(Belajar ) Dilema

12:16 PM

Berbeda dengan di Indonesia, hari Sabtu di Mesir adalah hari sibuk. Kondisinya nyaris sama dengan hari Senin di Indonesia, karena hari sabtu adalah hari pembuka aktifitas mingguan. Di Mesir liburnya adalah hari jum’at sebagai bentuk penghormatan kepada hari Jum’at serta agar para muslim berkonsentrasi penuh untuk beribadah di dalamnya.

Cerita tentang hari Sabtu, sabtu kali ini banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan. Pertama, hari sabtu adalah hari ‘ wajib ‘ saya pergi ke Mesjid Al-Azhar. Kenapa ? karena di Mesjid Azhar ada majelis ilmu hadits yang diajar oleh seorang Guru Hadits terkenal bernama Syekh Ahmad Ma’bid Abdul Karim. Biasanya jam 7 pagi saya sudah siap untuk berangkat kesana. Berangkatnya harus benar-benar pagi agar tidak terjebak macet, maklum saja perjalanan ke Mesjid Al-Azhar memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan.

Namun pagi ini entah kenapa badan saya terlalu capek sehingga malas untuk melepaskannya dari dekapan hangat selimut. Apalagi cuaca dingin diluar hasil amukan angin peralihan musim cukup untuk membuat saya meriang. Dan pagi itu pun saya lewati dengan tidur-tidur ayam. Walau begitu, di dalam batin saya terjadi perperangan besar. Si Syetan dan Nafsu berkolaborasi meruntuhkan semangat saya untuk belajar. Lama sekali perperangan itu terjadi, hingga apa yang saya lakukan tidak ada enaknya sama sekali. Saya tidak bisa tidur, tidak bisa belajar, bahkan tidak bisa menikmati hiburan lewat playlist komputer saya, dan tentunya saya juga ragu-ragu untuk bersiap-siap menuju mesjid.

Perperangan itu terus terjadi hingga tak sadar jarum jam di layar komputer sudah menunjukkan jam 9 lebih. Perut saya pun tiba-tiba berbunyi karena keroncongan, dan disinilah letak keajaibannya. Saat perut saya terus bernyanyi dan menari dengan irama yang tak saya mengerti, saya teringat enaknya tho’miyah bil Bayd (makanan Khas Mesir) yang dijual di kios kecil belakang mesjid Al-Azhar. Dan dengan semangat menggebu-gebu untuk menikmati makanan ini, saya pun mengambil handuk, membersihkan diri dan bersiap-siap menuju Mesjid Al-Azhar.

Dan memang sesampainya di kawasan al-Azhar saya terlebih dahulu kesana sebelum masuk ke pengajian Majelis Hadits bersama syekh walau agak telat dikit. Saya ketawa, ternyata niat duniawi saya masih begitu besar hingga mengalahkan motivasi ukhrowi. Semangat saya masih harus dilecut dengan hal-hal yang berbau Dunia sebelum bisa menyelami ranah keikhlasan akhirat. Walau begitu saya masih harus bersyukur bahwa Allah masih sempat memberikan saya semangat untuk kesana dan melakukan tajdid niat ketika memasuki mesjid Al-Azhar (setelah kenyang makan tentunya). Meskipun diawali dengan riya’ dan motivasi dunia, paling tidak saya masih sempat mencicipi pengajian ilmu akhirat yang nilainya luar biasa. Teringat dengan perkataan salah seorang guru , ‘ terkadang kita memang dipaksa untuk beramal dengan riya dan merobah niat ketika tubuh kita sudah terbiasa. Bada’na bir riya wan tahaina bil ikhlas / kita mulai dengan riya dan kita akhiri dengan ikhlas ‘ . Yah kalau ga bisa mendapatkan yang sempurna, jangan ditinggalkan juga semuanya.

