The Kejhadian in the Fatrah of Imtihan ( Bag.1)

6:37 PM


Ah tak terasa udah lebih dari satu bulan aku tidak beraktifitas di dunia kepenulisan.Sejak 10 hari akhir bulan desember dan sejak internet di rumah di putus untuk sementara,praktis blog ini jadi kurang terurus,dan tulisan diriku pun tak muncul di dunia maya.

Baik lah pemirsa (hehehe..) mungkin di awal “kebangkitan” ku dari dunia bawah tanah ini,aku akan kisahkan apa saja kegiatan dan kejadian yang kualami dalam masa-masa ketidak munculan ku di dunia maya.semuanya akan ku rangkum dalam judul “ The Kejheadian in the Fatrah of Imtihan” (hahaha )

===Kejhadian awwal===

Mungkin pemirsa (dan para fansku tentu saja ) ada yang masih ingat sebuah wawancara yang di publikasikan di republika tentang seorang Profesor di Uin Malang (Kalo ga salah) yang bernama Prof.Muhibbudin (mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan nama dan gelar).Dalam wawancara tersebut sang profesor yang terhormat menggugat keotentikan shahih Bukhori (yang selama ini diyakini oleh seluruh umat islam di Dunia sebagai kitab yang semua hadisnya shaheh).Nah, dalam petikan wawancara tersebut disebutkan beliau “menggugat” beberapa hadist yang menurut penelitian beliau “Tidak shahih” secara sanad/ghair muttashil/mu’allaq dsbg.Kemudian beliau juga menggugat hadits yang menceritakan tentang “prediksi Nabi Muhammad saw” terhadap kejadian masa depan (seperti hadis “ikutilah olehmu SunnahKu dan Sunnah Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin setelah ku yang menurut beliau kan khulafaur rasyidin itu belum ada waktu itu).Beliau juga menggugat hadist yang menurut pemikiran beliau tidak logis (seperti hadits tentang lalat).

Nah saya mau nanya sebentar ,”kira-kira bagaimana perazaan pemirsa terhadap profesor tsb? Marah?penasaran?kecewa?kesal?.Begitu juga mungkin perasaan para mahasiswa Al-Azhar yang di mesir.Mereka yang tau tentang persoalan tersebut dan tau jawabannya apalagi,udah gatal mulutnya untuk membongkar habis semua pernyataan profesor tsb.

Pucuk dicinta ular pucuk pun tiba (hehehe) Beberapa minggu setelah tulisan tersebut di muat,beberapa orang guru besar dan dosen di beberapa UIN dan IAIN di Indonesia mendapat kesempatan buat meneliti di Mesir,Termasuk sang profesor.Kesempatan ini pun tidak dilewatkan oleh beberapa orang masisir untuk “memanfaatkan” sisi keilmuan profesor.Maka beberapa organisasi seperti Murthada (organisasi mahasiswa Paska Sarjana Al Azhar) dan organisasi telaah hadis (lupa namanya padahal ketuanya juga teman kader PII) mengadakan seminar yang bertajuk tentang kritik hadits dengan dua orang pembicara yaitu Prof.Muhibuddin dan Prof.Endang sarpawi (mohon maaf lagi jikalau terdapat kesalahan dalam pengetikan nama dan gelar) dengan pembanding salah seorang dari mahasiswa al-Azhar jurusan hadis dan ilmu hadis.

Acara yang di gelar di Auditorium (ce ile) KPMJB tersebut ternyata mengundang perhatian para masisir.Bahkan dalam sejarah nya itulah seminar yang paling banyak di hadiri masisir (padahal waktu itu sudah dalam masa persiapan ujian lo).Auditorium sudah dijejali (hehehe) ratusan masisir yang sangat antusias dalam mengikuti seminar tersebut,wallahu a’lam ntah apa tujuan haqiqinya.

Acara pun dimulai (molor dua jam dari jadwal hehehe dasar indonesia),pertama dengan presentasi dari doktor endang tentang perkembangan dan pengembangan teknik metodologi hadis di indonesia.acara kemudian di break 15 menit buat shalat maghrib dan baru kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari doktor Muhibbudin tentang studi kritik hadits (kritik sanad dan matan).terakhir pembanding pun melakukan tugasnya hehehe.

