Demografi Mazhab Syafi'i

5:32 PM


Demografi tempat-tempat penyebaran penganut mazhab Syafi’i di Dunia

Mazhab Syafi’i adalah mazhab kedua dengan penganut terbanyak di dunia setelah mazhab hanafi. Mazhab ini memiliki penganut di seluruh komunitas islam di dunia. Namun ada beberapa wilayah tertentu yang memiliki kuantitas dengan jumlah yang cukup banyak bahkan bisa dibilang menjadi mayoritas di sebuah wilayah. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh faktor tertentu seperti politik dan kekuasaan, kekuatan lembaga pendidikan dan pencetak kader Ulama, kesesuaian pendapat mazhab dengan kondisi sosial, dan faktor-faktor lainnya.

Zaman keemasan Islam dahulu, mazhab Syafi’i memiliki penganut mayoritas di Mesir, Iraq dan Khurasan. Seperti yang kita ketahui Mesir dan Iraq adalah tempat dimana Imam Syafi’i rahimahullah mengajar murid-muridnya dan menyebarkan mazhabnya. Adapun Khurasan adalah tempat asal kebanyakan muridnya. Dari tiga negeri inilah mazhab Syafi’i kemudian menyebar ke berbagai pelosok negeri.

Berikut adalah wilayah-wilayah dengan penganut mazhab Syafi’i (secara kuantitas) di Dunia saat ini :

1.                       Mesir[1]

Mesir adalah tempat Imam Syafi’i menetap sampai akhir hayatnya. Disini jugalah muncul qaul jadid sebagai bentuk progresifitas mazhab beliau. Disini pula beliau mendidik murid-murid yang kelak menjadi penolong dan penyebar mazhabnya.

Masyarakat Mesir sendiri sebelum kedatangan Imam Syafi’i menganut mazhab Maliki lalu Hanafi. Kondisi ini bertahan hingga Imam Syafi’i masuk ke Mesir dan menyebarkan mazhabnya. Bahkan pakar sejarah mengatakan bahwa Mazhab Syafi’i sendiri berhasil mempengaruhi penduduk mesir sehingga mengalahkan pengaruh mazhab Maliki dan Hanafi yang sudah ada sebelumnya. Ibn Khaldun berkata dalam Muqaddimahnya “Mazhab Syafi’i di Mesir memiliki penganut yang lebih banyak dari mazhab lainnya”[2]

Pengaruh tersebut sempat memudar tatkala Dinasti Syiah Fathimiyyah menguasai Mesir, namun kembali berjaya saat kekuasaan Fathimiyyah dikalahkan Dinasti Ayyubiyyah yang menganut mazhab Syafi’i. Pengaruh ini bertahan sampai kekuasaan Dinasti Mamalik, hingga akhirnya Dinasti Utsmaniyyah yang bermazhab Hanafi menguasai Mesir. Walau begitu, kekuasaan mazhab Hanafi ini tidak terlalu banyak menggusur posisi mazhab Syafi’i yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Mesir[3].

Mesir saat ini secara hukum didominasi oleh mazhab Hanafi sebagai warisan kekuasaan Dinasti Utsmaniyyah. Namun posisi Mazhab Syafi’i dan Maliki tetap bertahan dalam Masyarakat. Hal ini terlihat dalam metode peribadatan yang diamalkan masyarakat. Secara umum, Bagian utara Mesir menganut mazhab Syafi’i dan bagian selatan menganut mazhab Maliki[4]. Saat ini, Mesjid Al-Azhar Asy-Syarif menjadi pusat pendidikan mazhab Syafi’i di Mesir.

