Dan andai mereka tahu bagaimana kuliah di kairo...(part 2)

11:35 AM

Sebagai rakyat indonesia yang berbudayakan timur,sejak kecil aku jarang sekali diperlakukan “kasar” oleh orang tua ku,bahkan mungkin oleh masyarakat sekitar ku..Aku masih ingat bahwa satu2nya hal yang waktu itu aku diperlakukan kasar adalah ketika aku dituduh pemabuk dan pemakai oleh seseorang yang notabenenya adalah guruku di sekolah + majikan kos ku waktu di pondok.Aku masih ingat,waktu itu aku di bentak,dicaci,dan dimaki oleh beliau di depan seluruh anggota keluarga beliau,maklum momentnya pas sekali –Lebaran-.Dan itu terakhir kalinya akau di bentak dengan suara keras yang bikin jantung ku lumayan bergetar.Dan kejadian itu berimplikasi pada akhirnya aku menjadi perokok aktif lagi,ntah kenapa syetan2 bergentayangan menawarkan rokok sebagai solusi atas kekesalanku atas harga diriku yang di injak2 dan diperlakukan layaknya binatang.

Di indonesia sendiri kita tahu bahwa ternyata sedikit diantara kita yang bicara dengan suara tinggi,kecuali mungkin saudara-saudara kita yang tinggal di sumatera bagian utara + daerah timur.Aku sendiri sampai berumur 19 tahun belum pernah keluar dari daerah sumatera barat,walhasil telinga ku sendiri telah membiasakan diri untuk tidak mendengar kata2 yang bersuara tinggi dan berat serta keras layaknya para rocker,Meskipun memang domisili ku yang berdekatan dengan perbatasan sumatera utara masih juga sekali-sekali ku dengar suara-suara keras ini dari masyarakat yang sering kedaerah ku.Namun tidak begitu mengganggu.

***

Namun suasana ini berubah 80 derjat ketika ku sampai di mesir.Memang ketika masih di pesawat,telinga ku masih dalam posisi standar dalam artian diriku masih belum mendengar suara-suara dengan oktav tinggi.Apalagi pramugari yang melayani pun tak kalah lembut suaranya dari suara saudara-saudari ku dari sunda.Kejadian yang lumayan mengerikan itu,terjadi pas ketika aku turun pesawat.karena merasa diriku sudah keduluan turun,aku pun menunggu temandi dekat gerbang masuk ke airport cairo.Namun sayang,belum sempat tulang pinggulku menyatu dengan lantai yang penuh debu (maklum yah) diriku sudah dibentak dengan suara tinggi oleh orang tua yang kukira berprofesi sebagai bawab alias penjaga gerbang.Itulah bentakan pertama yang kudengar di mesir.

Bentakan itu sendiri tak kupahami artinya,namun yang kupahami kira-kira dapat kuterjemahkan sebagai berikut “ woy orang kayak indonesia yang setelan bajunya kayak pejabat,loe pikir disini rumah makan padang..? atau halte bis buat istirahat sembarang..? sana masuk ke dalam..bikin malu manusia mesir saja loe...”...dengan langkah tegap maju jalan sambil terbirit-birit,diriku langsung cabut dari sana.

Bentakan tersebut kemudian kembali menyadarkan ku bahwa aku tidak di indonesia lagi.Bangsa indonesia yang kuketahui adalah bangsa yang toleran,yang bahkan sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata yang keras kepada orang lain kecuali dalam masa-masa tertentu (seperti ketika kamu menginjak kakinya sambil menjitak kepalanya).Bangsa indonesia –bagiku- masih bangsa yang terbaik,meskipun kita ternyata masih belum maju di bidang-bidang lain tentunya.

