesir Yang diketuai Syaikh dari Universitas Al-Azhar.Namun tentunya mesti diingat bahwa proses transplantasi harus melewati syarat-syarat diatas.Wallahu A’lam Bish-Shawab (Dikutip dari Muqarar Qadlaya Fiqhiyah Mu’asarah bagi tahun 1 Universitas Al-Azhar ; tulisan oleh DR.Muhammad Abdul Rahman Al-Dluwaini Dosen Fak.Syari’ah wal Qanun Universitas Al-azhar,Kairo,Mesir)

9:55 PM by Zamzami Saleh · 0

Saturday, June 13, 2009

Harapan Pelajar Untuk Presiden



Oleh : ZAKARIA


…engkau sarjana muda resah mencari kerja

mengandalkan ijazahmu,

empat tahun lamanya bergelut dengan buku

‘tuk jaminan masa depan…

(“Sarjana Muda” Iwan Fals)


Menjadi seorang sarjana bukan menjadi jaminan akan mudah mendapat suatu pekerjaan perlu pengorbanan yang besar dan harus sabar menunggu datangnya panggilan untuk bisa bekerja. Seperti lagu “Sarjana Muda” ciptaan Iwa Fals yang dirilis 20 tahun yang lalu, dan lagu itu masih sangat relevan dengan nasib para sarjana hari ini.

Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), menyebutkan bahwa jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukan kecenderungan terus menaik. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada kalangan sarjana (lulusan S-1) tetapi juga pada lulusan Diploma yang ditekankan pada ilmu praktik. Pada tahun 2006 saja jumlah sarjana yang tak bekerja mencapai 771.155 orang dan terus meningkat hingga mencapai 1, 2 juta orang pada tahun 2008, sedangkan untuk lulusan Diploma yang tidak bekerja walaupun tidak sebanyak lulusan sarjana, pada tahun 2006 mencapai 631.358 orang sedangkan pada tahun 2008 mencapai angka 882.550 orang, tetapi angka yang lebih besar lagi akan kita dapatkan ketika kita menghitung jumlah pelajar yang lulus Sekolah Menengah Atas, Kejuruan atau Madrasyah Aliyah yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan belum bekerja.

Sumbangsih pengangguran yang berpendidikan tinggi, tak urung menaikkan jumlah pengangguran di Indonesia, apalagi dengan adanya krisis ekonomi global yang melanda Indonesia, jumlah penganguran meningkat cukup tajam pada tahun 2009. Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran akan mencapai 9,5%, angka tersebut jauh di atas target pemerintah, yaitu 7–8%. Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran 5,1%.

Dilema tidak memiliki pekerjaan atau menjadi pengangguran bagi kalangan pelajar dan sarjana merupakan suatu ketakutan yang sangat besar, apalagi ketika warga negara asing masuk ke Indonesia dan bisa bekerja disini dengan kemampuan dan kepintaran yang dianggap melebihi anak bangsa, maka anak bangsa ini hanya akan menjadi jongos atau babu di bangsanya sendiri.

Ketakutan menjadi pengangguran atau tidak mendapat pekerjaan belum akan dipikirkan oleh para pelajar yang hari ini masih mengeyam pendidikan di bangku sekolah atau di kampus, tetapi yang lebih menakutkan bagi pelajar hari ini adalah kebijakkan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) yang hari ini masih diterapkan walaupun banyak orang yang menyerukan untuk dicabut.

Tidak hanya itu saja ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar hari ini, mereka pun takut untuk bersekolah karena mereka takut orang tua mereka tidak memiliki cukup uang untuk membiayai sekolah mereka, kalaupun mampu maka mereka hanya akan bersekolah dengan pas-pasan, kenapa pas-pasan? Karena sekolah mereka bangunannya pada rusak, ada yang sudah hampir roboh, fasilitas sekolah mereka minim, tidak ada perpustakaan yang baik, tidak ada laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penelitian. Sehingga wajar saja kalau kualitas pendidikan yang mereka peroleh tidak maksimal.

Semua ketakutan yang ada seharusnya menjadi tanggung jawab pemimpin bangsa yang telah dipilih secara langsung oleh rakyat untuk memimpin mereka, seharusnya para pemimpin bangsa ini dapat memberikan solusi akan ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar dan juga lulusannya, baik masalah itu masalah pekerjaan dengan menyediakan lapangan pekerjaan ataupun memberikan fasilitas pendidikan yang memadai dengan biaya yang terjangkau oleh rakyat Indonesia serta membuat kebijakkan yang sesuai dengan kemampuan anak bangsa.

Tetapi kenyataannya para pemimpin bangsa belum melakukan hal ini, hanya klaim-klaim keberhasilan saja yang mereka sampaikan walaupun tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

Harapan Pada Presiden ke Depan

8 Juli 2009 merupakan tanggal yang sangat menentukan bagi rakyat Indonesia 5 tahun kedepan, tanggal tersebut merupakan tanggal pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kalau rakyat salah memilih maka akan menderita selama 5 tahun, tetapi kalau pilihannya tepat maka akan ada harapan untuk merasakan kehidupan yang lebih baik.

Pelajar sebagai pemilih pemula, yang jumlahnya hampir 30 % dari semua rakyat yang berhak memilih harus dapat memilih para calon Presiden dan Wakil Presiden yang benar-benar dapat memberikan kebaikan dan kemudahan bagi diri mereka pada khusunya dan pada rakyat Indonesia secara keseluruhan pada umumnya.

Untuk mengetahui calon Presiden dan Wakil Presiden itu baik adalah dengan melihat program atau kebijakan yang telah mereka buat dan lakukan selama mereka menjadi pejabat negara atau pemimpin bangsa ini, karena para calon Presiden yang akan kita pilih nanti adalah mereka yang pernah memimpin bangsa ini, ada yang telah menjadi Presiden dan ada yang telah menjadi Wakil Presiden.

Apakah kebijakan yang mereka lakukan selama ini telah benar-benar berpihak kepada pelajar atau malahan kebijakan yang mereka buat menimbulkan kesengsaraan dan kesulitan?

Setelah kita melihat kebijakan yang telah mereka buat maka kita juga melihat kebijakan-kebijakan atau program-program yang akan mereka lakukan ketika mereka nanti terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, apakah ada kebijakan baru yang merubah atau menyempurnakan kebijakan yang lama ataukah tidak ada sama sekali kebijakan yang baru, walaupun ada itu hanyalah retorika politik saja dan tidak mungkin untuk dapat direalisasikan?

Setelah melihat kebijakan mereka, baik yang telah dilakukan atau yang akan mereka lakukan ketika menjadi Presiden nanti, maka kita juga harus menyatakan harapan kita kepada mereka, yang kita harapan dapat mereka tepati ketika mereka terpilih menjadi Presiden nantinya. Harapan kita minimal adalah adanya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih berpihak kepada pelajar serta tersedianya fasilitas pendidikan yang mencukupi dengan biaya pendidikan yang terjangkau hingga perguruan tinggi serta ketika kita menamatkan sekolah baik di tingkat atas maupun perguruan tinggi akan tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.

Siapa pun Presiden yang terpilih nantinya maka perbaikan sistem pendidikan haruslah menjadi agenda utama karena perbaikan bangsa ini akan dapat dilakukan dengan cepat apabila sistem pendidikannya baik.

(Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2008 - 2010)

7:07 PM by Zamzami Saleh · 0

Friday, June 12, 2009

Untitled



Kemaren sempat diskusi dengan beberapa teman2 anak ushuluddin...sampat pada tahap pembahasan bagaimana kondisi real dakwah Di Indonesia...Intinya secara fisik pertumbuhan dakwah sangat menggembirakan , terlihat dengan menjamurnya organisasi2 serta Banyaknya lembaga dakwah kampus yang bermunculan di setiap sekolah tinggi maupun universitas...sayangnya ada beberapa hal yang menarik bagi ana melihat kondisi ini...

Pertama,dakwah bukan hanya amar ma'ruf nahi munkar.Sering kita lihat saat sekarang ini bagaimana orang menafsirkan dan mengamalkan hadist "ballighu 'anni wa lau ayah" sampaikanlah dari ku walaupun satu ayat dengan cara menyampaikan sebuah amalan/ajaran islam tanpa mengetahui sebab , cara , serta metode ijtihad amalan tersebut...wal hasil umat pun sering dipusingkan dengan berbagai macam ajaran yang menurut mereka berbeda dengan yang lain...Hal ini disebabkan rendahnya kualitas ilmu si da'i tentang ilmu keislaman walaupun kuat secara pengamalan.Sedangkan Amar ma'ruf nahi munkar wajib dikerjakan oleh seluruh umat namun memiliki batasan yaitu tidak sampai menjarah hal2 yang spesifik dalam islam

Kedua,Seringkali dakwah malah di rusak oleh hal2 lain yang menyertainya...seperti dakwah untuk kepentingan suatu organisasi,dan kalau yang paling nyata terlihat sekarang adalah bagaimana dakwah malah dicampuri dengan intrik2 politik yang seharusnya tidak boleh digabungkan.karena dakwah adalah lahan suci sedangkan politik adalah lahan yang banyak nodanya

Ketiga,Bagaimana dakwah hari ini monoton sehingga banyak membosankan umat...para da'i seakan2 stag dalam mencari cara untuk mendakwahi umat...sehingga seringkali da'i terjebak dalam paham bahwa dakwah adalah khutbah...dakwah adalah ceramah...dakwah adalah ta'lim dan sebagainya.Sehingga umat yang sering mengikuti kegiatan2 seperti ini mati kebosanan...kalaupun mereka mendengar itu pun hanya sepintas bahwa "da'i nya lucu".

Keempat,Adanya perebutan Lahan dakwah antara organisasi ataupun lembaga dakwah tertentu yang sering mengklaim bahwa itu adalah area dakwahnya...Tak heran kalo saat ini ada beberapa lembaga/organisasi dakwah saling menjatuhkan satu sama lain dan mengklaim bahwa apa yang di kerjakan dan di dakwahkannya adalah benar.

Berdakwah bukan hal gampang...berbeda dengan amal ma'ruf nahi munkar...para pen da'i memang betul2 umat yang memiliki spesifikasi tertentu...sehingga apa yang disampaikannya memang betul2 kualitas seorang da'i.Apa yang terjadi hari ini adalah kebanyakan da'i tidak memiliki ilmu yang cukup (insya Allah tulisan tentang problematikan dakwah hari ini menyusul).

Terakhir,ana mengutip beberapa sifat yang mesti dimiliki oleh seorang da'i dari muqorornya anak ushuluddin...

Sifat- sifat da'i :

Paham seluruh ajaran-ajaran dan urusan-urusan agama islam sehingga mampu menjawab setiap pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Mampu menjadi Teladan bagi orang yang didakwahinya. Beriman dengan akidah yang shahih,bersifat siddiq , amanah , berakhlak mulia. Mengetahui dan memahami seluruh kondisi,situasi,psikologi orang yang didakwahinya seperti; sikap,sifat,kebiasaan,kondisi lingkungan,tingkat intelektual,pendidikan,pekerjaan,dan lain-lain yang berhubungan dengan orang yang didakwahinya.Sehingga da'I bisa menemukan metode,dan teknik yang cocok untuk berdakwah kepada orang yang didakwahinya. Ikhlas Sabar Selalu menambah keilmuannya Tawadlu' dan rendah hati Tidak mempersulit yang didakwahinya,cenderung mempermudah.

Keilmuan yang harus dimiliki da'i:

Al-Qur'an Hafal Al-qur'an,lancar bacaan Ilmu tajwid Paham dengan uslub,balaghah,ibarat dan makna lafaz serta ketentuan al-qur'an Paham dengan segala makna hakekat al-qur'an,hidayah,himah,dan mauidzoh yang terkandung dalam alqur'an Sunnah Nubuwwah Ilmu fiqh dan ushul fiqh Ilmu bahasa arab dan ilmu alat (Nahwu,Shorof,Balaghah) Ilmu tentang peradaban (sosiologi),ilmu sejarah,ilmu geografi (terutama geografi daerah tempat berdakwah) Segala pengetahuan tentang kondisi,dan situasi masyarakat tempat berdakwah Ilmu akhlak dan tasauf Ilmu psikologi Ilmu Mantiq Memahami Fiqh dakwah dan fiqh waqi'

Tulisan ini bukan berarti ana mempersempit ruang dakwah islam di indonesia namun lebih berupaya agar seorang da'i ataupun calon da'i lebih memperhatikan aspek ini terutama sifat dan keilmuannya.Semoga usaha kita bersama diredloi Allah Swt.Aminnn

6:42 PM by Zamzami Saleh · 0

Wednesday, June 10, 2009

Hukum Shalat Tarawih



Shalat tarawih merupakan ibadah yang hanya dikerjakan pada bulan ramadhan.Hukumnya adalah sunnah Mu'akkad,artinya perbuatan yang sangat dianjurkan sekali untuk dikerjakan dalam bulan puasa baik bagi laki-laki mauun perempuan.Apalagi kalau dikerjakan berjama'ah.Shalat tarawih sendiri mulai disyari'atkan di akhir hayat nabi saw.Dinamai dengan shalat tarawih karena disunnahkan untuk beristirahat setiap kali mengerjakan 4 rakaat.Para imam mazhab yang empat sepakat bahwa shalat tarawih dikerjakan sesudah isya.Waktu mengerjakan shalat tarawih sendiri dimulai dari waktu isya sampai terbit fajar dan sunnah diikuti shalat witir sesudahnya.Dalil disyari'atkannya shalat tarawih ada beberapa hadist namun yang masyhur adalah Hadist Riwayat Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah RA "Barang siapa yang Mengerjakan Qiyamul lail Pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diamuni dosanya yang telah berlalu" (Para Ahli Ilmu sepakat bahwa Qiyamul lail disini adalah shalat tarawih). 

Namun di saat sekarang ini terutama di Indonesia terjadi ikhtilaf tentang jumlah rakaat tarawih serta cara pengerjaannya.Ada yang 8 raka'at dengan 2 rakaat 1 salam,ada yang 8 rakaat dengan 4 rakaat 1 salam,dan ada yang 20 rakaat dengan 2 rakaat 1 salam.Sebab ikhtilaf tersebut adalah karena beberapa hadist yang menjelaskan tentang shalat tarawih tidak menjelaskan berapa jumlah rakaatnya secara terperinci.Untuk lebih jelasnya,ikhtilaf tersebut akan diperinci sebagai berikut: 1. Ikhtilaf tentang Jumlah rakaat Tarawih 2. Ikhtilaf tentang Mengerjakan shalat tarawih dengan 2 rakaat 1 salam atau 4 rakaat 1 salam atau seluruh rakaat 1 salam.

