Tentang senioritas,senior selalu benar ?

10:34 AM

Beberapa waktu lalu salah seorang adik saya yang baru memasuki jenjang perguruan tinggi,menumpahkan kekesalannya terhadap seniornya lewat media facebook.Saya sendiri terkejut pada awalnya.Beberapa saat kemudian,salah seorang sahabat saya yang kebetulan telah berada di tahun kedua kuliahnya,juga memosting status dengan nada yang sama dengan adik saya,kekesalan dan keprihatinan terhadap prilaku senior dalam wadah senioritas kelembagaan.

Berkenaan dengan senioritas,kita tentu pernah mendengar sebuah undang-undang unik berbunyi ; pasal satu :Senior selalu benar , pasal dua : Jika senior melakukan kesalahan maka lihat ke pasal Satu.

Konon, mulanya dua pasal kramat itu berlaku di lingkungan militer. Soal kebenarannya, saya tidak berani memastikan.Yang jelas di dunia pendidikan yang berbau senioritas,undang-undang ini sudah menjadi hal yang dianggap lumrah.Dalam masa-masa MOS di sekolah lanjutan dan OSPEK di Dunia Perkuliahan,Pasal tersebut sangat terkenal tajinya,Sehingga para senior merasa bebas untuk memperlakukan juniornya sesuka hati.Saya sendiri alhamdulillah belum pernah merasakannya,karena kebetulan masyarakat di pondok saya lebih "egaliter"

Kita mungkin masih ingat beberapa kasus yang terjadi di beberapa institusi pendidikan di Negeri Kita.Kasus kematian beberapa Praja STPDN/IPDN,Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran,serta kasus "pemukulan ria" yang terjadi di beberapa sekolah berbasis militer lainnya,dan yang terakhir merebak adalah kasus pelecehan terhadap Anggota Paskibra.Bahkan beberapa Video kekerasannya sempat beredar di tengah-tengah kita,yang tentu saja membuat kita miris dan mengusap dada

Efek secara psikologis pun muncul.Aksi balas dendam yang di wariskan secara turun menurun pun makin menggila.Dendam terhadap senior pun mereka balaskan dengan kadar yang serupa terhadap junior mereka,bahkan ada yang dengan kadar berlebih.

Kita mungkin seringkali melihat kenyataan di lapangan,ketika yang salah adalah atasan dan senior maka tidak ada seorang pun yang berani untuk sekedar mengingatkan,apalagi menegur.Mengingatkan,menegur bahkan untuk menasehati mereka yang derajat duniawinya lebih tinggi dari kita dianggap sebuah hal yang tabu,yang sangat dilarang untuk dilakukan.Nilai kebenaran pun akhirnya terkalahkan oleh rasa segan,rasa tahu diri,dan rasa "takut dipecat" atau yang ekstrim rasa takut akan di azab oleh sang senior maupun atasan.Hal ini pun akhirnya menjadi sebuah keniscayaan dalam dunia senioritas.

Pertanyaan buat kita adalah mestikah perbuatan yang menjadi kebiasaan ini kita biarkan ? mestikah kekeliruan yang mentradisi ini terus berjalan mengalahkan kebenaran yang ada ? Atau mungkinkah kita ternyata sudah menjadi bagian yang terus-menerus membudayakan tradisi ini ?

Tidak,sudah saatnya kita berubah.Sudah saatnya kita berani untuk mengungkapkan kebenaran,walaupun mereka adalah senior kita,walaupun mereka adalah atasan kita.Sudah waktunya mengungkapkan kebenaran itu sebagai tradisi kita.Sudah waktunya orang yang benar itu lebih berani dari mereka yang salah.Tidak perlu ada rasa malu,tidak perlu ada rasa segan.toh mereka yang semestinya malu,karena berbuat salah.Mari sama-sama kita berubah.Menjadi masyarakat yang egaliter.Bukankah Allah hanya melihat derajat ketakwaan kita ?

عنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( قُلِ اَلْحَقَّ, وَلَوْ كَانَ مُرًّا ) صَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ"

Abu Dzar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadaku: “Katakanlah yang benar walaupun ia pahit.” Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dari hadits yang panjang."

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images