Profil MTI Canduang

5:30 PM

MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) Canduang adalah institusi Pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli dari halaqah pengajian Thuras (kitab-kitab) nya di Surau Baru Pakan Kamis Canduang yang beliau tekuni sejak tahun 1908 sepulang belajar dari Mekkah. Atas kesepakatan dengan sahabat-sahabatnya yang juga mengasuh pengajian halaqah Thuras yaitu Syekh Abbas Ladang Laweh dan Syekh Djamil Djaho, maka Sejak 5 Mei 1928 pola pendidikan halaqah itu berobah menjadi klasikal dengan memakai kelas, bangku, meja dan papan tulis untuk sebagai sarana belajar. Memasuki tahun 1950 Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang terdaftar di Departemen Agama. Pada tahun 1961 MTI Canduang di payungi oleh Yayasan Syekh Sulaiman Arrasuli.

Syekh Sulaiman ar-Rasuli adalah sosok ulama pejuang yang hidup pada tiga masa, yaitu masa pra kemerdekaan, masa kemerdekaan, dan masa pasca kemerdekaan.

Riwayat Kelahiran Syeikh Sulaiman ar-Rasuliy

syekh-sulaiman arrasuli

Sulaiman merupakan anak pertama (sulung) dari 2 orang bersaudara.

Saudara beliau bernama Lajumin Habib. Ayah beliau ulama besar Minangkabau di masa itu, yaitu Angku Mudo Muhammad Rasul dan ibu beliau bernama Siti Buliah. Beliau

adalah tokoh ulama dan pejuang kelahiran 10 Desember 1871 M, bertepatan dengan 1297 H. Tempat kelahiran beliau di daerah Pakan Kamih, Canduang, lebih kurang 11 Km dari Bukittinggi arah ke Payakumbuh

Syekh Sulaiman ar-Rasuliy di Masa Kecil

Telah memiliki karakter leadership (kepemimpinan) dan konstruktor (jiwa pembangun). Bersahabat, bermasyarakat dengan sesama masyarakat yang semasa dengannya. Tegas, sopan, dan memiliki moral yang tinggi dan luhur .

Syekh Sulaiman ar-Rasuli di Masa Pendidikan
Pendidikan Dasar Agama Islam dengan belajar membaca al-Qur’an dengan Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (Kakek Syekh ‘Arifin) pada tahun 1881 M/ 1307 H di Batu Hampar, Payakumbuh.
Pendidikan Ilmu alat dalam menela’ah al-Qur’an, yaitu ilmu nahwu dan ilmu sharaf kepada Syekh Abdushshamad al-Samiak (Tuanku Sami’) di Biaro tahun 1883-1884 M/ 1309-1310 H
Belajar ilmu fiqh dan pemahaman ilmu faraid dengan Tuanku Kolok (Kakek dari orang tua perempuan Prof. Dr. Mahmud Yunus) di Sungayang pada tahun 1885-1886 M/ 1310-1311 H
Kembali belajar dengan Tuanku Sami’ yang baru kembali dari Makkah pada tahun 1886 M/ 1311 H.
Pada tahun yang sama, merupakan awal perkenalannya dengan Yang Mulia Angku Haji Abbas Khadi Landrat Ford de Cock yang pada tahun 1926 membantu proses pembangunan MTI Candung
Selama tujuh tahun, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli belajar di Halaban dengan Syeikh Abdullah Halaban pada tahun 1890-1896 M/ 1315-1321 H, untuk mendalami berbagai disiplin ilmu, yaitu:
Ilmu-ilmu tata bahasa Arab (Ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah, Ushul Fiqh), Fiqh, Tafsir, Tashauf, dan Tauhid
Pada masa ini, beliau telah menjabat sebagai guru tuo (tutor) yang mewakili sang Syeikh pada saat-saat tertentu
Pada tahun 1896 M/ 1321 H akhir, beliau kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa beberapa orang murid-murid dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari dengan ulama-ulama besar yang telah menimba ilmu pengetahuan di kota suci Makkah.
Tahun 1903-1907 M/ 1328-1332 H), beliau berangkat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima

Pernikahan; Ibadah Haji; dan Pengembaraan untuk Mencari dan Mendalami Ilmu Agama Islam (1903-1907 M/ 1328-1332 H)
1 tahun sebelum keberangkatannya ke Makkah, ia telah dijemput jadi menantu sehingga waktu keberangkatannya, meninggalkan istri dengan seorang anak perempuan, yaitu Ruqayyah. Perjalanan Hajinya di bimbing oleh H. Abdurrahman Padang Gantiang dengan melalui jalur laut di Penang.