Acara berlanjut ke sesi tanya jawab.Seperti yang sudah diperkirakan,ternyata para masisir berniat meng-klarifikasi tulisan yang dimuat di republika tersebut.pertanyaan pertama dari ustad zulfi ternyata berakhir dengan ungkapan kekecewaan beliau bahwa “hari ini kita menemukan orang yang belajar hadis secara otodidak dari buku tanpa bantuan seorang guru untuk memahaminya yang kemudian ketika merasa ilmunya sudah cukup,mereka berani sekali dalam menghukum hadits.padahal dalam adab menuntut ilmu terutama ilmu agama,guru menjhadi suatu syarat yang mutlak mesti dipenuhi.maka tak heran kalau sang profesor seperti ini.dan sang profesor pun terkesan sangat ingin “terkenal” lewat pemikiran hadisnya yang padahal masalah yang beliau bahas tersebut bisa dijawab dengan jelas bahkan oleh mahasiswa al azhar tingkat satu.”

Sang penanya kedua pun lebih keren lagi.Mahasiswa S2 jurusan hadis bernama bukhori menjawab seluruh kesalahan yang disebutkan oleh profesor dalam tulisan tersebut dengan fakta yang kuat.dan beliau juga menggugat tentang bagaimana hari ini hadis tidak lagi dihukum oleh seorang muhaddits namun oleh seorang yang bahkan Cuma menelaah lewat buku.penanya ketiga seorang mahasiswa S2 Hadist dari Universitas Zamalek menggugat pernyataan profesor bahwa ‘kita boleh-boleh saja dalam menghukum hadits selama itu tidak melanggar ketentuan” dan juga menggugat sistem pendidikan di Indonesia yang begitu mudah untuk mendapatkan gelar profesor dengan cara membuat thesis/disertasi yang nyeleneh yang kalau dibedakan dengan paska sarjana di mesir yang sangat sulit sekali.

Tercatat banyak sekali penanya dan pertanyaan yang muncul pada malam hari itu.namun sayang karena sudah memasuki musim dingin jadi sekitar pukul 9 malam waktu kairo acara pun selesai.Dengan kesimpulan yang disimpulkan oleh masing –masing tukang simpul hehehe eh intinya karena acara tersebut sudah berdasar dari paradigma masing-masing jadi yah sulit disatukan.

)* sedikit catatan bahwa acara tersebut sebenarnya sudah berasal dari paradigma masing-masing.Sang profesor dengan paradigma kritik hadisnya dan masisir dengan paradigma keshohihan nya.Namun dalam acara tersebut kebanyakan para masisir kurang menjaga etika komunikasi dalam seminar.memang secara manusiawi jadi sebuah kewajaran ketika kitab shohih bukhori -yang merupakan kitab yang memuat masdar kedua dalam islam- digugat dan kita melakukan sedikit perlawanan buat sang penggugat namun akhlak dalam komunikasi terutama dalam acara sebesar seminar tetaplah mesti kita jaga.Jangan sampai hendaknya kita terkesan menjatuhkan muruah nya di muka umum dengan gaya bertanya kita yang menghukum dia.Karena Akhlak islam sendiri sangat menekankan begitu pentingnya etika komunikasi.begitu banyak ayat dalam alqur’an yang menyuruh kita untuk tetap mengeluarkan kalimat yang lemah lembut (qaulan layyinan),bahkan nabi musa ketika disuruh melawan fir’aun pun tetap disuruh Allah untuk berahlak dalam komunikasi dengannya yang notabenenya adalah musuh Allah si Fir’aun.

Kejadian menariknya adalah,ketika saya dan beberapa teman berjalan pulang dari lokasi seminar menuju rumah,saat di persimpangan mutsalas seorang mesir tiba-tiba ngasih duit yang jumlahnya subhanallah 400 pound mesir yang kalo di konversikan ke rupiah adalah sekitar 800 ribu rupiah.Orang mesir tersebut Cuma ngasih duit itu trus berlalu begitu saja meninggalkan kami yang kebingungan.Lalu kami pun ngucap syukur (bagaimana ga , duit sekitar 400 pound kalo di bagi 7 kan bisa dapet 55 pound per orang,lumayan lo buat transport kuliah selama satu bulan) dan mendoakan orang mesir tersebut agar dimudahkan rezkinya di dunia dan akhirat serta berharap suatu saat sang mesir muncul lagi tiba-tiba di depan kami dan ngasih duit lagi (hahaha)

To be continued.....

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images