Masalah Pertama tentang Jumlah rakaat tarawih

Pendapat pertama,Mengatakan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 11 rakaat,3 rakaat diantaranya adalah shalat witir.Ini adalah perkataan Al-Kamal Bin Al-Himam Al-Hanafi,riwayat dari imam malik,serta Pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah.

Dalilnya : Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA. َما كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَــــانَ وَلاَ فِى غَــيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً ، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْــاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَــلِّى ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَـــــنَامُ قَلْبِى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

"Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, "Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?" Beliau bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur."

Pada Hadist ini jelas dikatakan bahwa nabi mengerjakan Shalat tersebut dengan jumlah 11 rakaat dengan 8 tarawih dan 3 rakaat witir Namun hadits ini kemudian ditentang oleh kebanyakan para fuqaha' sebagai dalil shalat tarawih karena beberapa alasan :

1. Amalan dengan hadist ini telah di mansukhkan (tidak berlaku lagi hukumnya) dengan amalan yang dikerjakan Umar Bin Khatab yaitu 20 rakaat.Amalan umar bin khatab ini bukan bid'ah karena ada hadist nabi :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ

"Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafa ar-Rasyidun yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud dan hadist nabi : 

اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ

"Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar". HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.

2. Hadist diatas tidak menunjukkan amalan Shalat tarawih karena nabi mengatakan " Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat " artinya shalat yang dikerjakan nabi saw malam itu bukan salat tarawih mengingat tarawih adalah ibadah yang khusus dikerjakan pada bulan ramadhan .Sedangkan nabi saw pada malam itu mengerjakan shalat yang ada pada bulan ramadhan dan diluar ramadhan.

3. Sebahagian para Ahli Hadist berpendapat bahwa hadist aisyah ra ini Mudtarib (dla'if) karena ada perbedaan lafaz pada setiap riwayat.

Pendapat kedua,Mengatakan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 20 rakaat dengan diikuti 3 rakaat shalat witir.Ini adalah pendapat mazhab Hanafiah , Salah satu pendapat yang masyhur dari imam Malik, serta pendapat mazhab Syafi'iyah dan Hanabilah.

Dalil mereka

1. Imam Malik dalam kitab "Al-Muwaththa" meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya, "Orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan salat dengan 23 rakaat. Imam al-Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga rakaat. Para ulama telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijmak.

2. Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubay dan Tamim ad-Daari melakukan salat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 rakaat. Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang sahih, bahwa mereka melakukan salat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 rakaat, dan menurut satu riwayat 23 rakaat. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijmak. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami dengan 20 rakaat dan salat witir dengan tiga rakaat.

Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau menjelaskan, "Salat tarawih adalah sunnah muakkadah. Umar ra. tidak menentukan bilangan 20 rakaat tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid'ah. Beliau tidak memerintahkan salat 20 rakaat, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah saw."

Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal salat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab, sehingga Ubay bin Ka'ab melakukan salat tarawih secara berjamaah, sedangkan para sahabat mengikutinya. Di antara para sahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat Usman bin 'Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, 'Abbas dan puteranya, Thalhah, az-Zubayr, Mu'adz, Ubay dan para sahabat Muhajirin dan sahabat Ansor lainnya ra. Pada waktu itu tak seorangpun dari para sahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. bersabda:

أَصْحَابِى كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ.

"Para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan siapa saja dari mereka kamu ikuti, maka kamu akan mendapatkan petunjuk". Namun ada juga yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad dahulunya shalat tarawih dengan 20 rakaat dengan dalil : Perkataan Imam Bukhari dan Muslim dalam meriwayatkan hadits sebagai berikut:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا ، وَكَانَ يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ أَيْ بِأَرْبَعِ تَسْلِيْمَاتٍ كَمَا سَيَأْتِى وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيَهَا فِى بُيُوْتِــــهِمْ أَيْ حَتَّى تَتِــــمَّ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً لِمَا يَأْتِى ، فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ النَّحْلِ .

"Nabi saw. keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah".

Pendapat ketiga,Mengatakan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 36 rakaat dengan diikuti 3 rakaat shalat witir.Ini adalah pendapat pendapat kedua yang masyhur dari imam Malik.dan amalan mazhab Syafi'iyah di madinah. Dalilnya : Bahwa shalat 36 rakaat tersebut adalah amalan ahli madinah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. bahkan menambah jumlah rakaatnya menjadi 36 (tiga puluh enam) rakaat. Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah yang setiap kali selesai melakukan salat empat rakaat, mereka melakukan thawaf. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan salat empat rakaat sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran berimbang.

Masalah kedua tentang hukum mengerjakan shalat tarawih dalam 2 rakaat 1 salam atau 4 rakaat 1 salam atau seluruh rakaat 1 salam

Hukum 2 rakaat 1 salam

Kesepakatan seluruh imam mazhab bahwa tarawih (sama seperti shalat malam lainnya) dikerjakan dengan 2 rakaat 1 salam

Dalilnya : Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim  صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَاَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ .

"Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat". Dalam hadits lain yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَ يُوْتِرُ بِرَكْعَةٍ .

"Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat".

Hukum 4 rakaat 1 salam atau seluruh rakaat 1 salam

1. Pendapat Imam Abu Hanifah,Abu Yusuf dan Mazhab Malikiyah : Sah shalat tarawih dikerjakan dengan 4 rakaat 1 salam namun beserta makruh

2. Pendapat Imam Asy-syaibani,Mazhab syafi'iyah dan Hanabilah : Batal shalat Tarawih jika disengaja meninggalkan 2 rakaat 1 salam ,karena 4 rakaat 1 salam atau mengerjakan seluruhnya dalam 1 salam menyalahi sunnah

4:27 PM by Zamzami Saleh · 0

Monday, June 8, 2009

Pengantar Ilmu Ushul Fiqh


A. Ta’rif dan Obyek Pembahasan Ushul Fiqh
kata ushul fiqh adalah kata ganda yang berasal dari kata “ushul” dan “fiqh” yang secara etimologi mempunyai arti “faham yang mendalam”. Sedangkan ushul fiqh dalam definisinya secara termologi adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalinya yang terperinci. Adapun definisi ini dikemukakan oleh Amir Syarifudin. Dan Berikut merupakan definisi-definisi ushul fiqh menurut ulama ushul yang lain:

Abdul Wahab Khalaf memberikan definisi bahwa ushul fiqh adalah pengetahuan tentang kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Al-Ghazali mena’rifkan ushul fiqh sebagai ilmu yang membahas tentang dalil-dalil hukum syara’ dan bentuk-bentuk penunjukan dalil terhadap hukum syara’. As-Syaukani mendefinisikan ushul fiqh sebagai ilmu untuk mengetahui kaidah-kaidah, yang mana kaidah tersebut bisa digunakan untuk mengeluarkan hukum syara’ berupa hukum cabang (furu’) dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Ulama Syafi’iy mendefinisikan ushul fiqh sebagai berkut: “Mengetahui dalil-dalil fiqh secara global dan cara menggunakannya, serta mengetahui keadaan orang yang menggunakannya.“
Definisi ini mengambarkan bahwa obyek pembahasan ushul fiqh adalah dalil syara’ yang bersifat umum ditinjau dari ketepatannya terhadap hukum syara’ yang bersifat umum pula. Atau secara praktis obyek pembahasan ushul fiqh adalah dalil-dalil syara’ dari segi penunjukannya kepada hukum atas perbuatan orang mukallaf. Ushul fiqh juga membahas bagaimana cara mengistinbatkan hukum dari dalil-dalil, seperti kaidah mendahulukan hadis mutawatir dari hadis ahad dan mendahulukan nash dari dhahir. Dalam pembahasan tentang sumber hukum, dibahas pula tentang kemungkinan terjadinya kontradiksi antara dalil-dalil dan cara penyelesaiannya. Dan dibahas pula tentang orang-orang yang berhak dan berwenang dalam melahirkan hukum syara’.

