Banyak pengemis , tanya kenapa ?

5:05 AM

Tidak jauh berbeda dengan indonesia, saya baru menyadari bahwa menjelang ramadhan, para pengemis di mesir pun seakan bertambah jumlahnya.Hampir setiap saat dan tempat saya menjumpai mereka.Setiap pergi shalat jama'ah ke mesjid,satu atau dua pengemis terlihat duduk sambil menengadahkan tangannya di bawah pohon dekat mesjid tersebut.Saat saya pergi menjemput bantuan berupa ifthor gratis dari para Dermawan mesir,beberapa pengemis cilik dengan berbagai ekspresi menarik-narik ujung baju saya sambil berharap agar saya mengeluarkan uang ala kadarnya saja.Dan tatkala saya pulang menunaikan tarawih berjama'ah,pengemis berbagai umur pun memenuhi sisi kiri dan kanan jalan dengan jumlah yang cukup banyak,lebih dari sepuluh dalam kerlingan mata saya.Semua berlangsung terus menerus sampai hari Idul Fitri datang.Saat klimaks dimana semua pengemis menggantungkan harapan terakhirnya kepada mereka yang diberikan kelebihan harta oleh Allah,agar membagi sedikit kelebihan tersebut kepada mereka.

Bedanya Di Indonesia, pemerintah membuat program khusus untuk "memberantas" para gepeng (geromboloan pengemis) ini bahkan sebelum Ramadhan menjelang.Semua dilakukan dengan tameng dan apologi yang bermacam-macam,mulai dari pembersihan kota dari pandangan yang "tak sedap" sampai pada apologi untuk meminimalisir mental "meminta-minta" rakyat.

Sebagian kita malah cenderung mengaminkan program pemerintah tersebut.Yah beberapa dari kita seringkali merasa terganggu dengan keberadaan mereka yang seolah tak ada habisnya. Baru saja memberi ke satu pengemis, tak sampai dua menit datang lagi pengemis lainnya, begitu seterusnya. Boleh jadi, dalam satu hari, mencapai dua puluhan pengemis yang datang. Terganggu? Tunggu dulu

Mari kita bicara soal kenapa mereka ada dan sangat ramai di Ramadhan dan Hari Raya.Sejenak mari kita bebaskan pikiran kita dari tudingan bahwa mereka semua "dipasok" dari berbagai daerah,diangkut dengan truk barang besar sebelum subuh,dan kemudian di sebar ke beberapa tempat termasuk ke tempat dimana kita berada saat itu.

Sebelum kita mengeluh dan menuding bahwa "parade" pengemis tersebut ada yang mengkoordinir,mari kita berkaca kepada diri kita sendiri.Sebuah pertanyaan menarik coba kita lontarkan,Pengemis ada karena ada yang memberi ataukah karena tidak ada yang memberi ? dalam artian apakah ada dermawan yang mengasihani dan lantas merogoh koceknya ataukah karena tiada yang peduli ? Ataukah saking banyaknya yang mereka dapatkan dari hasil pengemis,sehingga menginspirasi beberapa temannya yang bukan pengemis untuk mengikuti jejak langkahnya.Karena mungkin temannya melihat bahwa "penghasilan" pengemis tersebut ternyata lebih banyak dari mereka yang luntang-lantung dengan pekerjaannya.

Watak orang Indonesia yang baik hati dan tidak tegaan bisa jadi menjadi salah satu lobang kecil yang dimanfaatkan oleh para pengemis untuk terus mengemis.Mereka melihat bahwa ternyata "rezeki" yang mereka dapatkan lewat mengemis lebih besar dan kerjaannya pun ringan.Cuma dengan menengadahkan tangan sembari memasang mimik muka memelas,uang pun mereka dapatkan.Dalam beberapa kasus investigasi yang saya tonton di televisi,bahkan mereka "tega" berpura-pura cacat dengan menempelkan perban di tubuh mereka semata-mata hanya untuk memuluskan pekerjaan mereka.

Kembali ke soal banyaknya pengemis di Bulan Ramadhan dan Hari Raya yang kita lihat jumlah nya lebih meningkat dari hari-hari biasanya.Sebelum kita kembali mengeluhkan keberadaan mereka,ada beberapa pertanyaan menarik yang mesti kita lontarkan.Bulan Ramadhan adalah bulan dimana kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan termasuk memperbanyak infak dan sedekah.Kita sadari atau tidak,kita sendiri lebih bersemangat untuk mengeluarkan harta kita di jalan Allah pada bulan ini ketimbang bulan-bulan lainnya.Di Bulan Ramadhan ini kita juga di wajibkan untuk membayar zakat fitrah.Dan sebagian kita yang merasa sudah wajib mengeluarkan zakat hartanya,cenderung lebih semangat menunaikannya di bulan ini.Wal hasil,secara logika, jatah untuk pengemis di Bulan Ramadhan ini cukup banyak.

Pertanyaan pertama yang patut kita lontarkan adalah sejauh mana tingkat efektivitas distribusi zakat tersebut ? Apakah sudah merata dan maksimal ? Sudah sejauh manakah kita melakukan pendataan terhadap jumlah orang miskin dan yang "pura-pura" miskin di tempat ? atau jangan-jangan kita sendiri belum mengeluarkan zakat tersebut dan kemudian tidak ambil pusing dengan masalah ini ?

Pertanyaan kedua,sejauh manakah kita peduli terhadap mereka ? Peduli dalam artian memberikan pendidikan terhadap mereka untuk lebih mendaya gunakan potensi mereka ketimbang mereka harus meminta-minta ? atau jangan-jangan kita tak tertarik untuk melaksanakan perbaikan mental terhadap mereka dan membiarkan mereka diliputi paradigma "meminta" seumur hidupnya ?

Atau mungkinkah para pengemis itu yang bandel, tetap mengandalkan cara termudah mendapatkan rezeki dengan menadahkan tangan? Wallaahu ‘a’lam

You Might Also Like

2 komentar

  1. aku selalu bersyukur tidak jadi pengemis..

    ReplyDelete
  2. Jujur saya ngga pernah memberi ke pengemis lagi, pengemis jaman sekarang kebanyakan usia produktif, remaja sampai 40th.

    Lebih baik saya memberikan bantuan untuk orang2 kurang mampu yang rajin bekerja seperti kuli bangunan, montir, tukang sapu jalan, tukang sampah, dll.

    Pengemis jaman sekarang kebanyakan kaya2. Di dekat kantor saya ada mesjid besar, setiap hari jumat ada pengemis wanita, tampangnya tidak seperti pengemis, rapih bersih, dan baju baru (warna masih terang cerah, bagus). Waktu saya lihat orang paling sedikit ngasih 5000, kebanyakan 10-20rb, karena memang ini lingkungan kelas atas. Itu saya lihat setiap lewat dalam waktu 3 menit didepan pengemis itu, bisa ada 3 orang yang ngasih uang. Bisa di bayangkan dia bisa dapat beberapa ratus ribu dalam waktu sekejap.

    Berdasarkan cerita pengalaman saya dan teman2, menurut saya sebagian besar pengemis justru lebih kaya dibanding yang ngasih. :)

    ReplyDelete

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images