ISLAM : AGAMA DAN PERADABAN MASA DEPAN

12:06 PM

oleh : Aulia Agus Iswar




“Ummat Islam akan melalui lima fase masa : masa nubuwwah, masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, masa mulkan ‘adhon, masa mulkan jabbariyyan, dan masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.” Begitulah sabda Rasulullah SAW. Masa nubuwwah telah berlalu dengan wafatnya Rasulullah. Masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah juga telah berlalu dengan selesainya masa khalifah rasyidah. Masa mulkan ‘adhon pun juga telah berlalu dengan tiga imperium Islam : Umayyah, Abbasiyyah dan Utsmaniyyah (Ottoman). Setelah runtuhnya Ottoman Empire di Turki (1924) hingga sekarang, umat Islam berada pada masa mulkan jabbariyyan (pemimpin yang semena-mena, penindas, zhalim). Pada masa ini, umat Islam menjalani kehidupannya tanpa eksistensi khilafah (world empire). Karakteristik pada masa ini adalah umat Islam menjadi umat yang tertindas, terjajah, termarjinalkan, terbelakang dan menjadi second class society. Setelah melalui masa ini, umat Islam akan memasuki masa terakhir, yaitu kembali seperti fase masa kedua : khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Umat Islam akan memiliki world empire yang diatur oleh sistem (manhaj, qanun, syari’ah, perundang-undangan) Islam.



Selintas Perjalanan Historis



Da’wah, yang dilakukan oleh Rasulullah selama sekitar 22 tahun 2 bulan 22 hari, telah membuka cakrawala dan cahaya baru bagi masyarakat di Jazirah Arabia, yang menurut Thomas Carlyle dalam Heroes and Hero-Worship (1840), seperti baru terlahir dari kegelapan menuju cahaya. Dimulai dengan impian Rasulullah tentang World Empire yang diatur oleh Islam, seperti dikatakan Joseph Gaer dalam How the Great Religions Began (1962), maka da’wah terus menyebar ke segenap penjuru dunia ; benua Asia, Afrika, Eropa, bahkan Amerika; meliputi Barat dan Timur. Da’wah itupun sampai ke bumi nusantara ini. Islam yang dibawa oleh da’wah itu telah mewarnai bumi nusantara yang sebelumnya berada dalam masa kegelapan : dari hidup di bawah naungan jahiliyyah ke hidup di bawah naungan cahaya Al Quran. Sebelumnya nusantara didominasi oleh agama animisme dan dinamisme, termasuk juga Hindu dan Budha. Tapi ketika da’wah Islam ini sampai ke bumi nusantara, maka Islam pun mendominasi keyakinan masyarakatnya. Kemudian ummat Islam di Indonesia menjadi single majority.



Unsur dan Karakteristik Ajaran Islam



Islam terdiri dari unsur tsawabbit (yang tetap/ qath’i) dan mutaghayyirat (yang dapat berubah-ubah/zhanni). Unsur tsawabit mencakup ushul (ajaran pokok/prinsip), sedangkan unsur mutaghayyirat mencakup furu’ (ajaran cabang). Ajaran ushul haruslah tetap, baku dan tidak boleh diubah-ubah sampai kapan pun (tidak ada fleksibelitas di dalamnya). Sedangkan ajaran furu’ dapat disesuaikan dengan waktu, tempat, situasi dan kondisi (ada fleksibelitas di dalamnya). Di sinilah sifat kemoderatan Islam : perpaduan antara keteguhan prinsip dan fleksibelitas. Islam bukan agama yang kaku dalam artian tidak ada fleksibelitas dalam hal ushul sekaligus furu’. Islam juga bukan agama liberal dalam artian memberlakukan fleksibelitas dalam hal ushul dan furu’ sekaligus. Dan inilah Islam agama pertengahan : tidak kaku dan tidak liberal. Atau dalam istilah lain Islam bukan agama ekstrem (berlebih-lebihan). Universalitas cakupan Islam tidak sempit hanya terpaku pada kredo tapi juga mencakup sistem perekonomian, organisasi sosial, hukum kemasyarakatan, hukum internasional, dll. Karakteristik seperti inilah yang menjadikan Islam mampu berkespansi dan mondial ke segenap penjuru dunia dengan pengadaptasian nilai-nilai Islam sesuai dengan situasi dan kondisi namun tetap menjaga orisinalitas ajarannya.