2.                       Syam[5] (Syria, Yordania, Libanon dan Palestina saat ini)

Berkembang pesatnya mazhab Syafi’i di negeri Syam tidak terlepas dari andil Hakim Agung Imam Abu Zur’ah Ad-Dimasyq di pertengahan abad ke 4 hijriyah. Sebelum itu, masyarakat Syam menganut mazhab serta menjalankan lembaga Qadha’ / peradilan sesuai mazhab Imam Awza’i. Membesarnya pengaruh mazhab Syafi’i di Syam inilah yang kelak mempengaruhi para pendiri dinasti Ayyubiyyah di Mesir (dimana daerah kekuasaannya juga meliputi Syam).

Di masa pemerintahan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, banyak madrasah mazhab Syafi’i yang didirikan di Syam terutama di daerah Damaskus. Hal ini juga yang membuat mazhab Syafi’i memiliki banyak penganut disana. Ahmad Taymur Basya memperkirakan bahwa mazhab Syafi’i dianut oleh seperempat penduduk Syam[6].

3.                       Iraq[7]

Iraq merupakan tempat pertama Imam Syafi’i membangun, mengajar dan menyebarkan mazhabnya. Pendapat beliau selama di Iraq dikenal dengan istilah Qaul Qadim. Bahkan dalam dinamika mazhab Syafi’i terdapat madrasah dan metode khusus yang dinamakan madrasah atau metode Iraqiyyun.

Walaupun mazhab Syafi’i di Iraq mendapat tempat khusus di kalangan masyarakatnya namun di pemerintahan terutama posisi hakim, mazhab Syafi’i jarang sekali menempatkan ulama mazhabnya. Posisi hakim hampir selalu diisi oleh ulama mazhab Hanafi[8]. Mazhab Syafi’i sendiri dalam sejarahnya memberikan banyak pengaruh ke masyarakat lewat lembaga pendidikan Madrasah Nizhamiyah yang didirikan oleh Nizham Al-Muluk terutama Madrasah Nizhamiyah di Baghdad.

4.                       Kurdistan

Secara geografis, Kurdistan terletak di utara Iraq dan selatan Turki. Daerah ini mayoritas dihuni oleh suku Kurdi. Diantara ulama Kurdi yang sangat berjasa mengembangkan mazhab Syafi’i adalah Syekh Muhammad bin Abdirrasul Al-Barzanji (w.1103 H), Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi (w.1194 H), Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi (w.1332 H).

5.                       Armenia

Kebanyakan penganut mazhab Syafi’i di Armenia adalah imigran Kurdi.

6.                       Persia / Iran[9]

Negeri Persia memiliki peranan penting dalam mazhab Syafi’i. Bukan hanya dari segi penyebaran mazhab namun juga dalam perkembangan dan pengokohan pondasi mazhab hingga bisa kita temukan seperti saat ini. Dalam mazhab Syafi’i dikenal madrasah atau metode Al-Khurasiyun atau Al-Marawizah yang merujuk kepada Ulama-ulama mazhab Syafi’i dari negeri ini. Siapa yang tidak kenal Abu Zaid Al-Maruzi atau Qafal Ash-Shagir atau bahkan Imam Haramaini Juwaini. Semuanya adalah produk Mazhab Syafi’i dari negeri Persia.

Bisa dibilang Persia di era keemasan Islam adalah negerinya mazhab Syafi’i. Hampir setiap daerahnya melahirkan ulama-ulama yang pakar dalam mazhab Syafi’i. Ada daerah Syiraz, Samarkand, Bukhara, Jurjan, Rayy, Isbahan, Thus, Hamzan, Zinjan, Tibriz, Bayhaq, Fairuzabad dan negeri-negeri lainnya yang sampai saat ini sangat mudah kita jumpai dalam kitab-kitab mazhab Syafi’i. Dari negeri ini pula mazhab Syafi’i berkembang ke daerah Traxonia (Maa Wara’ An-Nahr, Azerbaijan, Khawarizm serta ke negeri India dan negeri lain disekitarnya.

