Tekad Belajar Ari

2:45 PM

“Walau bagaimana pun,aku harus belajar” begitu tekad yang selalu digenggam erat oleh Ari.Sudah hampir seminggu,sejak tahun ajaran baru dimulai,Ari berhasil mengikuti pelajaran meskipun dengan cara “Ilegal”.Yah,Ari bukanlah pelajar yang terdaftar di SLTP 1 Merdeka,tempat dimana ia “Belajar” setiap hari nya.Dengan bermodalkan Seragam lusuh yang ia temukan di tempat sampah,ia pun berhasil duduk mengikuti pelajaran di sekolah itu.Walaupun harus berganti kelas tiap harinya.

Ari sendiri adalah anak yang cerdas, sayangnya ketiadaan biaya membuat ia mesti putus sekolah.Namun karena tekad yang kuat untuk belajar,ia pun harus menempuh cara yang tidak legal ini,cara yang sama yang ia peroleh dari Film “3 idiot” yang tak sengaja ia tonton.Cara itu pun lumayan ampuh untuk memuaskan hasrat belajarnya,Walaupun ia tahu suatu saat apa yang dilakukannya pasti akan ketahuan.Namun seperti yang didapatinya juga dari Film 3 idiot “tinggal pindah sekolah saja” ujarnya dalam hati.

***

Fenomena Ari dan begitu banyak anak-anak negara ini yang sangat ingin mendapatkan pendidikan yang layak , semestinya harus diperhatikan oleh pemerintah.Kenyataan di lapangan,pendidikan malah menjadi komoditi baru pemasaran.Anda punya uang,pendidikan pun akan anda dapatkan.Tak peduli anda punya keinginan untuk belajar atau tidak.Tujuan dari pendidikan yang sejatinya untuk mencerdaskan bangsa pun , diubah dengan kasarnya menjadi “ mendapatkan ijazah,mendaftar menjadi pegawai di sektor swasta ataupun negeri,lalu bisa meminang tambatan hati yang ayahnya selalu menanyakan berapa gaji yang dimiliki”.

Beberapa usaha pemerintah untuk mensiasati pendidikan buat “kaum lemah” pun terasa hambar.Entah bagaimana mental para “pejuang” pendidikan di negeri kita hari ini.Memang betul ada upaya “bos” yang digelontorkan untuk pemberantasan biaya sekolah alias gratis.Namun seakan tak ingin kehilangan jatah,beberapa oknum pun memanfaatkannya.Upaya untuk menelikung dana pun mulai dijalankan.

***

Bagi yang mampu dan berkecukupan,Nikmat belajar dan berpendidikan pun semestinya kita syukuri dengan bijak.Mari belajar dengan giat karena sejatinya keuntungan dari usaha belajar kita akan kembali kepada diri kita sendiri.Hormati guru karena lewat gurulah ilmu itu disampaikan.Beradablah dalam menuntut ilmu.Dan satu lagi ilmu itu diperoleh dengan usaha yang panjang maka bersabarlah dan giatlah.

Jangan sia-siakan kesempatan yang ada.Lalu berusahalah untuk menolong mereka yang kebetulan tidak diberikan kesempatan yang sama seperti kita untuk belajar.Saya sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana teririsnya perasaan seorang Ari ketika melihat beberapa teman sebayanya lebih memilih bermain PS dan Internet tatkala pelajaran sedang diajarkan disekolah.Mungkin juga Ari akan menangis ketika melihat beberapa teman seusianya,mencoret-coret seragam sekolahnya sebagai tanda bahwa mereka telah “terbebas” dari sebuah fase sekolah.

Bagi kita yang mampu,yuk kita berbagi.Mungkin buku-buku pelajaran lama yang tidak kita gunakan lagi bisa kita sumbangkan buat mereka ketimbang harus kita ikat dengan tali rafia dan berujung di tukang loak kiloan.beberapa seragam sekolah yang masih layak lebih baik kita sumbangkan daripada mesti kita coret-coret.Dan kalau bisa mari kita sisihkan sedikit saja uang jajan kita tiap harinya buat mereka.Bagi kita jumlah seribu atau lima ribu rupiah mungkin masih mudah kita daptkan dan terasa sepele,namun buat mereka itu jumlah yang sanggup membuat air mata mereka menetes lantaran susah sekali mendapatkannya.

Andai kita saling berbagi,andai pemerintah begitu rajin memperhatikan kebutuhan pendidikan rakyat kelas bawah,saya tidak bisa membayangkan akan betapa pesatnya kemajuan pendidikan di Indonesia.Mungkin bagi sebagian orang cita-cita ini utopis,berada dalam khayalan namun hilang dalam kenyataan.Namun bagi saya ini harapan yang pasti akan terwujud.Insya Allah kita bisa...

***

Ada sebuah cerita.Suatu hari seperti biasa Pak Tarno mengajar Kewarganegaraan di Kelas 2 SLTP Merdeka.Pak tarno pun mengajukan sebuah pertanyaan kepada para siswa.”Ada yang tahu bunyi pasal 31 ayat 1 ?” tanya Pak Tarno kepada seluruh siswanya.Salah seorang Siswi pun mengangkat tangannya,lalu maju kedepan dan menuliskan bunyi UUD pasal 31 ayat 1 ,” Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.”.Bagus kata Pak tarno.

“Lalu ada yang tahu bunyi Pasal 33 ayat 3 UUD 1945” lanjut pak tarno.dan lagi cuma siswi tersebut yang mengangkat tangan,Pak tarno pun mempersilahkan ia maju ke depan.Siswi itu pun menuliskan bunyi Pasal 33 ayat 3 di papan tulis “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Begitu tulisnya.”Bagus sekali” puji pak tarno,namun tiba-tiba Ari mengangkat tangan.”Ya kenapa ?” kata pak tarno.”Pak ada yang kurang dalam penulisan pasal 33 ayat 3 tersebut” Ujar Ari.”Benarkah ? coba betulkan” kata pak tarno lagi.

Dengan tenang Ari pun maju kedepan,lalu menuliskan bunyi pasal 33 ayat 3 di papan tulis ,” Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat ? “.

Dan Pak Tarno pun menggelengkan kepalanya...

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images