Pendidikannya di Makkah al-Mukarramah
Mendalami ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya sewaktu di Indonesia dengan para ulama yang disebutkan di atas.
Guru-gurunya adalah:

  1. Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
  2. Syeikh Mukhtar Azharad al-Shufy
  3. Syeikh Said Ahmad Syatha al-Maky
  4. Syeikh Utsman al-Sirwaqy
  5. Syeikh Muhammad Sa’id Mufty al-Syafi’i
  6. Tokoh-tokoh Ulama yang semasa belajar dengannya di Makkah
  7. Syeikh Abdullah Karim Amarullah
  8. Syeikh Muhammad Jamil Jambek
  9. Syeikh Muhammad Jamil Jaho
  10. Syeikh Abbas Abdullah Ladang Laweh
  11. dll

Kembali ke Kampung Halaman
Permintaan Ibunya, mengharuskannya kembali ke Indonesia.
Mendirikan “Surau Baru” sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama pengembaraannya
Berawalnya masa perjuangan dari segala aspek kehidupan masyarakat, sehingga mulailah ia hidup di dalam berbagai fenomena sosial.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli di Tinjau dari Aspek Pendidikan
Mendirikan Surau Baru, Pakan Kamih, pada tahun 1908 dengan menggunakan sistem halaqah sampai tahun 1927.
Mendirikan lembaga pendidikan klasikal di Canduang pada tahun 1928, dan masih eksis sampai sekarang melalui lembaga pendidikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung

Pendidikan Perspektif Syekh Sulaiman ar-Rasuli
Pendidikan adalah suatu proses memanusiakan manusia.
Pendidikan sepanjang hayat (long life education)
Pendidikan merupakan alat untuk memperoleh keridhaan Allah swt, sehingga materi pendidikan lebih menitik beratkan pada pengkajian agama Islam yang bersumber dari kitab klasik

Karakter Madrasah Tarbiyah Islamiyah dibangun oleh Syeikh Sulaiman ar-Rasuli
Menganut Faham Ahlussunnah wal Jama’ah (dalam kajian Akidah)
Menganut Mazhab Syafi’i (dalam kajian Fiqh)
Mempertahankan pola Halaqah dalam pendalaman kitab kuning disamping pola klasikal dalam PBM secara umum
Memberdayakan Tradisi Mudzakarah (Mempunyai Kebiasaan Kritis, Dialogis, Berfikir Moderat)

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli sebagai Tokoh Sosial Keagamaan dan Kemasyarakatan
Tokoh adat Minangkabau yang merekonstruksi dan menetapkan bunyi pepatah:
Syara’ mangato, adat mamakai; Minangkabau batubuah adat, bajiwa syara’; Pangulu-pangulu salaku juru batu, dan alim ulama salaku kamudi; Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah

(Bukittinggi, 4-6 Mei 1952; Kongres Ulama, Niniak mamak, dan Cadiak pandai)

Penulis buku tentang kajian adat alam Minangkabau, yaitu:

  1. Pedoman Hidup di Minangkabau
  2. Asal dan Pendirian Pangulu
  3. Pertalian Adat dan Syara’
  4. Pedoman Pangulu
  5. Buku-buku ini berisikan tentang tatanan sosial kemasyarakatan Minangkabau

Kiprahnya Ditinjau dari Aspek Sosial Politik
Ketua Sidang Konstituante pertama pada Pemilu tahun 1955 di Bandung
Penggagas berdirinya Mahkamah Syari’ah dan sekaligus terpilih sebagai KETUA di wilayah Sumatera Tengah. (1947)
Pencetus berdirinya Majelis Tinggi Islam Minangkabau (1944 )
Pendiri Ittihad al-Ulama (1921-1928 )
Pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (1928 )