Sayang, keemasan mazhab Syafi’i sebagai mazhab yang dianut oleh mayoritas muslim di Negeri ini meredup bahkan punah saat penyerangan bangsa mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan dilanjutkan oleh Hulagu Khan. Seiring hancur leburnya negeri itu beserta umat islam, hilang pula lah kejayaan mazhab Syafi’i disana. Hari ini kabarnya mazhab Syafi’i masih ada dianut oleh beberapa muslim Iran (Persia hari ini) walau sangat minoritas dan tentu saja tidak sehebat masa dulu.

7.                       Hijaz[10]

Negeri Hijaz yang meliputi dua tanah Haram (Mekah dan Madinah) juga memiliki banyak populasi masyarakat yang banyak menganut mazhab Syafi’i. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, mazhab Syafi’i memiliki madrasah bahkan mufti mazhab tersendiri. Banyak pelajar-pelajar dari berbagai negeri yang belajar fiqh mazhab Syafi’i di Negeri ini, tak terkecuali Indonesia. Bahkan salah seorang ulama asal Sumatera Barat yang bernama Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pernah menduduki posisi mufti mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Mazhab Syafi’i sendiri merupakan mazhab yang banyak dianut oleh penduduk Hijaz selain mazhab Hanbali[11].

Saat ini, pendidikan mazhab Syafi’i diambil oleh madrasah-madrasah seperti Madrasah Saulatiyah dan Darul Ulum mengingat kondisi politik Arab Saudi yang dikuasai oleh Wahabi yang menyebarkan propaganda anti mazhab cukup membuat penyebaran mazhab Syafi’i tersendat. Selain Hijaz, daerah kerajaan Arab Saudi yang juga banyak menganut mazhab Syafi’i adalah daerah Ahsa’, Asir dan Tihamah[12].

8.                       Yaman[13]

Sampai hari ini, negeri Yaman dikenal sebagai penganut mazhab Syafi’i yang sangat kuat. Bahkan sebelum Yaman menjadi negeri Republik, Yaman merupakan sebuah kerajaan dengan undang-undang dan hukum yang seluruhnya berlandaskan mazhab Syafi’i. Sayyid Saqaf Al-Kaff mengatakan “Seluruh lembaga peradilan serta produk hukum di negeri ini diambil dari mazhab Syafi’i. Seorang Hakim dan lainnya tidak boleh keluar dari mazhab ini dan berpindah ke mazhab lainnya[14].

Dalam sejarahnya, Imam Syafi’i memang pernah singgah ke Yaman dalam perjalanan beliau menuju Iraq. Walau begitu, Mazhab Syafi’i sendiri baru berkembang pada abad kelima hijriyah, yang artinya setelah mazhab Syafi’i berdiri dan kokoh sebagai sebuah mazhab fiqh. Penyebaran mazhab fiqh mencapai puncaknya pada era dinasti Ayyubiyah (yang seperti kita ketahui bermazhab Syafi’i).

Negeri Hadramaut adalah yang paling berjasa dalam mempertahankan mazhab Syafi’i di Yaman. Ulama-ulama dari Hadramaut sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan penyebaran mazhab Syafi’i di Dunia terlebih daerah Asia Tenggara (seperti Indonesia, Malaysia, Thailand dan lain-lain).

9.                       Kerajaan Bahrain

Di Negeri ini banyak dihuni oleh muslim penganut mazhab Maliki dan Syafi’i[15].

10.                   Oman Selatan

Bagian Oman selatan banyak dihuni oleh muslim penganut mazhab Syafi’i yang kebanyakan terpengaruh oleh muslim dan ulama dari Hadramaut[16].

11.                   Negara-negara Asia Tenggara

Seluruh negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, Philipina, Kamboja dan lain-lain adalah penganut mazhab Syafi’i yang ta’at. Ibnu Batutah (w.779 H) dalam kitab Tuhfah An-Nazhar mengatakan: “Sultan Malik Azh-Zhahir seorang sultan yang mulia adalah penganut mazhab Syafi’i, pecinta para ulama yang selalu hadir di majelis qira’ah dan mudzakarah, Ia banyak sekali berjihad dan berperang serta selalu datang shalat jum’at dengan berjalan kaki. Penduduk negerinya adalah penganut mazhab Syafi’i yang ta’at dan selalu berjihad melawan para penjajah yang kafir”[17].