B. Tujuan Ushul Fiqh

Setelah mengetahui definisi ushul fiqh beserta pembahasannya, maka sangatlah penting untuk mengetahui tujuan dan kegunaan ushul fiqh. Tujuan yang ingin dicapai dari ushul fiqh yaitu untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dali syara’ yang terperinci agar sampai pada hukum-hukum syara’ yang bersifat amali. Dengan ushul fiqh pula dapat dikeluarkan suatu hukum yang tidak memiliki aturan yang jelas atau bahkan tidak memiliki nash dengan cara qiyas, istihsan, istishhab dan berbagai metode pengambilan hukum yang lain. Selain itu dapat juga dijadikan sebagai pertimbangan tentang sebab terjadinya perbedaan madzhab diantara para Imam mujathid. Karena tidak mungkin kita hanya memahami tentang suatu hukum dari satu sudut pandang saja kecuali dengan mengetahui dalil hukum dan cara penjabaran hukum dari dalilnya. Para ulama terdahulu telah berhasil merumuskan hukum syara’ dengan menggunakan metode-metode yang sudah ada dan terjabar secara terperinci dalam kitab-kitab fiqh. Kemudian apa kegunaan ilmu ushul fiqh bagi masyarakat yang datang kemudian?. Dalam hal ini ada dua maksud kegunaan, yaitu:

Pertama, apabila sudah mengetahui metode-metode ushul fiqh yang dirumuskan oleh ulama terdahulu, dan ternyata suatu ketika terdapat masalah-masalah baru yang tidak ditemukan dalam kitab terdahulu, maka dapat dicari jawaban hukum terhadap masalah baru itu dengan cara menerapkan kaidah-kaidah hasil rumusan ulama terdahulu.

Kedua, apabila menghadapi masalah hukum fiqh yang terurai dalam kitab fiqh, akan tetapi mengalami kesulitan dalam penerapannya karena ada perubahan yang terjadi dan ingin merumuskan hukum sesuai dengan tuntutan keadaan yang terjadi, maka usaha yang harus ditempuh adalah merumuskan kaidah yang baru yang memungkinkan timbulnya rumusan baru dalam fiqh. Kemudian untuk merumuskan kaidah baru tersebut haruslah diketahui secara baik cara-cara dan usaha ulama terdahulu dalam merumuskan kaidahnya yang semuanya dibahas dalam ilmu ushul fiqh

C. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ushul Fiqh

Ushul fiqh merupakan komponen utama dalam menghasilkan produk fiqh, karena ushul fiqh adalah ketentuan atau kaedah yang harus digunakan oleh para mujtahid dalam menghasilkan fiqh. Namun dalam penyusunannya ilmu fiqh dilakukan lebih dahulu dari pada ilmu ushul fiqh.

Secara embrional ushul fiqh telah ada bahkan ketika Rasulullah masih hidup, hal ini didasari dengan hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bertanya kepada Muadz bin Jabal ketika diutus untuk menjadi gubernur di Yaman tentang apa yang akan dilakukan apabila dia harus menetapkan hukum sedangkan dia tidak menemukan hukumnya dalam al-Qur’an maupun as-Sunah, kemudian Muadz bin Jabal menjawab dalam pertanyaan terakhir ini bahwa dia akan menetapkan hukum melalui ijtihadnya, dan ternyata jawaban Muadz tersebut mendapat pengakuan dari Rasulullah. Dari cerita singkat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pada masanya telah mempersiapkan para sahabat agar mempunyai alternatif cara pengambilan hukum apabila mereka tidak menemukannya dalam al-Qur’an maupun as-Sunah. Namun pada masa ini belum sampai kepada perumusan dan prakteknya, karena apabila para sahabat tidak menemukan hukum dalam al-Qur’an mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah.

Perumusan fiqh sebenarnya sudah dimulai langsung setelah nabi wafat, yaitu pada periode sahabat. Pemikiran ushul fiqh pun telah ada pada waktu perumusan fiqh tersebut. Diantaranya adalah Umar bin Khatab, Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib yang sebenarnya sudah menggunakan aturan dan pedoman dalam merumuskan hukum meskipun belum dirumuskan secara jelas.

Sebagai contoh, sewaktu sahabat Ali menetapkan hukum cambuk sebanyak 80 kali terhadap peminum khomr, beliau berkata “Bila ia minum ia akan mabuk, dan bila ia mabuk ia akan menuduh orang berbuat zina. Maka kepadanya dikenakan sanksi tuduhan berzina.” Dari pernyataan Ali tersebut, ternyata sudah menggunakan kaidah ushul, yaitu menutup pintu kejahatan yang akan timbul atau “sad al-Dzariah”. Contoh lain yaitu Abdullah ibnu Mas’ud yang menetapkan hukum berkaitan dengan masalah iddah, beliau menetapkan fatwanya dengan mengunakan metode nasakh-mansukh, yaitu bahwa dalil yang datang kemudian, menghapus dalil yang datang lebih dahulu. Dari dua contoh tersebut setidaknya sudah mampu memberi gambaran kepada kita bahwa para sahabat dalam melakukan ijtihadnya telah menerapkan kaidah atau metode tertentu, hanya saja kaidah tersebut belum dirumuskan secara jelas.

Pada periode tabi’in lapangan istinbat hukum semakin meluas dikarenakan banyaknya peristiwa hukum yang bermunculan. Dalam masa itu beberapa ulama tabi’in tampil sebagai pemberi fatwa hukum terhadap kejadian yang muncul, seperti Sa’id ibn Musayyab di Madinah dan Ibrahim al-Nakha’i di Iraq. Masing-masing ulama menggunakan metode-metode tertentu seperti mashlahat atau qiyas dalam mengistinbatkan hukum yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Berkaitan dengan hal di atas, pada periode ulama, metode-metode untuk mengistinbat hukum mengalami perkembangan pesat diiringi dengan munculnya beberapa ulama ushul fiqh ternama seperti Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Berangkat dari keragaman metode dalam mengistinbatkan hukum inilah yang menyebabkan perbedaan aliran fiqh dalam beberapa madzhab tersebut.

Abu Hanifah menetapkan al-Qur’an sebagai sumber pokok, setelah itu hadits Nabi, baru kemudian fatwa sahabat. Dan metodenya dalam menerapkan qiyas serta istihsan sangat kental sekali.

Sedangkan Imam Malik lebih cenderung menggunakan metode yang sesuai dengan tradisi yang ada di Madinah. Beliau termasuk Imam yang paling banyak menggunakan hadits dari pada Abu Hanifah, hal ini mungkin dikarenakan banyaknya hadits yang beliau temukan. Disamping itu Imam Malik juga menggunakan qiyas dan juga maslahat mursalah, yang mana metode terakhir ini jarang dipakai oleh jumhur ulama.

