Semua ada tempatnya

12:00 PM

Pagi ini, tiba-tiba saja saya teringat beberapa memori saat masih nyantri di Ponpes MTI Canduang, Bukittinggi. Yah maklum saja, akhir-akhir ini beberapa teman se-angkatan sibuk mempersiapkan rencana untuk reunian bareng di ponpes tersebut. Sudah hampir 4 tahun lamanya tidak berjumpa dan moment perayaan kelulusan merupakan waktu yang tepat untuk berjumpa bersama sembari ikut memeriahkan acara. Sayang, badan saya masih terjebak di rantau orang, jadi saya harus relakan kembali diri untuk tidak bisa menghadirinya walau hati sangat ingin.

Salah satu memori yang masih saya ingat adalah memori jum'at pagi. Seperti yang lumrah diketahui , ponpes saya menetapkan hari libur mingguan berbeda dengan ketetapan pemerintah yang sudah susah payah mencetak tanggal merah di hari minggu. Bagi kami santri pesantren, hari jum'at adalah hari minggu-nya kami (dengan konsekuensi malam jum'at adalah saturday nite nya). Nah, setiap jum'at pagi, beberapa orang santri biasanya memilih untuk lari pagi menuju objek wisata 'Sungai Jernih' yang terkenal dengan ikan raksasa dan bukit-nya yang indah.

Namun ada suatu waktu (yang saya sendiri lupa kapan persisnya) dimana beberapa adik kelas meminta saya dan beberapa orang teman untuk menemani mereka kesana, bukan untuk lari pagi namun untuk ber-wisata alias jalan-jalan sampai sore. Saya pun menyanggupi karena memang sudah lama saya tidak kesana (maklum, walau jaraknya dekat, saya sendiri malas kesana karena alasan pribadi *keuangan* *curhat*). Jadilah pagi itu adik-adik kelas yang masih lucu dan lugu bersiap diri kesana. setelah beberapa saat menunggu, saya yang tidak membawa persiapan apapun kesana tersentak kaget saat melihat besarnya tas yang dibawa masing-masing adik kelas tersebut. Mulut pun tak tahan untuk komentar 'kalian mau kemping disana ?' tanya saya sambil tertawa geli. Saya pun me-razia tas mereka untuk melihat apa saja yang mereka bawa.

Ada yang membawa baju ganti (katanya nanti mau renang di sungai), ada yang bawa beberapa botol kosong aqua ukuran besar ('mau ambil air dari mata air di bukit itu bang'), ada yang membawa nasi lengkap dengan lauk pauknya ('ini dia' ujar saya dalam hati *ketawa setan*) bahkan ada juga yang membawa senter (Mau piknik apa ronda ?). Saya cuma bisa tertawa geli (lagi). Yang lebih parah, diantara mereka ada yang masih memakai sarung, ada juga yang memakai baju koko lengkap dengan peci dan sorbannya ('kan anak pesantren bang', 'kan saya orang muslim bang, ini kan pakaian muslim'). Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.

Perjalanan pun dimulai, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja sampai akhirnya berada di lokasi sungai jernih. Saat melakukan pendakian, disanalah muncul insiden saat si adik kelas bersarung dan berbaju koko yang ta'at namun lagu harus bersusah payah mendaki bukit tersebut. Berulang kali ia harus memperbaiki sarungnya yang kedodoran. Baju koko yang indah pun harus kotor dan kumal karena terjatuh akibat susah saat mendaki. Sesampai diatas bukit, santri tersebut harus rela kehilangan sarungnya yang robek dan baju kokonya yang kotor. Beruntung, ada temannya yang membawa pakaian ganti dan belum sempat berenang. Terpaksa ia pinjamkan baju dan celana buat santri bersarung tadi.

Dan akhirnya Subhanallah, Nikmat alam yang indah terlihat jelas saat berada di puncak bukit sungai jernih tersebut. Udara yang sejuk, pemandangan yang luar biasa serta bekal makanan yang enak (bukan punya saya) mengakumulasi titik-titik nikmat dahsyat yang baru sangat sendikit bisa disyukuri.Sangat saya rekomendasikan buat kawan-kawan yang ingin liburan dengan cost yang murah meriah untuk kesana.

***

Nah saya mau membahas sisi lain dari memori diatas. Pernah nonton sinetron ramadhan Para Pencari Tuhan ?. Di PPT jilid 3, diceritakan bang Udin - sang penjaga keamanan kampung aka Hansip baru selesai menunaikan manasik haji bareng pak Ustadz Fery dan Bang Asrul. Saking besarnya kerinduannya untuk naik haji, ia pun mengganti kostum hansipnya (dalam hal ini topi hansipnya) dengan peci putih khas ala orang yang baru pulang haji. Secara umum hal ini tidak terlalu bermasalah, namun dalam soal etika ini jelas hal yang cukup jadi bahan pertanyaan. Sungguh sangat tidak sinkron ketika seorang hansip yang memiliki kostum gagah namun tidak cocok dengan topinya yang ia pakai saat bertugas. Salahkah ? jelas tidak , hanya saja tidak cocok secara nilai etis. Semua ada tempat dan aturannya.

Kembali ke cerita memori saya diatas. Jelas santri tersebut tidak salah jika ia tetap memakai sarung dan baju kokonya saat mendaki. Apalagi dengan terang ia telah mengutarakan alasannya bahwa kostum tersebut merupakan identitasnya sebagai seorang muslim dan santri. Namun untuk mendaki bukit ataupun naik gunung, masih ada pakaian yang tepat dan lebih pas untuk dipakai seperti T-shirt dan celana gunung ataupun celana panjang misalnya, bukan sarung dan baju koko. Toh selagi mengikuti standarisasi berpakaian islam yang menutup aurat, tidak menampakkan lekuk tubuh (bagi yang wanita) dan lain-lain, hal ini tidaklah masalah.

Terlebih, identitas kemusliman dan ke-santri-an seseorang bukanlah tempelan. Identitas muslim bukanlah sekedar simbol-simbol yang diwakili oleh baju gamis, baju koko, peci, kopiah atau bahkan baju dengan sablonan "I'm proud to be a moslem". Islam punya aturan yang indah dan tegas namun tidaklah se-saklek yang kita bayangkan. Selagi kita berjalan dalam koridor tersebut, inovasi apapun bisa kita jalankan. Dalam hal berpakaian misalnya, islam telah menetapkan pakaian yang sopan, rapi dan menutup aurat. Silahkan sesuaikan sendiri jenis pakaian kita dengan standar umum tersebut. Baju koko dan sarung saat di mesjid, pakaian dinas saat di kantor, seragam sekolah saat di kelas dan pakaian T-shirt naik gunung saat mendaki. Semua ada tempatnya.

Yakinlah, identitas kemusliman kita akan terlihat dengan kualitas ibadah dan amal kita. Siapa pun akan mengenali kita sebagai seorang muslim lewat ibadah kita, amal kita, tutur kata yang sopan, sikap yang anggun serta kepribadian sehari-hari, bahkan saat kita tidak sedang memakai baju gamis ataupun peci.

You Might Also Like

1 komentar

  1. mantap bang.,
    salam kenal, anggota baru di palanta ni bang... :)
    semangat untuk menuntut ilmu saya ber+ setelah baca postingannya bang,
    tolong follbeknya ya bg. :))))

    ReplyDelete

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images