Mayoritas mazhab Syafi’i masuk ke Asia Tenggara lewat jalur para pedagang dan imigran dari negeri Hadramaut, Yaman. Sampai saat ini, negara-negara Asia Tenggara masih dikenal sebagai penganut mazhab Syafi’i yang kuat. Cukup banyak ulama level Internasional yang berasal dari daerah-daerah Asia Tenggara seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Abdussamad Al-Falimbani, Syekh Mahfuz At-Tarmasi, Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, Syekh Yasin Al-Fadani dan lain-lain yang semuanya bermazhab Syafi’i. Bahkan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pernah menjadi mufti mazhab Syafi’i di Masjidil Haram.

Sejak dahulu, banyak pelajar dari negara-negara ini yang belajar ke timur tengah (terutama ke Yaman, Hijaz dan Mesir) dimana semuanya mengambil fiqh mazhab Syafi’i. Dari tangan-tangan merekalah, mazhab Syafi’i berkembang pesat di negaranya.

12.                   India Selatan (daerah Malibar)

Penduduk India bagian selatan banyak yang menganut mazhab Syafi’i[18]. Diantara ulama Syafi’i yang berpengaruh disana adalah Syekh Zainuddin Al-Malibari (w.987 H) pengarang kitab Matan Qurrah Al-‘Ain dan Syarahnya Fath Al-Mu’in (kitab ini masyhur diajarkan di pesantren-pesantren klasik di Asia Tenggara terutama Indonesia).

13.                   Sudan

Walaupun Sudan didominasi oleh mazhab Maliki namun ada juga beberapa wilayah yang penduduknya menganut mazhab Syafi’i. Hal ini karena kedekatan daerah mereka dengan Makkah dan Hadramaut[19].

14.                   Somalia dan sekitarnya

Sama seperti penganut Syafi’i di Sudan, penganut Syafi’i di Somalia dan sekitarnya juga terpengaruh dari Yaman[20]. Daerah seperti Zayla’ dan Moghadishu pernah menjadi pusat pendidikan dimana diajarkan fiqh mazhab Syafi’i disana.

15.                   Ethiopia

Daerah ini juga banyak dihuni oleh penganut mazhab Syafi’i[21].

16.                   Daerah Afrika Timur (Tanzania, Kenya, Uganda, Madagaskar)

Mazhab Syafi’i sudah masuk ke daerah ini pada abad keempat hijriyah[22]. Daerah ini merupakan lalu lintas dari daerah Afrika menuju Yaman.

17.                   Daerah Syaisyan (dekat Kaukasus)

Daerah ini cukup banyak dihuni oleh penganut mazhab Syafi’i walaupun daerah tetangganya banyak menganut mazhab Hanafi seperti daerah Rusia dan pecahannya[23].

18.                   Dagestan

Dagestan adalah salah satu negara pecahan dari Uni Soviet (Rusia). Terletak di Utara Pegunungan Kaukasus. Mayoritas penduduknya menganut mazhab Syafi’i. Cukup banyak pelajar dari negara ini yang belajar ke timur tengah terutama ke Makkah. Diantara ulama Syafi’i yang terkenal dari negara ini adalah Syekh Abdul Hamid Asy-Syirwani (w. 1301 H) pengarang Hasyiyah terhadap kitab Tuhfah Al-Muhtaj fiqh Syafi’i.

19.                   Turkistan Timur

Daerah ini dulunya adalah penganut mazhab Syafi’i namun kemudian didominasi oleh mazhab Hanafi saat berada dalam kekuasaan Dinasti Utsmaniyah[24].

