Konservasi sebagai bagian Ishlah dengan Alam dan Lingkungan

12:44 AM

Dalam islam, Alam dan lingkungan adalah bagian dari tugas kekhalifahan manusia yang harus dijaga dan dikelola sebaik-baiknya.Kontrak manusia sebagai khalifah pengelola bumi dan segala isinya memunculkan simbiosis menarik antara keduanya. Jika manusia berbuat baik dengan alam, maka alam pun akan menghasilkan kebaikan buat manusia, sebaliknya jika manusia tidak mengelolanya dengan baik maka kehancuranlah yang akan menimpa manusia [Q:S Al-Baqoroh - 27].

Sayangnya, manusia begitu mudah terlena oleh tipu daya nafsu mereka hingga muncul kerusakan di muka bumi. Mereka adalah Manusia yang berorientasi dunia dan lupa bahwa ia punya tugas untuk mengelola alam ini sebijak mungkin sesuai tuntunan Sang Pencipta. Demi keuntungan jangka pendek, mereka habisi nyawa hewan hanya demi kesenangan. Mereka gunduli hutan hanya demi keuntungan yang tak lama tahannya. Mereka seolah tak sadar bahwa masih ada generasi di belakang mereka yang akan merasakan dampak negatif luar biasa akibat ulah mereka.

Akibatnya, Alam pun memberontak. Hubungan antara manusia dan alam pun mengalami disharmonisasi. Tak heran kalau kemudian bumi ini semakin panas suhunya karena hanya sedikit pepohonan yang menyedekahkan udara bersihnya. Lingkaran kehidupan pun terputus yang menyebabkan rusaknya rantai makanan dan kehidupan para hewan. Mereka pun lalu turun gunung dan mulai mencari 'alternatif' berupa daging manusia dekat tempat tinggal mereka.Manusia yang tidak tahu apa-apa pun kena getahnya.

Al-qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 41 menyinggung bahwa kerusakan di darat dan laut itu memang ulah manusia. Dan manusia -tanpa pandang bulu- pun akan merasakan dampaknya. Satu-satunya cara adalah dengan kembali membangun hubungan harmonis dengan Alam. Manusia harus kembali kepada tugas awalnya yaitu mengelola alam dengan bijak. Persoalannya adalah alam sudah terlanjur 'kecewa' dan marah. alam sudah terlalu tersakiti oleh tingkah manusia.

Maka, perlu kiranya manusia melakukan proses ' ishlah ' alias perdamaian dengan alam. manusia harus kembali memperlakukan alam dan membuatnya kembali menjadi seperti alam yang sesungguhnya. Alam harus kembali kedalam kondisi dimana ia bermula berada di bumi ini, harmonis, dimanfaatkan dengan cerdas dan bijak, serta diobati kalau ia sakit dan rusak.

Prof.Dr.Ali Jum'ah Mufti Negara Mesir dalam bukunya "Al-Bi'ah wa Al-Huffazh 'Alaiha min Manzhur Islami" mengatakan bahwa untuk menghindari kerusakan yang diakibatkan oleh tidak harmonisnya hubungan alam dengan manusia adalah dengan melakukan perbaikan. Konsep "La'allakum yarji'un"dalam Surat Ar-Rum diatas tidak hanya dimaknai sebagai tindakan penyesalan yang sadar oleh manusia, namun lebih jauh harus dimaknai sebagai upaya manusia melakukan konservasi terhadap alam dan lingkungan. Konservasi lingkungan adalah wajib hukumnya bagi setiap manusia, walau dalam implementasinya ia harus merujuk kepada para ahli dalam bidang ini.

Oleh karena itu, konservasi sebagai cabang ilmu Al-hayah/ Biologi semestinya menjadi konsentrasi tersendiri bagi para manusia khususnya muslim.Keuntungan utama bagi para muslim adalah bahwa Islam meletakkan kewajiban akan pentingnya peduli terhadap alam sebagai bagian perintah agama yang implikasinya adalah pahala dan dosa. Motivasi ibadah yang terkandung dalam kajian ilmu konservasi alam semestinya menjadi stimulus buat para muslim yang konsen di bidang ini untuk terus meningkatkan kapabelitasnya dalam melakukan konservasi lingkungan. Walau tentu saja kewajiban menjaga lingkungan tetap terletak di pundak setiap muslim.

Sebagai Epilog tulisan ini, mari kita tadabburi Ayat Allah dalam surat Al-Qoshosh ayat 77 "dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". Sesungguhnya Alam dan lingkungan telah memberikan begitu banyak kebaikan kepada kita, lantas kenapa kita malah merusaknya ? Mari kita perbaiki alam ini.

" Kita harus menganggap bumi kita sebagai pinjaman dari anak-anak kita, bukan sebagai warisan dari para leluhur kita " [G.H. Brundtland, mantan Perdana Menteri Norwegia]

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images