Dinamika Pemikirannya dalam bidang ilmu akidah
Mengonsep tatanan akidah yang benar bagi seluruh elemen masyarakat dengan menulis buku “al-Aqwalu al-Mardhiyah” perspektif “ahl al-sunnah wa al-jama’ah”
Membantah kerancuan yang dituduhkan oleh H. Jalal al-Din (salah seorang tokoh yang berpengaruh) tentang kesesatan thariqat al-Naqsabandiyah dengan menulis buku “Tabligh al-amanah”

Pesan Terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli

Teroeskan Membina Tarbijah Islamijah Ini Sesoeai dengan Peladjaran yang Koe Berikan

Perjalanan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung; Dulu, Kini, dan Esok
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung merupakan bentuk rekonstruksi lembaga pendidikan yang telah mempunyai embrio semenjak terbentuknya sistem halaqah di Surau Baru
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung dibangun pada tahun 1926 dan secara resmi memulai pendidikannya pada tanggal 5 Mei 1928

=======================

MTI Candung; Tinjauan Historikal
Tahun 1928-1957, kurikulumnya 100% agama dengan memakai kitab kuning. Mulai tahun 1957, kurikulum MTI Candung telah mengadopsi kurikulum umum dan berkembang secara bertahap sampai munculnya SKB tiga menteri 1974 dengan rasio: 70% agama dan 30% umum, dan tetap berlaku sampai sekarang. Fase Perkembangan Pendidikan MTI Candung di Masa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli.
Tahun 1908 merupakan sistem halaqah sebagai awal pendidikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung yang bertempat di Surau Baru, berakhir pada tahun 1928.
Di tanggal 5 Mei 1928, maka pendidikan madrasah mulai diberlakukan dengan memakai sistem kalsikal dengan lama pendidikan adalah 9 tahun.
Pada tanggal 20 Mei 1930 organisasi yang dirintis bersama akhirnya tuntas dalam suatu bentuk pembahasan yang intensif yang disebut dengan “Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)”, kondisi ini berjalan sampai tahun 1945 dalam rangka mempertahankan eksistensi dan perkembangan Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang telah berkembang di Indonesia
Pada tanggal 24 September 1936, diadakan suatu rapat di Candung yang dihadiri oleh ketua dan para guru Madrasah Tarbiyah Islamiyah dengan salah satu keputusannya adalah menyamakan kurikulum bagi seluruh Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang ada di Indonesia.
Kemudian di tahun 1938, Persatuan Tarbiyah Islamiyah mengadakan Muktamar di Bukittinggi yang intinya memutuskan untuk menyusun rencana kurikulum berupa daftar pelajaran yang diseragamkan untuk seluruh Madrasah Tarbiyah Islamiyah
Memasuki tahun 1950, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung mulai didaftarkan pada Departemen Agama serta tahun 1970 kembali didaftarkan untuk kedua kalinya, sehingga perencanaan tersebut mendapat kendala dengan sikap masyarakat yang menentang masuknya pelajaran yang ditawarkan Dapertemen Agama karena ada bentuk kekhawatiran yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat bahwa pendidikan tarbiyah akan “dihapuskan”
Tahun 1961 berdirilah sebuah yayasan sebagai tempat bernaungnya sebuah pendidikan swasta yang dinamakan dengan Yayasan Syeikh Sulaiman ar-Rasuliy. Yayasan ini bertugas untuk memikirkan, merencanakan dalam penyelenggaraan pendidikan, pembangunan, dan perbaikan madrasah ini.

Berakhirnya Fase Kepemimpinan Syeikh Sulaiman ar-Rasuliy
Pada tahun 1965 M, seiring kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, maka jabatan sebagai pimpinan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung diserahkan kepada H. Baharuddin ar-Rasuli

Jabatan pimpinan yang ia tekuni tidak ada perubahan dari kepemimpian yang dipegang oleh Ayah beliau.

