Kisah Ahli Ibadah & Orang Gila

2:16 PM



Suatu hari, seorang orang gila berjalan dekat seorang Abid (Ahli Ibadah) yang sedang beribadah dalam keadaan menangis dan air mata yang tertumpah. Sang Abid berdoa “Ya Tuhanku, Jangan masukkan hamba ke nerakamu, ampunilah dan kasihanilah hamba. Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang, jangan Engkau azab hamba dengan nerakamu. Sesungguhnya hamba ini sangatlah lemah, tiada daya dan upaya sedikitpun dalam menolak serta menghindari pedihnya azabmu. Badan hamba yang begitu lemah, kulit hamba yang sangat tipis, tulang hamba yang begitu rapuh, tidak akan sanggup untuk menahan panasnya api nerakamu. Ampunilah hamba dan kasihanilah hamba ya Allah”.

Mendengar doa Abid tersebut, orang gila itu pun tertawa terbahak-bahak begitu keras hingga mengalihkan konsentrasi sang Abid. Ia pun bertanya pada orang gila tersebut “apa yang membuatmu tertawa wahai orang gila ?”.

Orang gila menjawab “Karena kamu menangis lantaran takut api neraka”.

Si Abid kembali bertanya “Dan kamu tidak takutkah pada dahsyatnya api neraka ?

Tidak, aku sama sekali tidak takut” ujar Orang gila itu.

Giliran Si Abid yang tertawa dan berkata “memang benar engkau sudah gila ternyata”.

Orang gila itu lalu berkata “bagaimana mungkin engkau takut neraka wahai Abid padahal kamu mempunyai Tuhan yang Rahmatnya begitu luas meliputi segala hal ?

Itu lantaran aku memiliki dosa yang jikalau Allah hukum dengan keadilanNya, Niscaya aku akan terlempar ke neraka. Dan Aku takut dan menangis supaya Allah merahmatiku dan mengampuni seluruh dosaku sehingga aku tidak dihisab kelak lantaran adilNya beliau. Dan dengan Karunia, Kebijaksanaan dan Kasih SayangNya, Allah masukkan aku ke Sorga dan menjauhkanku dari api neraka” jawab si Abid.

Mendengar jawaban itu, Si Orang gila pun tertawa lebih keras dari yang sebelumnya. Dengan kesal, Abid bertanya kembali “kenapa engkau tertawa ?”.

Si Orang gila menjawab “Wahai Abid, bukankah kamu memiliki Tuhan yang Maha Adil dan tidak Akan merugikan mu sedikitpun lalu kamu takut akan keadilanNya ?”.
Disisimu ada Allah yang maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha menerima taubat lalu engkau takut akan nerakaNya ?”.

Si Abid balas bertanya “Apakah engkau tidak takut pada Allah, hai orang gila ?”.

Tentu saja, Aku takut pada Allah tapi ketakutan ku bukan karena nerakaNya” jawab si orang gila.

Si Abid tercengang, lalu berkata “Jadi, jika kamu tidak takut nerakaNya, kamu takut lantaran apa ?”.

Orang gila itu menjawab “Aku takut saat Allah menghadapiku dan bertanya padaku ‘Kenapa kamu durhaka padaKu wahai HambaKu ?’. Kalaupun aku masuk neraka, aku lebih suka dimasukkan kesana tanpa harus ditanya seperti itu oleh Allah nanti. Sungguh Azab neraka akan terasa lebih mudah bagiku ketimbang harus dihadapi dan ditanyai Allah dengan pertanyaan itu. Sungguh, aku tidak sanggup menghadapi Allah dengan mataku yang telah berkhianat padaNya dan menjawab pertanyaanNya dengan lidah yang telah begitu sering mendustai PerintahNya. Kalaupun aku masuk ke neraka dan Allah redha padaku, maka itu tidaklah mengapa”.
Si Abid kembali tercengang dengan jawaban orang gila tersebut, dan kali ini membuatnya berpikir lama. Orang gila itupun berkata “wahai Abid, aku akan menceritakan pada mu sebuah rahasia namun jangan kamu ceritakan pada siapapun”.

Rahasia apa itu wahai orang gila yang cerdas ?” jawab Abid.

Wahai Abid, sesungguhnya Tuhanku tidak akan memasukkan ku ke neraka. Kamu tahu sebabnya kenapa ?”

Kenapa ?

Karena Aku menyembahNya lantaran aku cinta dan rindu padaNya, sedangkan kamu menyembahNya lantaran kamu takut akan nerakaNya dan tamak terhadap SorgaNya.” Jawab Orang Gila.

Persangkaanku terhadapNya lebih baik dari persangkaanmu, harapku padaNya lebih utama dari harapMu. Oleh karena itu, kenapa kamu tidak berharap sesuatu yang lebih utama dari apa yang sekarang kamu harapkan padaNya ? Sesungguhnya Musa alaihissalam pergi berharap melihat api agar ia bisa menggunakan api tersebut untuk menghangatkan dirinya namun dia kembali sebagai nabi. Dan aku menghadap tuhanKu berharap dapat menyaksikan keindahan dan ke maha-kuasa an Tuhanku lalu aku kembali sebagai orang gila”.

Si Orang Gila pun berlalu sambil terus tertawa meninggalkan Si Abid yang kembali menangis tersedu.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images