Menyaring Berita

10:52 PM



Fitnah besar pernah menimpa Ummul Mu’minin Aisyah.Peristiwa ini terjadi setelah perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Peperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. Karena suatu keperluan Aisyah keluar dari tempatnya (tandu yang diberi hijab) kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya.Rombongan pun berangkat dengan dugaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam tandunya tersebut. ‘Aisyah pun duduk di tempat tersebut seraya menunggu tandu tersebut menjemputnya kembali.

Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu’aththal. Ia melihat seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah.

Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Abdullah bin Ubay (salah seorang tokoh munafik) ikut-ikutan membesar- besarkannya. Maka fitnah atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin. Tidak hanya kalangan sahabat saja akan tetapi Rasulullah pun mengalami demikian.

Namun akhirnya Allah menurunkan surat Annur ayat 11 untuk menjawab semua tuduhan itu: ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”

***

Di zaman Yunani kuno, Sokrates adalah seorang terpelajara dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanaannya yang tinggi.

Suatu hari , seorang pria berjumpa dengan Sokrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda ?”

“Tunggu sebentar,” jawab Sokrates.”Sebelum Anda memberitahukan sesuatu, saya ingin anda Melewati sebuah ujian kecil.Ujian Tersebut dinamakan ujian saringan tiga kali.”

“Saringan tiga kali ?” tanya pria tersebut.”Betul,” lanjut Sokrates.

“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin ide yang bagus adalah menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan.Itulah kenapa saya sebut ujian saringan tiga kali.”

“Saringan pertama adalah kebenaran.Sudah yakinkah anda bahwa apa yang anda katakan kepada saya memang benar ? “

“Tidak,” kata pria tersebut, “sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan memberitahukannya kepada anda,” “Baiklah,” kata Sokrates “jadi, Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

Sekarang mari kita coba saringan kedua,yaitu kebaikan.”Apakah yang anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik ?”

“Tidak,sebaliknya, mengenai hal yang buruk.”

“Jadi,” lanjut Sokrates , “Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin bahwa itu benar .”

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya yaitu Kegunaan.”Apakah yang ingin anda beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut berguna untuk saya ?”

“Tidak,sungguh tidak,” Jawab pria tersebut.

“Kalau begitu,” simpul Sokrates,”jika apa yang ingin anda beritahukan kepada saya tidak benar,tidak baik, dan bahkan tidak berguna untuk saya , kenapa anda ingin menceritakannya kepada saya ?”

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti seseorang,keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali.Jadi sebelum berbicara , gunakanlah saringan tiga kali.


***

Salah seorang teman saya dalam sebuah diskusi berceletuk ,“Jujur saja , hari ini saya tidak bisa lagi mempercayai media.Media hari ini tidak lebih dari propaganda mereka yang berkepentingan.”

Saya sendiri sepakat dengan ini,meskipun tentunya dengan beberapa catatan.”Bad news is a good news”, semakin buruk sebuah berita maka akan semakin bagus ratingnya di kalangan pembaca dan semakin asyik pula para media untuk melemparkannya ke masyarakat.Seorang presiden misalnya,bisa saja ceramah panjang lebar tentang kemaslahatan masyarakat di tempat A, namun berita yang mengandung pelajaran berharga tersebut akan tenggelam ketika headline yang muncul adalah “Presiden Curhat tentang gajinya”, apa yang ia sampaikan dalam acara tersebut pun tidak diketahui lagi.

Namun bukan berarti semua berita itu salah.tapi memang butuh kedewasaan,penilaian yang proporsional dan tentu saja saringan yang matang terhadap berita tersebut.Bagaimanapun berita hari ini tetap menyimpan fakta,namun sering kali terasa kabur dan bahkan tidak terbaca akibat ada yang menutupinya.Contoh kasus Arifinto kemaren,fakta yang bisa kita ambil adalah bahwa beliau telah membuka tablet komputernya saat sidang.Sesuai etik wakil rakyat ini jelas sebuah pelanggaran.Namun fakta ini pun kabur tatkala muncul berita bahwa yang ia buka adalah gambar porno, meskipun semestinya hal ini perlu penelusuran lebih lanjut,namun sayang berita sudah kadung di lempar ke masyarakat, dan masyarakat pun siap untuk “menghakimi”.

***

Sokrates telah mengajarkan kita bagaimana menyaring sebuah berita yang sampai kepada kita,sebelum kita memasukkannya ke dalam folder di otak dan (bahkan) hati kita.Benar , baik , dan berguna adalah timbangan kita ,apakah berita tersebut pantas kita masukkan ke otak dan hati atau hanya sekedar masuk telinga kanan dan keluar lagi (yang jelas hal ini akan menghabiskan waktu kita).

Sikapilah berita dengan proporsional dan analisalah dengan objektif.Jangan terlalu berlebihan dalam membenarkan satu sisi dan menjustifikasi sisi yang lain salah.Selalu ada ruang dimana kita bisa terlebih dahulu untuk berbaik sangka terhadap si pelaku dan biarkan proses Check and re-check (tabayun) yang menyelesaikannya.Toh kalau memang itu adalah sebuah kesalahan,yakinlah bahwa ia takkan lepas dari pengadilan yang maha Adil di akhirat kelak di hadapan Allah ta’ala.Wallahu a’lam bish-showab

Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images