Selain dua Imam diatas, tampil juga Imam Syafi’i. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki wawasan yang sangat luas, didukung dengan pengalamannya yang pernah menimba ilmu dari berbagai ahli fiqh ternama. Hal ini menjadikan beliau mampu meletakkan pedoman dan neraca berfikir yang menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh mujtahid dalam merumuskan hukum dari dalilnya. Kemudian beliau menuangkan kaidah-kaidah ushul fiqh yang disertai dengan pembahasannya secara sistematis yang didukung dengan keterangan dan metode penelitian ke dalam sebuah kitab yang terkenal dengan nama “Risala“. Risala ini tidak hanya dianggap sebagai karya pertama yang membahas metodologi ushul fiqh, akan tetapi juga sebagai model bagi ahli-ahli fiqh dan para teoretisi yang datang kemudian untuk berusaha mengikutinya. Atas jasanya ini beliau dinilai pantas disebut sebagai orang yang pertama kali menyusun metode berfikir tentang hukum Islam, yang selanjutnya populer dengan sebutan “ushul fiqh“. Bahkan ada salah seorang orientalis yang bernama N.J Coulson menjuluki Imam Syafi’i sebagai arsitek ilmu fiqh. Namun yang perlu digarisbawahi, bahwa bukan berarti beliaulah yang merintis dan mengembangkan ilmu tersebut, karena jauh sebelumnya seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa mulai dari para sahabat, tabi’in bahkan dikalangan para Imam mujtahid sudah menemukan dan mengunakan metodologi dalam perumusan fiqh, hanya saja mereka belum sampai menyusun keilmuan ini secara sistematis, sehingga belum dapat dikatakan sebagai suatu khazanah ilmu yang berdiri sendiri.

Sepeninggal Imam Syafi’i pembicaraan tentang ushul fiqh semakin menarik dan berkembang. Pada dasarnya ulama pengikut Imam mujtahid yang datang kemudian, mengikuti dasar-dasar yang sudah disusun Imam Syafi’i, namun dalam pengembangannya terlihat adanya perbedaan arah yang akhirnya menyebabkan perbedaan dalam usul fiqh. Sebagian ulama yang kebanyakan pengikut madzhab Syafi’i mencoba mengembangkan ushul fiqh dengan beberapa cara, antara lain: mensyarahkan, memperrinci dan menyabangkan pokok pemikiran Imam Syafi’i, sehingga ushul fiqh Syafi’iyyah menemukan bentuknya yang sempurna. Sedangkan sebagian ulama yang lain mengambil sebagian dari pokok-pokok Imam Syafi’i, dan tidak mengikuti bagian lain yang bersifat rincian. Namun sebagian lain itu mereka tambahkan hal-hal yang sudah dasar dari pemikiran para Imam yang mereka ikuti, seperti ulama Hanafiyah yang menambah pemikiran Syafi’i.

Setelah meninggalnya Imam-imam mujtahid yang empat, maka kegiatan ijtihad dinyatakan berhenti. Namun sebenarnya yang berhenti adalah ijtihad muthlaq. Sedangkan ijtihad terhadap suatu madzhab tertentu masih tetap berlangsung, yang masing-masing mengarah kepada menguatnya ushul fiqh yang dirintis oleh Imam-imam pendahulunya.

D. Aliran-aliran dalam Ushul Fiqh dan Kitab-kitabnya

a. Aliran Mutakallimin

Penamaan Ulama Mutakallimim atau ulama kalam tersebut dalam hal ini karena para ulama kalam ini mengikutsertakan paham-paham teologi mereka di dalam penyusunan ilmu ushul fiqh. Keistimewaan ulama ini dalam menyusun ilmu ushul fiqh adalah pembuktian terhadap kaidah-kaidah dan pembahasannya yang dilakukan secara logis dan rasional dengan didukung oleh bukti-bukti yang autentik.

Mereka tidak hanya mengarahkan perhatiannya pada penerapan hukum yang telah ditetapkan oleh para imam mujtahid dan hubungan kaidah khilafiyah saja, melainkan semua hal yang rasional dengan didukung oleh bukti-bukti yang menjadi sumber hukum syara’. Kebanyakan ulama yang ahli dalam aliran ini adalah dari golongan Syafi’iyah dan Malikiyah.

Sedangkan kitab-kitab ushul fiqh yang terkenal dalam aliran ini diantaranya: 1. Al-Mustashfa karangan Abu Hamid al-Ghazali al-Syafi’i (wafat 505 H) 2. Al-Ahkam karangan Abu Hasan al-Amidi al-Syafi’i (wafat 631 H) 3. Al-Minhaj karangan al-Baidhawi al-Syafi’i (wafat 685 H). Sedangkan kitab yang berisi penjelasan dan komentar yang terbaik adalah kitab Syarah al-Asnawi.[11] 4. Al-Mu’tamad karangan Abu Hasan al-Bashri yang dalam aliran kalam ber-aliran Mu’tazilah 5. Al-Burhan karangan Imam Haramain

b. Aliran Hanafiyah

Ulama fuqaha yang paling banyak menggunakan metode ini adalah ulama kelompok Hanafiyah, karena itu metode ushul fiqh yang digunakan dalam aliran ini disebut aliran Hanafiyah.

Para ulama di dalam aliran ini menetapkan kaidah-kaidah dan pembahasan ushul fiqh dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah digunakan oleh imam mereka, dengan tujuan untuk melestarikan atau membumikan karya-karya imam mereka. Oleh karena itu dalam kitab-kitab mereka banyak menyebutkan masalah-masalah khilafiyah. Perhatian mereka hanya tertuju pada penjabaran ushul fiqh imam-imam mereka terhadap masalah khilafiyah mereka sendiri. Namun kadangkala mereka juga memperhatikan kaidah-kaidah ushul fiqh dalam perkara-perkara yang sudah disepakati. Adapun kitab-kitab yang terkenal di dalam aliran ini antara lain:

1. Kitab Ushul karangan al-Karahki 2. Kitab al-Ushul karangan Abu Bakar al-Razi 3. Kitab Ta’sis al-Nadzar karangan al-Dabbusi 4. Al-Manar karangan al-Hafidz al-Nasafi (wafat 790 H). Sedangkan kitab yang berisi pembahasan dan komentar yang terbaik adalah kitab Misykatul Anwar.

c. Aliran Pembaharu

Ada sebagian ulama lain yang menyusun ilmu ushul fiqh dengan menggabungkan antara dua metode di atas. Maksudnya mereka mencoba memberikan bukti kaidah-kaidah ushul fiqh yang sekaligus membeberkan dalil-dalilnya dan menerapkan kaidah-kaidah itu terhadap masalah-masalah khilafiyah.

Kitab-kitab ushul fiqh yang merupakan gabungan dari kedua metode di atas antara lain adalah: 1. Kitab Badi’un Nidham karangan Muzhaffaruddin al-Baghdadi al-Hanafi (wafat tahun 694 H). Kitab ini merupakan gabungan dari kitab karangan bazdawi dengan kitab al-Ahkam. 2. Kitab al-Taudhih li shadris Syari’ah dan kitab al-Tharir karangan Kamal bin Hamam 3. Kitab Jam’ul Jawami’ karangan Ibnus Subuki, beliau merupakan ulama dari madzhab syafi’i.