Fase Kepemimpinan Buya H. Baharuddin ar-Rasuliy (1965-1971)
Seluruh operasional madrasah dikelola oleh H. Baharuddin ar-Rasuliy dengan adanya persetujuan Syeikh Sulaiman ar-Rasuliy.
Kebijakan-kebijakan pimpinan tetap dipegang oleh Syeikh Sulaiman ar-Rasuliy secara substansif.
Fase Kepemimpinan Buya H. Syahruddin ar-Rasuli (1971-2005)
Pada tahun 1977, PB. Persatuan Tarbiyah Islamiyah terlibat dalam pengaturan pengelolaan madrasah ini dengan melahirkan direktorium madrasah yang terdiri dari lima orang yang akan mengendalikan perkembangan madrasah, diantara mereka adalah H. Baharuddin ar-Rasuli, H. Syahruddin ar-Rasuli, H. Moh. Nur ar-Rasuli, H. Izzuddin Marzuki, dan Abdullah Ali. Mereka yang disebutkan mempunyai tugas sebagai perencana dan pelaksana pendidikan madrasah agar dapat dijalankan dengan baik. Kondisi yang seperti tetap berjalan sampai pada tahun 1994.

Pengelompokkan Kurikulum semenjak 1994-2008

Pelajaran Agama

  1. Fiqh
  2. Hadits
  3. Tauhid
  4. Tafsir
  5. Tashauf
  6. Ushul Fiqh
  7. Mantiq
  8. Mushthalah

Pelajaran Bahasa

  1. B. Arab
  2. Nahwu
  3. Sharaf
  4. Tashrif
  5. Qawa’id
  6. Balaghah
  7. B. Inggris
  8. B. Indonesia

Umum

  1. KWN
  2. Ilmu Jiwa
  3. Sejarah Umum
  4. Geografi
  5. Antropologi
  6. IPS
  7. IPA
  8. Ilmu Komputer

Fase Kepemimpinan Buya H. Muhammad Noer ar-Rasuliy (2004-2006)
Kepemimpinan yang beliau jalankan sebagai Rais al-’Aam merupakan usaha untuk membantu kepemimpinan yang dipegang oleh Buya H. Syahruddin ar-Rasuliy sebagai Syaikh al-Madrasah.


Fase Kepemimpinan Buya Badra Syahruddin ar-Rasuliy 2005-2007
Kepemimpinannya sebagai Rais al-’Aam, dibimbing oleh Buya H. Muhammad Noer ar-Rasuliy yang menjabat sebagai Syaikh al-Madrasah menggantikan posisi Buya H. Syahruddin ar-Rasuliy yang wafat pada 24 Desember 2005.

Fase Kemimpinan Buya H. Amhar Zen ar-Rasuliy (2007-sekarang)
Kepemimpinan Buya H. Amhar Zen ar-Rasuliy merupakan usaha untuk melanjutkan kepemimpinan Buya Badra Syahruddin sehubungan dengan kesibukan yang beliau emban sebagai pegawai tata usaha Universitas Andalas.

Kondisi Jumlah Siswa MTI Candung (1996-2008 )
1 1996/ 1997 212
2 1997/ 1998 079
3 1998/ 1999 088
4 1999/ 2000 063
5 2000/ 2001 917
6 2001/ 2002 885
7 2002/ 2003 856
8 2003/ 2004 815
9 2004/ 2005 855
10 2005/ 2006 688
11 2006/ 2007 805
12 2007/ 2008 806
13 2008/ 2009 780

Prestasi Siswa di Tingkat Provinsi dan Nasional Setahun Terakhir

  1. Madrasah Sains Expo Eksprimen cabang Fisika, Jogyakarta, 14-18 Januari 2009 tinkat Nasional juara 1 (Satu).
  2. Mushabaqah Qira’at al-Kutub, Kalimantan, 1-6 Desember 2008 tingkat Nasional juara 3 (Tiga).
  3. Merakit Komputer, Bukittinggi, Agustus 2008 tingkat Sumatera Barat juara 1 (Satu).
  4. Penulisan Karya Ilmiah Tingkat SMA, Payakumbuh, Maret 2008 tingkat Sumatera Barat juara 1 (Satu)

Kegiatan Pengembangan Diri

  1. Hafizh
  2. Kaligrafi
  3. Tata Busana
  4. Merakit Komputer
  5. Muhadharah; Mudzakarah; Munazharah
  6. Nasyid; Qasidah.
  7. Karate – do Indonesia
  8. Takrau
  9. Volly Ball
  10. Foot Ball
  11. Tenis Meja
  12. Bulu Tangkis


You Might Also Like

1 komentar

  1. Semoga MTI terus menerus melahirkan ulama dan intelektual muslim
    Salam kenal dari seorang alumni pesantren Kalimantan Selatan yang kini menjajaki ranah bisnis.

    ReplyDelete

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images