Berita yang Dijanjikan dan Realitas Kontemporer



Selain tentang lima fase masa di atas, Rasulullah juga telah memberikan sinyalemen masa depan bahwa umat Islam akan kembali menaklukkan bangsa Romawi. Sebelumnya Rasulullah telah memberikan berita bahwa Konstantinopel akan berhasil dikuasai. Berita ini telah terbukti dengan berhasilnya Sultan Muhammad al Fatih II, dan pasukan muslim pada saat itu, menaklukkan Konstantinopel. Ada berita yang belum terealisasikan, yaitu penaklukan bangsa Romawi. Sinyalemen masa depan tersebut bukanlah hal yang bersifat utopis. Realitas kontemporer dunia sekarang juga menjadi tanda. Dominasi imperium dunia sekarang berada di tangan peradaban Barat (Amerika dan Eropa). Bukti-bukti telah memaparkan bahwa peradaban tersebut telah berada di ambang kehancuran. Peradaban Barat memang maju dari sisi profannya (keduniaan : sains-teknologi, budaya hidup / semangat kerja) tapi mundur pada sisi spiritual-transenden (keakhiratan : aqidah, moral, pendidikan, pemikiran). Peradaban Barat kini tengah mengalami kehausan spiritual setelah sekian lama bergulat dengan kegersangan materialisme. Banyak masyarakat Barat yang “kembali” kepada nilai-nilai spiritual. Jumlah pertumbuhan umat Islam di Barat pun dapat dikatakan cukup pesat. Apalagi, seperti diungkapkan Zainal bidin Ahmad dalam Sejarah Islam dan Umatnya (1979), setelah diadakannya Festival Dunia Islam pertama di London pada tahun 1976, Islam menjadi agama nomor kedua popularitasnya di Eropa, setelah Kristen. Mulailah berdiri masjid-masjid dan Islamic center-Islamic center. Bahkan di kota Roma, yang dianggap suci oleh umat Katholik, telah berdiri masjid yang megah di samping Kathedralnya.



Di Amerika, menurut James Patterson dan Peter Kim (1991), sebagian besar orang Kristen di sana telah mengemukakan bahwa mereka bersedia menentang ajaran agamanya (Kristen). Maka tak heranlah apabila dikatakan Amerika berada di ambang kehancuran dengan kebobrokannya di bidang politik (ketergantungan dari negara yang lain), ekonomi (paling besar hutangnya di dunia kepada PBB), pendidikan (terdapat 55 ilmuwan dari setiap 1000 orang , terdapat sekitar 27 juta orang buta huruf) dan sosial (kriminalitas yang tinggi).



Data statistik di Inggris menyebutkan pada tahun 2004 jumlah umat Kristen yang ke gereja tiap pekannya adalah sekitar 916.000 jiwa. Sedangkan umat Islam yang ke masjid tiap pekannya adalah 930.000 jiwa (sumber : http://www.eramuslim.com/). Data statistik lain, seperti yang dikutip Samuel P. Huntington dalam Clash of Civilizations (1996), menyebutkan Perkiraan Wilayah Teritorial dalam Persentase antara Barat dan Islam dengan luas wilayah dunia sekitar 52.5 juta mil. Wilayah Teritorial Barat 38.7% tahun 1900 menjadi 24.2% pada tahun 1993. Sedangkan wilayah teritorial Islam adalah 6.8% tahun 1900 menjadi 21.1% pada tahun 1993. Populasi Barat pada tahun 1993 adalah 805.4 juta. Sedangkan populasi Islam adalah 927.6 juta pada tahun yang sama. Kemudian persentase penduduk dunia di bawah kontrol politis Barat adalah 44.3% (tahun1900) menjadi 13.1% (tahun 1995). Sedangkan Islam adalah 4.2% (tahun 1900) menjadi 15.9% (tahun 1995).



Sebetulnya, jika kita runut sejarah, maka kita temukan dominasi kontrol politis imperium dunia seolah saling bergiliran antara peradaban yang satu dengan yang lainnya. Setidaknya telah ada empat fase pergiliran :



a. Pada fase menjelang dan awal abad masehi (…s.d. abad 6 M) yang mendominasi adalah peradaban Yunani (Barat) dengan spirit filsafatnya.



b. Pada fase kedua (abad VII s.d. abad XV), dominasi itu berpindah ke peradaban Islam (Timur dan sebagian Barat) dengan integralitas antara agama dan ilmu pengetahuan. Sementara itu di dunia Barat yang lain terjadi periodesasi kegelapan, yang biasa disebut dengan “the dark age”.



c. Fase ketiga (abad XVI s.d. abad XX), dominasi itu berpindah kembali ke dunia Barat. Fase ini disebut dengan zaman modern atau masa industri. Fase ini ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar seperti Renaisans, Reformasi, Revolusi Perancis, Revolusi Industri dan Aufklarung.



d. Fase keempat (mulai abad XXI) disebut dengan masa postmodern atau post-industrial age. Fase ini adalah fase di mana filsafat, ilmu pengetahuan dan agama kembali diintegrasikan, bukan didikotomisasikan (disekularisasikan).



