Tamu terakhir

11:24 AM

Pagi itu sekitar pukul 10 waktu indonesia barat,saya telah sampai di sekretariat PII Pasaman.Berkas-berkas yang dibutuhkan oleh Tamu terhormat yang akan datang kesana telah saya siapkan sejak semalam.Tamu itu akan membawa efek yang signifikant untuk PII Pasaman jikalau antara kami terjadi kesepakatan.Tamu itu akan datang sekitar pukul 11.Sisa waktu yang ada pun saya gunakan untuk mengecek kembali kondisi ruangan pertemuan.Untuk pertemuan itu,kupilih kemeja terbaik yang kumiliki ,tak lupa pula dengan celana dan sepatu yang matching dengan kemejanya.Bahan-bahan pertemuan ini pun telah ku persiapkan jauh-jauh hari yang membuatku yakin akan bisa menguasai pembicaraan nanti

***

Begitulah kira-kira contoh persiapan yang kita lakukan ketika menyambut tamu.Contoh lain pun bisa kita ketengahkan, seperti membersihkan dan merapikan perabotan di rumah,menyiapkan jamuan yang terlezat,dan lain-lain.Semua itu kita persiapkan agar kita tidak malu dan dipandang rendah oleh tamu kita.

Fenomena menerima tamu ini pun dapat kita lihat dari sisi seberapa hormatnya kita terhadap tamu kita tersebut.Jikalau tamu itu adalah bos kita di kantor,para pejabat tinggi pemerintahan,calon mertua,atau sahabat akrab kita,tentunya pelayanan kita terhadap mereka akan lebih tinggi ketimbang tamu yang biasa saja misalnya seperti teman sekantor ataupun tetangga sebelah.Namun tetap kita tidak akan membuat para tamu kita kecewa dengan pelayanan yang kita berikan.

Namun tentu saja,tidak semua tamu yang bisa kita layani dengan kondisi semisal itu.Kita tentu sering mendengar istilah “tamu tak diundang”.Bisa jadi mereka tukang kredit,tukang tagih utang,sales barang-barang atau mungkin saja beberapa orang yang belum kita kenal.Basa-basi seperti “maaf,orangnya lagi keluar” atau “maaf,orangnya lagi tidur” biasa terlontar dari para pembantu atau siapapun yang ada dirumah. Intinya, sikap dan pelayanan yang diberikan oleh seorang tuan rumah akan tergantung siapa dan tujuan apa yang dibawa oleh tamunya. Ia bisa saja menerima dengan tulus dan senang hati, menunda dan memintanya menunggu beberapa saat agar kita bisa bersiap dan berbenah, atau menolak kedatangannya, bila perlu dengan bantuan Satpam.

Tamu,siapapun orangnya pasti mempunyai kepentingan dan kebutuhan dengan kita.Yang paling sederhana adalah kebutuhan mereka untuk menyambungkan silaturahmi dengan kita.Dalam islam,menerima tamu bahkan menjadi salah satu indikasi ada atau tiadanya iman dalam diri seseorang. Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat hendaklah memuliakan tamunya.” (H.R. Bukari dan Muslim).Oleh karena itu,semestinya kita menunjukkan senang dan suka cita kita tatkala menerima tamu dan menghilangkan segala rasa kesukaran serta rasa ketidak sukaan kita.

Bahkan jika perlu,konflik-konflik yang ada di dalam keluarga kita pun hendaknya kita hentikan,agar jangan sampai terlihat oleh tamu yang berkunjung.Dan diupayakan sekuat mungkin agar jangan sampai mereka mengetahui pertengkaran,konflik,serta ketidak akuran yang terjadi di rumah kita.

***

Begitu seringnya kita menerima tamu,namun pernahkah kita menyadari bahwa siang nanti,pagi ini,atau mungkin tak berapa lama setelah membaca tulisan ini,terdengar ketukan pintu rumah kita.Tatkala kita membuka pintu itu, kita tahu bahwa yang datang dan berdiri di hadapan kita adalah ‘tamu terakhir’,tamu yang sama yang pernah hadir di hadapan orang-orang yang telah mendahului kita. Tamu yang datang dengan kabar baik atau buruk tergantung seberapa banyak persiapan dan bekal yang telah kita kumpulkan.Tamu yang bahkan tidak bisa kita tolak ataupun kita tunda sedetik pun.Tamu yang oleh sebagian besar kita sangat tidak diharapkan kehadirannya,namun tiada satupun yang bisa membantu kita untuk menolaknya.Tentu saja secercah senyum akan terukir di wajah kita ketika kita telah memiliki persiapan yang sangat banyak untuk menyambutnya,namun bagaimana jika belum ?

Rasulullah saw bersabda ketika ditanya oleh seorang Anshar, “Siapakah mukmin yang cerdas? Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan lebih baik persiapannya untuk setelah kematian, itulah yang cerdas.” (H.R Ibnu Majah)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images