7:27 PM by Zamzami Saleh · 0

Sunday, June 7, 2009

Sejarah dan Perubahan Sosial Dalam Pandangan Ibnu Khaldun


Dalam buku The Origin and Development of Muslim Historiography,karangan M.G Rasul,dikutip pendapat seorang intelektual Barat,Rogert Flint yang mengatakan,Thomas Hobbes,John Locke,dan Rousseau bukanlah tandingan Ibn Khaldun.Bahkan ,lanjutnya,nama-nama ini tidak layak disebut bersama namanya.Montgomery Watt mengungkapkan kesannya terhadap Khaldun,bahwa karyanya dalam bidang sosiologi merupakan kelanjutan dari pemikiran Ibn Rusyd tentang fungsi agama dan negara.Seakan-akan menambah luas posisi Ibn Khaldun di bidang ilmu pengetahuan sosial dan agama,Bernard Lewis - seorang Orientalis Yahudi – menempat Ibnu Khaldun tidak saja sebagai sejarawan Arab terbesar,bahkan sebagai pemikir sejarah terbesar pada abad-abad pertengahan.

Ibn khaldun lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332 ( 1 Ramadhan 732 ) dengan nama lengkap Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi bakar Muhammad Bin Al-Hasan.Keluarganya berasal dari Hadramaut (sekarang wilayah Yaman) dan silsilahnya sampai kepada seorang sahabat Nabi Muhammad saw bernama Wail bin Hujr dari kabilah Kindah.Sewaktu kecil,Ibn Khaldun telah menghapal al-Qur’an dan mempelajari tajwid yang diajarkan oleh ayahnya sendiri.Beliau juga mempelajari ilmu-ilmu lain seperti ; Tafsir,Hadist,Ushul fiqh, Tauhid,Dan fiqh mazhab Maliki.Ia juga mempelajari ilmu-ilmu bahasa ( nahwu,sharaf,serta balaghah ), fisika,dan matematika.Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dari gurunya.Khaldun mulai masuk ke dunia politik dan pemerintahan ketika para pemimpin tunis hijrah ke Maroko.Pada tahun 1350 M (751 H),dalam usia 21 tahun ,ia diangkat menjadi sekretaris Sultan dinasti Hafs.Sejak saat itu lika-liku kehidupan dan karir politiknya mengalami pasang surut sampai pada tahun 1374 M (776 H) dia mengundurkan diri dari dunia politik.Ia menyepi k eke daerah Qal’at Ibnu Salamah dan menetap disana sampai tahun 1378 M (780 H).Disinilah ia mengarang kitab monumentalnya berjudul “ Kitab al-‘ibar wa Diman al_mubtada’ wa al-Khabar fi ‘Ibar” (sejarah umum).Kitab setebal 7 jilid ini berisi kajian sejarah, yang didahului dengan Muqaddimah (jilid 1) yang berisi pembahasan tentang problematika social manusia (sosiologi).Kitab Muqaddimah itu sendiri pada akhirnya berhasil menjadi pembuka jalan menuju pembahasan ilmu-ilmu social manusia,oleh karena itu dalam ilmu sejarah islam,Ibn Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu social dan politik islam.

Pada tahun 780 H (1378 M) ,khaldun kembali ke Tunisia untuk menelaah beberapa kitab sebagai bahan untuk merevisi kitab Al-’Ibar.Pada Tahun 784 (1382 M) ia berangkat ke iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekacauan politik dinegeri Maghrib (Maroko),setelah sebulan ia pindah ke Kairo.Disini ia memulai karir di bidang ilmu pengetahuan dengan membuka halaqah di Al-Azhar untuk memberi Kuliah.Pada Tahun 786 H, Raja menunjuknya menjadi dosen ilmu fiqh maliki di Madrasah al-Qamhiyah.Pada 801 H ( 1401 M) ia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan sampai akhir hayatnya.Selama di mesir, ibn Khaldun kembali merevisi kitab al-‘ibar dan menambah pasal kitab Muqaddimah.Peristiwa terbaru ia masukkan demikian juga temuan-temuan ilmiahnya seperti konsep-konsep sosiologis.Ia wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H / 19 Maret 1406.Temuan pentingnya adalah mengenai konsepsi sejarah serta konsep sosilogisnya yang hingga sekarang masih dijadikan bahan utama referensi bagi seluruh ahli sejarah dan sosiologi di Dunia.

Khaldun tentang Sejarah

Kata kunci konsepsi Khaldun tentang sejarah adalah “ ‘Ibaar” yang berarti contoh atau pelajaran moral yang berguna.Kata itu pula yang kemudian digunakan Khaldun sebagai judul buku,di mana ia menuliskan seluruh fikirannya tentang sejarah.Secara terminologis,’ibar, dalam pengertian seluruh bahasa Sempit,berari melalui,melampaui,menyebrang atau melanggar perbatasan,Kelompok Sufi menggunakan kata itu sebagai alat untuk pengembangan dunia batin mereka.Dalam pengertian,untuk melukiskan fungsi spiritual dari semua ungkapan mistik untuk menuju dunia yang lebih jauh(to the world beyond).

Untuk mengetahui posisi sejarah dalam teori Ibn Khaldun,penting difahami defenisi sejarah yang diberikannya.Khaldun melihat ada dua sisi dalam bangunan sejarah,yaitu sisi luar dan sisi dalam.Dari sisi luar,sejarah tak lebih dari rekaman siklus periode dan kekuasaan masa lampau,Tetapi jika dilihat secara lebih mendalam,sejarah merupakan suatu penalaran kritis (nadhar) dan usaha cermat untuk mencari kebenaran;sejarah merupakan suatu penjelasan cerdas tentang sebab-sebab dan asal usul segala sesuatu;ia merupakan suatu pengetahuan yang mendalan tentang bagaimana dan mengapa suatu peristiwa itu terjadi.Definisi tentang sejarah yang demikian membawa Khaldun untuk berpendapat bahwa sejarah itu berakar dalam filsafat (hikmah).Ia pantas dipandang sebagai bagian dari filsafat itu sendiri.

Dengan pertautan sejarah kepada filsafat, Ibn Khaldun nampaknya ingin mengatakan,bahwa sejarah memberikan kekuatan inspiratif dan intuitif kepada filsafat.Di lain pihak,filsafat menawarkan kekuatan logik kepada sejarah.Dengan aset logika kritis seorang sejarawan akan mampu menyaring dan mengkitik sumber-sumber sejarah – tulisan maupun lisan – sebelum ia sampai kepada proses penyajian final dari penyelidikannya.Pandangan inilah yang membawa Khaldun untuk merumuskan “tujuh kritik” dalam historiografi,sebagai cerminan dari sikap kesejarawanannya yang cermat; pertama :sikap memihak kepada pendapat dan madzhab-madzhab tertentu, kedua :terlalu percaya pada pihak yang menukilkan sejarah, ketiga :gagal menangkap maksud-maksud apa yang dilihat dan didengar serta menurunkan laporan atas dasar persangkaan dan perkiraan, keempat :persangkaan benar yang tidak berdasar pada sumber berita, kelima :kelemahan dalam mencocokkan keadaan dengan kejadian yang sebenarnya, keenam :kecendrungan manusia untuk dekat kepada para pembesar dan figur-figur yang berpengaruh, dan ketujuh :ketidaktahuan tentang metoda-metoda kebudayaan.Dengan menggunakan kerangka “tujuh kritik” ini,Khaldun mengkritik berbagai sarjana sejarah,seperti Al-Mas’udi yang dianggap lengah dan mudah mempercayai berita-berita yang tidak masuk akal.