***

Pelajaran kedua, tentang komitmen dan amanah. Hari Sabtu ini, salah seorang adik saya di Organisasi Minang berencana melaksanakan Akad nikah sekaligus walimahan. Dengan berani, ia yang masih sangat muda itu menguatkan tekad untuk memasuki kehidupan baru. Bayangkan, umurnya belum genap 20 tahun dan calon istrinya masih 19 tahun. Umur yang masih sangat muda untuk melangsungkan pernikahan. Namun ia tetap bertekad dengan bulatnya azzam dalam dirinya, untuk membangun keluarga bahagia di bawah Ridlo Allah. Dan ia pun menyempatkan diri untuk mengundang saya, dan saya pun tak punya alasan untuk tidak menghadiri acara walimahan tersebut (yah itung-itung bahan pelajaran buat entar ^_^).

Maka sepulang menghadiri pengajian, saya pun langsung bertekad untuk menghadiri undangan walimahan tersebut. Rencananya saya mau pulang ke rumah dulu untuk istirahat, lalu nanti setelah ashar saya berangkat kesana. Komitmen saya adalah bahwa saya akan datang ke lokasi walimahan nya yang berjarak cukup jauh dari rumah saya.

Namun ketika saya mau berangkat, tiba-tiba datang sebuah panggilan dari sahabat di ujung sana. Beliau meminta saya untuk segera ke Wisma Nusantara yang saat itu sedang ada acara Internasional English Debate Contest yang diselenggarakan oleh Organisasi yang saya pimpin ( PWK PII Mesir ) dengan PPMI Mesir. Katanya ada beberapa hal yang mesti saya tanda tangani, dan itu sangat penting mengingat acara tersebut dihadiri oleh perwakilan beberapa mahasiswa dari negara-negara dunia. Kedatangan saya bisa saja mempengaruhi kredibilitas Indonesia di mata mereka.

Saya pun dilema (Music Background : Cherrybelle). Ada komitmen dan amanah kepengurusan yang mesti dilaksanakan saat itu. Persoalan utamanya adalah saat itu sudah sore, dan kedua acara (walimahan dan English Debate) akan selesai setelah maghrib sebelum isya. Yang menambah rumit persoalan adalah arah kedua lokasi sangat berlawanan, yang satu ke utara dan lainnya ke selatan. Belum lagi angkutan untuk menuju dua tempat tersebut sangat susah plus kemacetan yang mungkin terjadi.

Kembali saat itu batin saya dipenuhi perperangan yang dahsyat. Walau komitmen awal saya adalah ingin menghadiri walimahan, namun kalau dinilai dari intensitas kepentingan maka acara debate contest lebih penting karena akan menyangkut juga dengan harkat dan martabat organisasi yang saya pimpin serta Indonesia. Akhirnya setelah berpikir cepat, saya memutuskan untuk ke wisma nusantara dulu sembari berdoa dalam hati agar diberi kesempatan datang ke walimahan. Kalaupun tidak sempat menghadiri acaranya, paling tidak saya harus bertemu dengan adik saya tersebut untuk berucap selamat dan doa.

Dan memang kejadiannya sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Saya datang ke Wisma Nusantara. Menyelesaikan segala urusan. Maghrib datang, saya shalat dulu di Masjid dekat wisma, lalu bergegas mencari bis menuju lokasi walimahan. Turun dari bis ternyata acara sudah usai, diketawakan oleh teman-teman. Namun saya tidak peduli. Dengan langkah kaki cepat bergegas ke lokasi dan alhamdulillah sempat memeluk dan berdoa buat mempelai pria yang juga adik tingkat saya.

Hidup ini adalah pergulatan dilema yang tak akan pernah ada ujungnya. Namun setiap dilema pasti ada jawabannya. Dan harus kita sadari, kita diuji disana. Ketika ada hal yang dilema, tugas pertama kita bukanlah untuk memilih, namun mencerdasinya agar keduanya bisa dikerjakan. Memilih baru dilakukan ketika sudah tidak ada opsi lagi. Dan disana kita harus belajar rela dan merelakan.

You Might Also Like

1 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images