Friday, March 12, 2010

Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia



Deskripsi singkat tentang kurikulum apa saja yang pernah dikembangkan dalam program pendidikan di negeri tercinta Indonesia. Salah satu konsep terpenting untuk maju adalah “melakukan perubahan”, tentu yang kita harapkan adalah perubahan untuk menuju keperbaikan dan sebuah perubahan selalu di sertai dengan konsekuensi-konsekuensi yang sudah selayaknya di pertimbangkan agar tumbuh kebijakan bijaksana. Ini adalah perkembangan Kurikulum Pendidikan Kita:



RENCANA PELAJARAN 1947



Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.



Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.



RENCANA PELAJARAN TERURAI 1952



Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau.



Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.



KURIKULUM 1968



Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9.



Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.



KURIKULUM 1975



Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas.



Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.



KURIKULUM 1984



Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).



Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.



KURIKULUM 1994 dan SUPLEMEN KURIKULUM 1999



Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan.



Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.



KURIKULUM Berbasis Kompetensi 2004



Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.



Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. (sumber: depdiknas.go.id)



KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran) 2006



Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.



dari berbagai sumber

6 Responses to “Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia”

Rendy BF said...
November 21, 2011 at 7:35 AM

seiring berkembangnya kurikulum di dunia pendidikan kita.,.,
apakah ini sangat mempengaruhi perkembangan mental pendidik maupun peserta didik??


Anonymous said...
December 11, 2011 at 7:22 PM

gimana para pelajar indonesia mau maju kalo kurikulumnya kayak gini?? nggak bikin tambah pinter tau nggak...


Zamzami Saleh said...
December 11, 2011 at 9:13 PM

Pendidikan Indonesia itu rusak di seluruhnya , mulai dari sistem , manajemen , kurikulum sampai oknum yg begitu banyak bermain didalamnya...

saya sendiri termasuk yang tidak setuju dnegan sistem kurikulum sekarang , terkesan otak siswa diperas layaknya mesin tekanan , mereka kehilangan rasa "manusia" dalam dirinya


isaninside said...
December 12, 2011 at 5:44 PM

Salam kenal Sob.. Sesama blogger palanta..

Hanya sedikit berbagi pandangan.
Menurut saya sistem yang dirancang sudah baik dan sudah direncanakan seadaptif mungkin. Hanya saja terjadi "Salah tafsir" dilingkungan Satuan pendidikan. "Siswa" diperas terjadi karena kesalahan dalam menafsirkan itu, dan lebih kepada "kejar target" oknum pimpinan-pimpinan, mulai dari kecil hingga mungkin pimpinan kota atau kabupaten.


Zamzami Saleh said...
December 12, 2011 at 10:51 PM

@isaninside : yups bisa jadi

meskipun yang saya lihat , pembacaan terhadap kebutuhan dan kondisi sosial Masyarakat Indonesia kurang jadi perhatian oleh pemilik kebijakan pendidikan.Secara umum , tidak sampai 50 % institusi Pendidikan di Indonesia yang bisa menerapkan kurikulum yang muncul belakangan ( KBK dan KTSP ). Sistem ini adalah adaptasi dari pendidikan di Amerika yang dalam proses pelaksanaanya membutuhkan perangkat dan manajemen yang matang , apalagi struktur dan infrastruktur pendidikan kita banyak yang belum kuat untuk menanggungnya.Namun ternyata malah dipaksakan , walhasil ketimpangan parah terjadi.

Sistem ini akhirnya menjadi semacam lingkaran , mengingat sistem ini membuahkan manusia2 berkarakter pragmatis.

Yah semoga ke depan lebih baik.

pada akhirnya saya setuju bahwa , betappun bobroknya sistem ini , namun jika ditopang oleh perangkat dan manusia2 yang punya nurani dan kecerdasan tinggi , insya Allah akan ada perbaikan . Sayang , kemana kita harus mencari orang2 seperti ini (teringat Film Jepang " Seito Sokhun / My Dear Students" )

Salam kenal Sob


Anonymous said...
February 21, 2012 at 3:45 PM

mas bro bisa kasih sumber sumbernya ga???kirim donk ke email ge zicoul@yahoo.co.id


Post a Comment