Ibn Khaldun berpendapat,penyelidikan terhadap peristiwa sejarah tidak boleh tidak harus menggunakan berbagai ilmu bantu.Ilmu bantu diistilahkan Khaldun sebagai ilmu kultur (‘ilm al-‘Umran).Ilmu ini berfungsi sebagai alat untuk mencari pengertian tentang sebab-sebab yang mendorong manusia untuk berbuat,melacak akibat-akibat dari perbuatan itu sebagaimana tercermin dalam peristiwa sejarah. Teori kritik sejarah yang dikembangkan Ibn Khaldun,pada dasarnya mendapatkan inspirasi dalam Al-Qur’an.Kenyataan ini, lanjutnya,pernah dikemukakan Iqbal yang mengatakan bahwa Al-Muqaddimah Ibn Khaldun penuh dengan inspirasi Al-Qur’an yang didapatkan pengarangnya.

Agama dan Filsafat

Dalam membahas dua bidang ini – agama dan filsafat - ,Khaldun sebagaimana diungkapkan oleh Ali Audah,perlu untuk melihat apa yang disebut sebagai filsafat ketuhanan, atau yang lebih popular dengan sebutan Ilmu Kalam.Masterpiece Khaldun yang terkenal,Al-Muqaddimah,secara khusus menelaah filsafat ketuhanan ini dalam bab VI.

Ilmu ini ia batasi dengan pengertian sebagai suatu disiplin yang mencakup cara berargumentasi dengan dalil-dalil logika atau dialektika dalam mempertahankan akidah keimanan serta menolak pikiran-pikiran baru yang dalam artian dogma dianggap menyimpang dari keyakinan agama menurut faham ulama salaf (ortodoks) dan kaum Muslimin awal.Betapapun demikian,Khaldun menambahkan bahwa dialektika filsafat tidak mampu membuktikan kebenaran agama,karena agama berada diluar lingkup logika.Disamping itu,dialektika sering mengerut menjadi tak lebih dari semacam permainan retorika dalam bentuknya yang lebih rendah.

Demikian, karenanya,Khaldun dalam setiap pembahasan mengenai Tuhan – filsafat ketuhanan - selalu merujuk pada ajaran-ajaran Al-Qur’an.Seperti pandangannya tentang Tuhan,bagi Khaldun – karena hasil telaahnya terhadap Al-Qur’an – melihat Tuhan sebagai sesuatu tak dapat dipersepsikan,tak dapat dijangkau oleh khayal,perasaan,fikiran dan panca indera.

Demikian ketatnya Khaldun mengikatkan diri pada Al-Qur’an,sehingga seluruh pandangannya tentang filsafat menjadi begitu kritis.Berbeda dengan Ibn Rusyd yang cenderung untuk berspekulasi dalam berfilsafat.Hal ini pula yang merupakan bantahan tegas bahwa Ibn Khaldun terpengaruh oleh aliran skolastik.

Sesungguhnya ,karya Khaldun dalam dunia filsafat – dalam artian professional – hampir hilang oleh kemasyhurannya sebagai seorang sosiolog dan kritikus sejarah.Pandangan-pandangannya tentang filsafat tidak tercermin dalam uraian khusus tentang filsafat,tetapi justru dalam menguraikan metoda-metoda penulisan Sejarah yang terdapat dalam kata pengantarnya dalam Al-Muqaddimah.Namun satu hal yang pasti bahwa dalam kedua bidang ini – agama dan filsafat – Khaldun tetap mempertahankan kekhasannya sebagai pemikir besar,yaitu sikap objektif,rasional dan kritis;tetapi juga merupakan seorang agamawan yang taat – dalam pengertian melihat Al-Qur’an sebagai sumber hukum untuk menimba berbagai pemikiran yang inspiratif.

Negara dan hukum

Dalam bidang kemasyarakatan,khususnya bidang negara dan hukum,Ibn Khaldun, menurut Drs.A.Rahman Zainuddin,MA, selalu memakai satu ciri khas,yaitu menceritakan keadaan sebagaimana adanya.Sekali lagi untuk mendukung betapa ‘terikatnya’ Khaldun terhadap Al-Qur’an,metode ini terambil dari ajaran Qur’an sendiri,demikian menurut Zainuddin.

Namun demikian,Khaldun berpendapat bahwa pendekatan keagamaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan bukanlah merupakan pendekatan yang tepat.Disatu pihak,,dalam kenyataannya,agama jarang menjadi sentral pemikiran manusia. Dilain pihak,negara-negara yang tidak beragama islam jauh lebih banyak daripada yang beragama Islam.Demikian,karenanya Khaldun mengatakan – dan hal ini agak membingungkan – bahwa pendekatannya terhadap kehidupan manusia didalam masyarakat bukanlah merupakan pendekatan yang bersifat keagamaan.

Apa yang dapat dirumuskan bahwa ketika Khaldun berbicara tentang pendekatan keagamaan dengan pengertian terbatas – yaitu pengertian fiqhiyah yang melihat segala sesuatu dari sudut halal dan haram saja. Sebagai gantinya Khaldun mengajukan suatu alternatif,yaitu suatu pendekatan yang lebih luas ruang lingkupnya dan lebih universal aplikasinya.Inilah yang ia namakan sebagai pendekatan budaya,atau pendekatan dari segi kehidupan manusia didalam masyarakat.Dengan pendekatan semacam ini memungkinkan dirinya untuk melihat kenyataan kehidupan masyarakat,bagaimana ia berjuang mempertahankan diri terhadap alam dan binatang buas,dan juga terhadap sesama manusia sendiri.Termasuk didalamnya adalah bagaimana ia bergulat untuk mempertahankan dan mendapatkan kekuasaan.Ringkasnya,Khaldun berusaha untuk melepaskan diri dari hukum agama dengan pengertian yang sempit,dan pergi kepada suatu hukum agama yang lebih luas pengertiannya – yaitu yang dinamakan sunnatullah.

Dari kerangka berpikir demikian,menurut Khaldun,Negara bukan merupakan hal luar biasa.Ia merupakan kewajaraj dalam perkembangan masyarakat manapun.Negara merupakan hal tertinggi yang dapat dicapai oleh ‘ashabiyah’ (solidaritas) dalam perjalanannya yang panjang.’ashabiyah’ inilah kata kunci dalam pikiran Khaldun karena ia yang menjadi motor kekuasaan.Demikian,negara menempati posisi sentral dalam kehidupan masyarakat,dimana ia digambarkan sebagai pasar yang penuh kegiatan.Dalam ‘pasar’ itu,demikian Khaldun,akan terdapat emas murni dan perak asli,jika negara menjauhkan diri dari kesewenangan,pilih kasih,kebodohan, dan kehinaan serta bertekad untuk menempuh jalan yang lurus.Tetapi jika yang dilakukan sebaliknya maka yang terdapat di ‘pasar’ itu adalah barang rongsokan dan palsu.Demikian,maka negaralah yang menentukan kualitas manusia.Jika negara baik maka kualitas manusia adalah bagaikan emas murni atau perak asli; dan sebaliknya.

Selanjutnya, bagi Khaldun,cara pelaksanaan kekuasaan dalam negara,dibagi menjadi tiga bagian.Pertama, cara pelaksanaan kekuasaan yang lemah lembut dan penuh keadilan; kedua, cara pelaksanaan kekuasaan dengan penuh dominasi,mempergunakan kekerasan dan intimidasi; dan ketiga, cara pelaksanaan kekuasaan dengan menjatuhkan hukuman dan sangsi-sangsi.