20.                   Australia

***

Secara umum, Mazhab Syafi’i merupakan mazhab dengan penganut kedua terbesar dan terbanyak setelah mazhab Hanafi (hal ini karena mazhab Hanafi banyak dianut oleh negara dengan penduduk muslim yang banyak seperti Rusia, Cina, India, dan lain-lain). Syekh Muhammad Zahid Al-Kautsariy (w.1371 H) mengatakan “Mazhab Syafi’i adalah mazhab ketiga yang muncul dan eksis sampai saat ini, serta mazhab kedua jika kita memandang kepada jumlah penganutnya di dunia”[25].

Dan mengamini pendapatnya Syekh Waliyullah Ad-Dihlawi bahwa mazhab Syafi’i adalah Mazhab Pertama dalam Soal progresifitas dan dinamisasi Mazhab. Semoga Allah merahmati seluruh ulama dan penolong mazhab Syafi’i serta ulama Islam lainnya, Aamiin.











[1] يقول التاج السبكي(ت771 (ومنهم أهل الشام ومصر ، وهذان الإقليمان وما معهما من عيذاب وهي منتهى الصعيد إلى العراق مركز ملك الشافعية منذ ظهر مذهب الشافعي اليد العالية لأصحابه في هذه البلاد ، لا يكون القضاء والخطابة في غيرهم ، ومنذ انتشر مذهبه لم يُوَلَّ أحد قضاء الديار المصرية إلا على مذهبه التاج السبكي ، طبقات الشافعية الكبرى (1/326).
[2] ابن خلدون ، المقدمة (1/449(

[3] ولما آل الحكم إلى الأيوبيين عاد المذهب الشافعي إلى مصر بقوة ، وجعل له السلطان الأكبر في الدولة مع سلطانه الروحي في الشعب ، واستمر سلطانه مستمرا إلى عصر المماليك ، ولما استولى العثمانيون على مصر جعلوا للمذهب الحنفي المكان الأول ، ثم جاء محمد علي باشا(ت1265هـ)
 فألغي العمل بالمذاهب الأخرى غير المذهب الحنفي ، وبقي للشافعي والمالكي مكانهما في الشعب. أبو زهرة ، تاريخ المذاهب الإسلامية ، (دار الفكر العربي) ص449

[4] ويقول أحمد تيمور باشا (ت1348هـ) ويغلب في مصر الشافعي والمالكي ، الأول في الريف ، والثاني في الصعيد والسودان أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة وانتشارها عند جمهور المسلمين (دار القادري ، بيروت ، ط1 ، 1990م) ص87