Harapan Masa Depan : Kajian Dialog Pemikiran



Banyak penulis futuris yang memprediksikan tentang masa depan peradaban dunia, khususnya Islam. Di antara mereka ada yang menggambarkan sebuah alternatif baru bagi masyarakat dunia. Di antara mereka ada yang menyebutkan secara langsung tentang Islam namun ada juga yang secara tidak langsung, hanya ciri-cirinya saja. Pemikiran-pemikiran mereka sangat mempengaruhi dinamika pergolakan dunia.



Penulis ungkapkan tentang fungsi dan posisi umat Islam sebagai umat pertengahan (wasathiyyah) yang menjadi moderator (saksi/wasit/arbriter) bagi umat manusia. Di sini dapat dikatakan bahwa umat Islam adalah umat penengah atau umat “ketiga”. Terminologi “ketiga”, dalam konteks ini, dapat kita temui pada spirit pemikiran-pemikiran Anthony Giddens, Edward J. Bying, Roger Garaudy bahkan Alvin Toffler.



Anthony Giddens dalam The Third Way menggambarkan suatu alternatif “jalan ketiga” bagi masyarakat dunia masa kini dan masa depan. Jalan pertama dan jalan kedua adalah manifesatsi dari peradaban kiri dan kanan. Kiri di sini adalah ideologi sosialisme-komunisme. Sedangkan kanan adalah ideologi liberalisme (demokrasi dan kapitalisme). Di Barat, kedua peradaban tersebut tidak mampu menjawab tantangan permasalahan dunia. Karena itulah Giddens, yang merupakan penasihat Tony Blair, merumuskan alternatif “jalan ketiga” yang disebut dengan “center-left”. Nilai-nilai “jalan ketiga” tersebut : persamaan, perlindungan atas mereka yang lemah, kebebasan sebagai otonomi, tak ada hak tanpa tanggung jawab, tak ada otoritas tanpa demokrasi, pluralisme kosmopolitan, dan konservatisme filosofis. Nilai-nilai ini secara integral tidak terdapat dalam ideologi manapun di dunia ini. Secara utuh, nilai-nilai ini hanya ada dalam Islam. Hal tersebut akan semakin tampak dalam program-program “jalan ketiga” : pusat yang radikal, negara demokratis baru, masyarakat madani yang aktif, keluarga demokratis, ekonomi campuran baru, kesamaan sebagai inklusi, kesejahteraan positif, negara berinvestasi sosial, bangsa kosmopolitan, dan demokrasi kosmopolitan.



Edward J. Bying dalam De Derde Macht / Kekuatan Ketiga (1956) juga menggambarkan tentang kompetisi dua kekuatan, yaitu kekuatan demokrasi-kapitalis dan diktator-komunis. Tampil di antara mereka suatu kekuatan ketiga yaitu kekuatan Islam. Penulis juga mengingatkan tentang Gerakan Non-Blok. Presiden Aljazair Boumediene menganjurkan tentang terbentuknya “Dunia Ketiga”. Menurut penulis, “Dunia Ketiga” itu adalah Gerakan Non-Blok yang merupakan “Blok Ketiga” setelah kedua Blok sebelumnya (Blok Barat dan Blok Timur).



Roger Garaudy dalam Promeses de’l Islam (1981) menganggap Islam adalah “Warisan Ketiga” bagi Barat, bahkan seluruh dunia, setelah dua warisan sebelumnya : warisan Yunani dan warisan Judeo-Christian. Barat mengakui bahwa peradabannya adalah sebagai warisan ganda, yakni warisan Yunani-Romawi dan warisan Judeo-Christian. Bahkan dapat dikatakan bahwa Barat tidak memiliki dimensi agama dan kebudayaan yang asli. Agama Judeo-Christian berasal dari Timur (Asia). Warisan Yunani-Romawi pun sangat dipengaruhi oleh peradaban Timur sebelumnya.



Alvin Toffler, dalam The Third Wave, berpandangan bahwa hingga kini kehidupan masyarakat dunia telah melalui tiga gelombang. Gelombang Pertama adalah Agricultural Revolution. Gelombang Kedua adalah Industrial Revolution. Sedangkan Gelombang Ketiga adalah Post / Super-Industrial Revolution. Masa industri adalah masa di mana manusia diperlakukan sebagai mesin. Pada masa ini, yang disebut juga dengan zaman modern, ada pergeseran paradigma dari theosentris ke anthroposentris. Anthroposentirs memandang manusia sebagai makhluk yang dapat berbuat untuk dirinya sendiri. Dapat dikatakan di sini bahwa manusia hanyalah makhluk secara materi. Sedangkan masa super-industrial revolution, disebut juga zaman post-modern, nilai-nilai theosentris-religius-transendental mulai bergema kembali. Dengan kata lain, Gelombang Ketiga adalah masa kembali kepada seruan agama-agama.



