Makruh Mengucapkan Salam

6:56 AM



Imam Al-Alusi pengarang tafsir Ruh Al-Maani, ketika mentafsirkan surat an-nisa’ ayat 86, mengutip bait-bait syair Imam Shadruddin Al-Ghazzi tentang tempat-tempat dimana makruh (bahkan haram) mengucapkan salam dan tidak wajib untuk dijawab. Bait-bait tersebut berbunyi :

سلامك مكروه على من ستسمع ... ومن بعد ما أبدى يسن ويشرع
مصل وتال ذاكر ومحدث ... خطيب ومن يصغى إليهم ويسمع
مكرر فقه جالس لقضائه ... ومن بحثوا في الفقه دعهم لينفعوا
مؤذن أيضاً مع مقيم مدرس ... كذا الأجنبيات الفتيات أمنع
ولعاب شطرنج وشبه بخلقهم ... ومن هو مع أهل له يتمتع
ودع كافراً أيضاً ومكشوف عورة ... ومن هو في حال التغوط أشنع
ودع آكلاً إلا إذا كنت جائعا ... وتعلم منه أنه ليس يمنع
كذلك أستاذ مغن مطير ... فهذا ختام والزيادة تنفع

“Ucapan salammu makruh diucapkan kepada orang-orang yang insya Allah akan kamu dengar (siapa jenis orangnya. Sedangkan kepada yang selain mereka, tetaplah disunahkan dan disyariatkan”

“Kepada orang yang sedang shalat, orang yang membaca, yang sedang berzikir dan menyampaikan hadits. Kemudian kepada khatib dan orang yang sedang konsentrasi menyimak bacaan orang2 yang telah disebutkan (bacaan shalat, buku, zikir dan hadits serta khutbah) dan orang yang sekedar mendengar mereka”

“Kemudian kepada orang yang sedang mengulang bacaan dan hafalan fiqihnya, orang yang sedang duduk di depan hakim (wali atau pemerintah). Kepada orang yang sedang membahas dan meneliti masalah fiqh. Tinggalkanlah (mengucapkan salam kepada mereka) agar ilmu mereka memberikan manfaat"

“Kemudian makruh juga mengucapkan salam kepada orang yang sedang azan dan iqamah serta kepada guru yang sedang mengajar. Seperti itu pula terlarang mengucapkan salam kepada lawan jenis (pemudi) yang bukan mahram”

“Makruh juga mengucapkan salam kepada orang yang sedang main catur dan permainan yang melenakan semisalnya. Makruh juga mengucapkan salam kepada orang yang menemani permainan tersebut”

“Terlarang mengucapkan salam kepada orang kafir dan yang sedang terbuka auratnya serta kepada orang yang sedang membuang hajat”

“Makruh pula mengucapkan salam kepada orang yang sedang makan kecuali jika kamu dalam kondisi lapar (dan ingin meminta dijamu oleh yang sedang makan) atau kita ingin belajar sesuatu darinya. Maka itu tidaklah terlarang”

“Kemudian kepada guru yang sedang sibuk belajar mengajar, kepada yang sedang menyanyi dan sedang melatih unggas. Maka inilah penutupnya sedangkan tambahan yang ada insya Allah bermanfaat”

Sebagian ulama menambah bait syair ini dengan tambahan berikut :

و زد عد زنديق و شيخ ممازح ... و لاغ و كذاب لكذب يشيع
و من ينظر النسوان في السوق عامدا ... و من دأبه سب الانام و يردع
و من جلسوا في مسجد لصلاتهم ... و تسبيحهم هذا عن البعض يسمع
و لا تنسى من لبى هنالك صرحوا ... فكن عارفا يا صاح تحظى و ترفع

“Dan tambahannya adalah mengucapkan salam kepada orang zindiq, orang tua yang sudah lemah, orang yang sedang lalai (tidak perhatian kepada yang mengucapkan salam) serta kepada orang yang sedang menceritakan kebohongan (sedang gosip)”

“Lalu kepada orang yang sengaja pergi ke pasar untuk melihat wanita dan sejenisnya adalah orang yang mencaci serta memaki orang lain”

“Begitu pula kepada orang yang sedang duduk di mesjid untuk shalat dan bertasbih dimana yang lainnya mendengarkan bacaan tasbihnya”

“Dan jangan lupa pula bahwa terlarang memulai salam kepada orang yang sedang talbiyah (haji atau umrah). Maka jadilah kamu orang yang tahu wahai pembaca semoga kamu bisa memeliharanya hingga terangkat derjatmu”

*Pada intinya, ucapan salam terlarang (makruh atau haram) kepada orang yang sedang sibuk dan uzur untuk mengucapkan salam, kepada orang yang tidak bisa memberikan keamanan dan keselamatan, kepada orang yang berbeda akidah serta kepada orang yang kehilangan potensi akalnya”

Sumber : Tafsir Ruhul Maani, Hasyiyah Ibn Abidin

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images