Mari sekali lagi,Kita ciumi kaki ibu

4:28 AM


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah …


Bagi penggemar penyanyi balada legendaris Iwan Fals,pasti tidak asing dengan lirik yang satu ini.Sebait indah sarat makna,menceritakan tentang begitu beratnya perjuangan yang harus dijalani oleh seorang ibu untuk melahirkan,membesarkan dan mendidik buah hatinya,Kita.

Sejenak mari kita bervisualisasi,memutar lagi memori kita dengan pahlawan hidup kita tersebut.Meresapi lagi setiap langkah kehidupan kita yang nyaris tidak pernah lepas dari andil beliau,ibu tercinta.

Mari hadirkan kembali wajah sang ibu dalam bayangan kita, dengan seizin Allah genangan air mata akan membanjiri kelopak mata yang mungkin sudah sekian lama kita biarkan tak menyapanya. Kerut di pipinya mengisyaratkan kelelahan yang sangat, tenaga yang mulai habis dimakan waktu seolah tak lagi sanggup sekedar mengangkat tubuh rapuhnya. Di bola matanya, nampak jelas guratan berat kehidupan yang telah dilaluinya. Semua itu, dilakukannya hanya untuk kita, yang dicintainya.

Saat lahir,kita hanya bisa menangis.Padahal beberapa saat sebelumnya,tanpa bisa kita ketahui apalagi rasakan,wanita itu tengah bernegosiasi dengan maut,nyaris antara hidup dan mati dia berjuang sekuat tenaga, baginya keselamatan kita adalah yang paling utama.Wanita itu yang sembilan bulan sebelumnya senantiasa kita susahkan karena dia harus membawa kita kemana saja dia melangkah.Namun dia ikhlas untuk kita susahkan.

Saat bayi,ketika wanita itu menyuapi kita dengan bubur dan susu,dengan jumawa kita ludahkan kembali makanan tersebut sambil kemudian menangis tak jelas apa maksudnya,namun dia dengan sabar kembali mengulangi menyuapi kita.Tak jarang kita kencingi bajunya.Namun senantiasa dia dengan penuh senyum kasih membersihkan badan kita dan mengganti pakaian kita tanpa peduli dengan bau amis kencing kita yang menusuk hidungnya.

Saat kita balita,dia membelikan kita pakaian baru yang bagus dan lucu.Dan kemudian tanpa ada rasa salah dan dosa,kita pun kotori baju tersebut dengan lumpur dan tanah tempat kita bermain.Namun tetap saja dia tersenyum dan dengan sabar mencuci baju kita agar bisa dipakai besok harinya.

Saat kita beranjak remaja.Dengan egois sering kali kita tidak mengindahkan nasehatnya.Tak jarang dalam hati kita dongkol dan bahkan menghina ibu kita.Kita anggap dia wanita masa lalu yang tidak mengerti kehidupan masa kini.Namun senantiasa dia sabar.

Saat kita dewasa dan mungkin telah berumah tangga, Tidak jarang kesibukan kerja dan keluarga membuat kita melupakannya. Bahkan mungkin rasa cinta kepada istri dan anak-anak mengikis habis cinta kepada ibu (tentu cinta kepada Allah dan Rasulullah diatas segalanya). Tak sedikit waktu kita luangkan sekedar untuk tahu keadaannya, meski handphone kita tak pernah lepas dari tangan.

Dalam perjalanan bersama ibu, perlakuan kasar kerap kita layangkan kepadanya. “Uf”, “ah,” “cis” menjadi kosa kata yang biasa terlontar dari mulut kotor ini. Tak pernah kita menghargai keringatnya kala menyiapkan sarapan dan makan malam. Andai kita tahu, air matanya tak pernah kering di pertengahan malam, kala ia mengadu kepada Allah perihal anak-anaknya. Bibirnya tak pernah berhenti berdo’a agar kita menjadi anak yang bisa dibanggakan. Tak peduli darah menjadi penghias kakinya demi menghantarkan sang buah hati menggapai cita.

***

Islam sendiri memposisikan penghormatan terhadap orang tua di posisi yang sangat tinggi.Dalam Al-qur'an surat al-Isra' ayat 24 Allah bahkan menyamakan posisi kewajiban berbuat baik terhadap orang tua dengan posisi kewajiban manusia untuk tidak menyembah selain Allah.Terkhusus untuk perjuangan seorang ibu,Al-Qur'an Surat Lukman ayat 14 dengan gamblang menyebutkan "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…" di surat lain, begitu tegas Allah menekankan dan mengingatkan kesusahan ibu saat mengandung serta memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada ibu (QS.Al-Ahqaf:15).

Begitu juga ketika Nabi SAW ditanya tentang siapa yang paling patut dihormati dan diperlakukan sebaik-baiknya, Nabi menjawab: “Ibumu”. Dan hal itu diulangnya sampai tiga kali, sebelum ia menyebut “bapakmu”. Dalam hadits lain yang masyhur, Nabi SAW berkata bahwa surga terletak dibawah telapak kaki kaum ibu.

Pernah seorang lelaki bertanya kepada Imam Ja'far Shadiq : "Apakah ada nikmat yang diperintahkan Allah SWT dalam al-Quran untuk diperlihatkan kepada orang tua?" Imam menjawab, "Itu berarti bahwa engkau harus bersikap baik dan terpuji dalam pergaulan dengan mereka. Tidak memaksa mereka meminta pertolonganmu di saat perlu, bahkan justru engkau berusaha memenuhi keperluan mereka sebelum mereka memintamu."

***

Dan sekarang,kita pun semakin sombong.Seolah tak butuh andil beliau lagi.Terlebih saat kita telah berada dan berkecukupan.Tak kita sadari bahwa beliau adalah pejuang sejati.Tatkala masalah-masalah hidup menerpa kita,tak jarang kita lemah dan berputus asa,kita tidak menyadari lagi bahwa ibu kita pernah mengalami perjuangan dan masalah yang lebih dahsyat dari yang kita alami dan Ibu kita berhasil melewatinya.

Bagi ibu,kebahagian anaknya adalah yang paling utama.Ia akan lakukan apa saja asal anaknya hidup bahagia.. Tak sadar,ditengah masalah-msalah yang selalu membelenggu kita,sesungguhnya kita butuh kembali kepadanya, memandangi keteduhan wajahnya, membelai tangan keriputnya, menciumi kakinya dan meminta do’anya.

Pesonamu..
Masih jelas kurasa hingga kini
Menemani hingga ku dewasa
Derai air mata dan pengorbanan mu takkan tergantikan
Terima Kasih Ibu...


*Tahniah buat seluruh Ibu-ibu terdahsyat sedunia...terkhusus untuk ibu ku tercinta yang akan berulang tahun dua hari lagi (09 september 2010) Love U mom,Mohon doa semoga anakmu berhasil dan kita bisa bertemu lagi...

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images