Tokoh lain yang mensinyalir dan memberikan alternatif religius-spiritual bagi masa dan zaman sekarang adalah John Naisbitt. Dalam Megatrends dan High Tech-High Touch, Naisbitt mengemukakan penadapatnya bahwa kini ada pergeseran dari High Tech ke High Touch, yaitu dari teknologi yang tinggi ke sentuhan (spiritual dan emosional) yang tinggi.



Di sisi lain, ada yang menarik dari perkembangan ilmu psikologi, meskipun baru dikatakan psikologi-popular, yaitu tentang Stephen R. Covey penulis buku motivasi The Seven Habits of Highly Effective People. Baru-baru ini ia menulis buku baru dengan judul The 8th Habit. Dalam bukunya yang baru tersebut ia menyebutkan kebiasaan kedelapan menitikberatkan pada hati nurani. Ia juga menggambarkan tentang empat potensi dalam diri manusia : emosional, spiritual, intelektual dan fisikal. Manusia masa depan adalah manusia yang mampu menyeimbangkan empat potensi ini dalam dirinya. Hal ini sangat sesuai dengan Islam. Selain Covey, banyak juga penulis-penulis lain yang membuat buku-buku motivasi yang berkaitan dengan emotional quotion (EQ), spiritual quotion (SQ), bagaimana bergaul, bagaimana mencapai kebahagiaan, bagaimana mengatasi kesulitan hidup, dan lain-lain. Sebut saja seperti Dale Carnegie, Noorman Vincent Peale, Florance Litaeurer, Anthony Robbins, dll. Buku-buku tersebut bermunculan di abad XX. Sehingga dapat dikatakan bahwa hal ini merupakan respons terhadap kegersangan materialisme pada masa industri / zaman modern.



Pandangan lain datang dari Wilfred Scawen Blunt yang mengatakan bahwa sekurang-kurangnya ada empat faktor yang menguasai dan mempersatukan umat Islam. Dalam The Future of Islam, ia menyebutkan empat faktor itu :



1. The Haj (pilgrimage).



2. Khilafah (the modern question of the Caliphate).



3. TheHolly Mecca (the true metropolis)



4. Reformation (A Mohammedan reformation).



Samuel P. Huntington juga mensinyalir tentang Kebangkitan Islam. Kebangkitan di sini jauh lebih luas daripada reformasi. Perkembangan Islam kini terus bergerak dan melebar. Bermula dari aspek sosio-kultural kemudian ke aspek politik. Manifestasi-manifestasi ini pada umumnya tidak mendapatkan dukungan dari kalangan elit pedesaan, kaum tani dan “golongan tua”. Mereka adalah masyarakat non-urban yang berorientasi modern. Mereka adalah kalangan muda yang berusia sekitar 20 dan 30 tahun. Delapan puluh presen dari mereka adalah lulusan universitas atau perguruan tinggi.



Ternyata sinyalemen kemenangan Islam itu tidak hanya berasal dari nash saja, tapi juga dapat kita cermati dari relaitas kontemporer yang ada dan juga berasal dari pandangan dan prediksi para pakar. Siapkah umat Islam menyambutnya?



Geospirit : Menyatukan Kepingan Puzzle



Barat (Amerika dan Eropa), yang kini masih didominasi Kristian, menampakkan keunggulan spirit Islaminya dalam segi profan (keduniaan) seperti kedisplinan, etos kerja, kebersihan, penguasaan atas sains dan teknologi, sadar lingkungan, dan lain-lain. Sedangkan Timur, yang dominasi Islam ada di dalamnya, menampakkan keunggulan spirit Islaminya dalam segi spiritualitas dan sakralitas (keakhiratan) seperti aqidah, keimanan, ibadah mahdhah, akhlaq, dan lain-lain. Dapat dikatakan, hingga kini, spirit Barat adalah spirit keduniaan sedangkan spirit Timur adalah spirit keakhiratan.



Islam adalah agama dunia dan akhirat sekaligus. Islam bukan agama dunia saja atau agama akhirat saja. Pada saatnya nanti kepingan Timur (yang telah terislamkan) akan bersatu dengan kepingan Barat (yang juga telah terislamkan). Hingga Islam menjadi Al Ustadziyatul Alam. --Wa Allahu Musta’an--.



Sumber : http://gelombang-peradaban.blogspot.com/2007/02/islam-agama-dan-peradaban-masa-depan.html

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images