Dengan pelaksanaan kekuasaan yang pertama,manusia akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi yang terdapat didalam dirinya.Ciri yang paling menonjol dalam masyarakat seperti ini bahwa setiap orang megemukakan pendapatnya sebagaimana adanya,tanpa disadari oleh rasa takut dan tanpa ada orang yang menghalangi.Demikian arus informasi menjadi begitu deras.
Dalam masyarakat ketiga,dimana kekuasaan diletakkan dengan kekerasan dan intimidasi,moral rakyat akan hancur sama sekali.Jika rakyat diperlakukan secara tidak adil dan tidak mendapat kesempatan untuk mempertahankan diri serta menjelaskan perkara yang dialaminya, maka didalam hatinya ia amat terhina dan meghancurkan daya tahannya sebagai manusia.Dalam kerangka ini Khaldun merasa kagum terhadap orang Baduwi yang hidup bebas merdeka di tengah padang pasir.

Dalam masyarakat kedua,rakyat akan memiliki jiwa penakut.Hal ini akan merugikan daya ketahanan nasional,sebab rakyat akan menjadi malas dan dihinggapi oleh perasaan acuh terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Untuk mengatasi kesemuanya itu perlu suatu ideologi nasional.Dimana ia merupakan pengikat dan sumber hukum nasional yang ditaati oleh masyarakat.Ideologi nasional semacam itu,menurut Khaldun, dapat dibagi-bagi dan dikategorisasikan berdasarkan sumber pengambilanya.Pertama,ideologi yang bersifat politis rasional,dimana ideologi tersebut dihasilkan dan diwajibkan oleh para cendikiawan dan pembesar negara.Kedua,adalah ideologi nasional berdasarkan politik keagamaan,dimana Allah dengan perantara Rasulnya,merupakan sumber pemberitahuan manusia akan pentingnya suatu nilai.Diantara kedua ideologi tersebut diatas,jelas,Khaldun memilih ideologi yang kedua.Sebab,menurutnya,ideologi keagamaan akan menjamin kehidupan dunia dan akhirat.Manusia dalam hidup ini tidak semata-mata menuju pada dunia saja,sebab seluruh dunia itu “hampa” dan “bathil” – kematian dan kefanaan.Pandangan ideologis dari sudut politik semata tidaklah lengkap,karena memandang sesuatu tanpa nur­-Allah.

Khaldun tentang perobahan sosial

Para ilmuwan sosial sependapat,bahwa kemajuan dan kemunduran suatu masyarakat merupakan fakta sejarah.Tetapi apakah dan siapakah yang menggerakkan dan memungkinkan terjadinya perobahan sosial itu?Tentang hal ini berbagai pendapat bermunculan.Bagi Plato,Kong Fu Tse,Thuoydides,Machiavelli,misalnya,penggerak social adalah mereka yang tengah memegang posisi sentral,yaitu para penguasa. Namun bagi Ibn Khaldun ,ia berbeda dengan tokoh-tokoh di atas.Maju-mundurnya suatu masyarakat tidaklah disebabkan keberhasilan atau kegagalan sang Penguasa,atau akibat peristiwa kebetulan atau takdir.Namun,bagi Khaldun,ia lebih mengandalkan masyarakat syari’iyyah yang akan mengalami perobahan yang sebaik- baiknya.Akan tetapi bukan hal ini sesungguhnya yang dialami Khaldun,tetapi justru perobahan sosial sebagaimana yang berlangsung secara global itu sendiri.

Bagi Khaldun,semua perobahan sosial menyusur rentang waktu sekitar 120 tahun,terangkat atas tiga generasi yang masing-masing berusia 40 tahun.Lagi-lagi teori ini,menurut Mahyuddin,karena inspirasi yang didapat Khaldun dari Al-Qur’an.Betapa pun teori ini masih dapat diperdebatkan,tapi yang justru menarik adalah persoalan ‘ashabiyah yang terdapat dalam anggota masyarakat itu. Dengan melihat tinggi-rendahnya kadar ‘ashabiyah di atas,Khaldun menggolongkan masyarakat atas dua bagian.Pertama,masyarakat Badawah(baduwi),dan kedua: masyarakat hadharah(berperadaban).Yang pertama merujuk pada suatu golongan masyarakat sederhana,hidup mengembara dan lemah dalam peradaban.Tetapi perasaan senasib,dasar norma-norma,nilai-nilai serta kepercayaan yang sama pula dan keinginan untuk bekerjasama merupakan suatu hal yang tumbuh subur dalam masyarakat ini.Pendeknya,’ashabiyah (solidaritas)dalam masyarakat ini begitu kuat.Akan halnya masyarakat kedua,ditandai oleh hubungan sosial yang impersonal dan seringkali superficial.Masing-masing pribadi berusaha untuk memenuhi kebutuhan pribadinya,secara masing-masing,tanpa menghiraukan yang lain.Demikian,Khaldun menjelaskan bahwa semakin moderen suatu masyarakat semakin melemahlah nilai ‘ashabiyah atau solidaritas.Integrasi sosial yang rendah mengakibatkan kontrol sosial yang rendah pula.Sebaliknya,integrasi sosial yang tinggi akan membuahkan kontrol sosial yang tinggi pula.

‘Ashabiyah dan konsepsi Khaldun tidak dapat dipisahkan dengan konsep kekuasaan.Bahkan ‘ashabiyah’ identik dengan power.Demikian,kelihatan dalam sejarah betapa berbagai kerajaan besar dihancurkan oleh golongan masyarakat Badawah.Di Eropa,zaman masyarakat ini diwakili oleh orang Barber yang menaklukkan berbagai kekaisaran. Suatu masyarakat Badawah yang dipimpin oleh seseorang yang dapat diterima akan dapat melumpuhkan golongan masyarakat Hadharah yang sekarat.Mereka mengambil alih seluruh kekuasaan dan budaya yang dimiliki golongan Hadharah.Lambat laun golongan Badawah yang menghancurkan golongan Hadharah,kehilangan kebaduwiannya,’ashabiyahnya,dan menjadi Hadharah yang akan digeser oleh golongan Badawah berikutnya.Demikian,hal ini akan selalu terjadi bergantian.Konflik eksternal dalam masyarakat,akan menimbulkan sirkulasi dan perobahan struktur kekuasaan.Inilah yang disebut Khaldun sebagai proses daur sejarah yang berlangsung dari masa ke masa,dari generasi ke generasi. Menurut Mahyuddin,teori proses daur sejarah Ibn Khaldun ini lebih unggul dibanding dengan teori lenear masyarakat modern sebagaimana yang dikemukakan oleh para penganut Marx, Weber atau kalangan modernisme lain.Sebab ketika ditanyakan kepada mereka: Apa sesudah komunisme ? Apa sesudah kapitalisme ? Dan apa sesudah modernisme ?Terdapat kesulitan bagi mereka untuk menjelaskannya.Hingga di sini beyond komunisme,kapitalisme,dan modernisme, terdapat kebuntuan untuk memproyektir masyarakat apa yang ada sesudahnya.

Demikian,si Tunisia Ibn Khaldun tampil sendirian sebagai genius sejarah terbesar dari Islam yang pertama melahirkan suatu konsepsi filosofis dan sosiologis tentang sejarah.Jika dalam buku Ideas and History,Cromwell disebut sebagai “pembuat sejarah” – tetapi tak pernah menulis sejarah - , maka Ibn Khaldun adalah pembuat sejarah dan sekaligus penulis sejarah.

Penulis adalah Mantan Ketua umum Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia ( PII ) KodyaBukittinggi – Kab.Agam periode 2006-2008 , sekarang aktifis PII Pasaman.

9:10 PM by Zamzami Saleh · 1