[5] يقول التاج السبكي(ت771هـ) : (ولم يُوَلَّ في الشام قاضٍ إلا على مذهبه إلا البلاساغوني ، وجرى له ما جرى ، فإنه ولي دمشق وأساء السيرة ثم أراد أن يعمل في جامع بني أمية إماما حنفيا ، وجامع بني أمية منذ ظهور مذهب الشافعي لم يؤم فيه إلا شافعي ولا صعد منبره غير شافعي )    التاج السبكي ، طبقات الشافعية الكبرى (1/326)
[6] أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة ص87
[7] يقول التاج السبكي(ت771هـ) : (واعلم أن أصحابنا فرق تفرقوا بتفرق البلاد فمنهم أصحابنا بالعراق كبغداد وما والاها
[8] Salah satu faktor menguatnya mazhab dikalangan masyarakat adalah dukungan dari pemerintahan. Dukungan tersebut biasanya terlihat dengan ditunjuknya seorang ulama besar dalam mazhab tertentu menjadi Qadhi/Hakim. Iraq sendiri memang pusatnya mazhab Hanafi sehingga ketika Daulah Abbasiyah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahan, ulama-ulama mazhab Hanafi lah yang diminta mengisi posisi Hakim. Dalam sejarah pernah pada masa khalifah Al-Qadir Billah (w. 422 H) menunjuk seorang Hakim bermazhab Syafi’i. Namun hal ini menimbulkan protes dari masyarakat sehingga akhirnya khalifah pun mencopot hakim tersebut dan menunjuk ulama mazhab Hanafi sebagai penggantinya. Lihat أبو زهرة – تاريخ المذاهب الإسلامية ص449
[9] قال التاج السبكي (ت771هـ) : (ومنهم أهل فارس .. ولم يبرحوا شافعية أو ظاهرية على مذهب داود والغالب عليهم الشافعية وهي مدائن كثيرة قاعدتها شيراز .. ونحو مائة منبر - يعني مائة مدينة - في بلاد أذربيجان وما وراءها يختصُّ بالشافعية لا يستطيع أحد أن يذكر فيها غير مذهب الشافعي
[10] يقول التاج السبكي (ت771هـ) : (وأما بلاد الحجاز فلم تبرح أيضا منذ ظهور مذهب الشافعي وإلى يومنا هذا في أيدي الشافعية القضاء والخطابة والإمامة بمكة والمدينة ، والناس من خمسمائة وثلاث وستين سنة يخطبون في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم ويصلون على مذهب ابن عمه محمد بن إدريس ، يقنتون في الفجر ، ويجهرون بالتسمية ، ويفردون الإقامة ، إلى غير ذلك ، وهو صلى الله عليه وسلم حاضر يبصر ويسمع ، وفي ذلك أوضح دليل على أن هذا المذهب صواب عند الله تعالى
[11] أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة ص88
[12] انظر : عبد الإله بن حسين العرفج ، نبذه مختصره عن المذهب الشافعي في الإحساء ، (نشر المؤلف ، ط1 ، 1427هـ) .

([44])
أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة ص88 .

([45])
د. عبدالله محمد أبو داهش ، أهل تهامة في القرون الإسلامية الوسيطة ، (ط1-1999م) (148)
[13] : يقول التاج السبكي(ت771هـ) : (ومنهم أهل اليمن والغالب عليهم الشافعية لا يوجد غير شافعي إلا أن يكون بعض زيدية ، وفي قوله ^ : (الإيمان يمان والحكمة يمانية) مع اقتصار أهل اليمن على مذهب الشافعي دليلٌ واضحٌ على أن الحق في هذا المذهب المطلبي
[14] سقاف علي الكاف ، حضرموت عبر أربعة عشر قرنا، ص58
[15] بشار يوسف الحادي ، علماء وأدباء البحرين في القرن الرابع عشر الهجري ، (بيت البحرين للدراسات ، البحرين ، ط1، 1416هـ) (1/42).
[16] أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة ، ص88 .
[17] ابن بطوطة ، تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار ، تحقيق عبدالهادي التازي (مطبوعات أكاديمية المملكة المغربية ، 1997م) (4/114) .
[18] أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة ص87
[19] حيدر إبراهيم ، مقال نشر في صحيفة الصحافة السودانية ، بعنوان (التعليم الديني المضمون والقضايا ) ، عدد 5181، تاريخ 19/11/2007م .
[20] ابن بطوطة ، تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار ، (2/114) .
[21] انظر: محمد الطيب اليوسف ، أثيوبيا والعروبة والإسلام عبر التاريخ (المكتبة المكية ، مكة المكرمة ، ط1 ، 1416هـ).
[22] د.غيثان جريس ود. السرسيد العراقي ، تاريخ الأقليات الإسلامية في العالم – (نادي أبها الأدبي ، أبها ، ط1 ، 1417) (1/30)
[23] محمد هلوش عثمان ، الشيشان مسلمون تحت الاضطهاد ، مجلة الرسالة ، عدد 4 ، رجب ، 1428هـ .
[24] أحمد تيمور باشا ، نظرة في تاريخ حدوث المذاهب الأربعة ، ص88 .
[25] ابن أبي حاتم ، آداب الشافعي ومناقبه ، مقدمة الشيخ الكوثري ص4

You Might Also Like

1 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images