Lanjut cerita,diriku kemudian beranggapan positif saja.Istilah bahasa kampung ku “husnudzon” yah.Ku pikir mungkin memang tabiat orang mesir gemar sekali berkata keras atau memang suara mereka memang keras.Di kemudian hari,baru kusadari bahwa memang pita suara mereka memang diciptakan oleh Allah seperti itu-khusus buat suara keras dan tinggi- namun dibalik itu ternyata mereka diberi hati yang lembut yang bahkan sangat mudah menerima kebenaran tanpa banyak apologi (seperti yang sering dilakukan oleh petinggi bangsa kita).Mereka fair dalam hal itu meskipun keras dalam menentang yang tidak benar.(walaupun memang banyak juga sih yang keblinger)

***

Hari kedua di mesir kujalani dengan baju berlapis.Maklum setelah semalaman tidur nyaris tanpa selimut (kecuali sedikit keberuntungan karena kebiasaan ku memakai sarung).Pagi di mesir masih membuatku agak sedikit gamang.Ku tahu minimal 4 tahun akan kulewati disini.Untung di pagi harinya menu masakan kembali enak –hehehe syukron buat para umdah ku tercinta dan para senior-.

Oh ya.Sedikit informasi.Di mesir ini ada perkumpulan masyarakat minang kabau.Namanya KMM singkatan dari Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau.Organisasi ini dikemudian hari ku ketahui sebagai organisasi tertua pelajar dan mahasiswa indonesia di Mesir.Keberadaannya bahkan jauh lebih dulu dari organisasi induk PPMI.Aku sempat berpikir ,bahwa mungkin dulu ustadku yang bernama Buya Izzuddin marzuki L.al juga aktif di organisasi ini.

Alhamdulillah pada tahun 2008 , pemda Sumbar memberikan bantuan berupa dana sejumlah 3 milyar rupiha untuk pembangunan asrama minang di mesir.Alhamdulillah asrama itu pun terbentuk.Asrama itu sendiri terdiri dari 3 flat untuk mahasiswa baru + umdah,satu flat untuk pengurus KMM dan satu ruangan auditorium.Asrama itu sendiri kemudian dinamakan Rumah Gadang.Sebuah representasi atas cita-cita masyarakat minangakabau di mesir untuk membangun negerinya.

Nah sebagai mahasiswa baru,diriku otomatis langsung masuk ke asrama tersebut.Pada hari pertama disini,kita yang rombongan 17 orang langsung dibagi per flat dan ditunjuk umdah (pembina)nya.Aku sendiri mendapatkan kamar di lantai paling atas.Dengan Umdah Kakanda Yahya Ayyash aka Febri yoskar.Lc dan Ismail Sonny Lc.Pada awal nya kami semua agak lumayan canggung berinteraksi dengan beliau berdua,namun kemudian ada suatu masa dimana aku sangat berterima kasih atas pengorbanan beliau berdua (saat ini beliau berdua,sudah berada di Sumatera Barat).

Lanjut cerita,hari kedua di mesir.para umdah langusng mengumpulkan seisi flat.Kami kemudian di beri sedikit pengarahan.Lalu kami ditawarkan beliau untuk menukarkan uang berupa dollar yang kami bawa dari Indonesia untuk ditukar ke mata uang mesir ,Pound.Kami juga ditawari untuk dibelikan selimut tebal buat musim dingin (karena suhu waktu itu masih dingin) plus perlengkapan lainnya.Kami pun manut saja.Sungguh aku kagum dan sedikit tercengang dengan sistem ini.Sistem yang bagiku langsung mengikat yang terserak.Bergerak aktif bukan menunggu .Sistem ini pula yang membuat KMM dipandang sebagai organisasi yang terbaik di mesir (dengan pembuktian 3 kali berturut mendapatkan kekeluargaan PPMI award).Sistem yang mungkin hanya dimiliki oleh KMM dan dilaksanakan secara komprehensif oleh seluruh anggotannya.Di kemudian hari sistem ini kuketahui ternyata memiliki rencana besar bersifat dideologis di belakangnya yang mungkin tidak akan kuceritakan.

***

Hari ketiga di mesir,diriku untuk pertama kalinya akan berangkat ke kampus Al Azhar.Dan kejadian-kejadian menarik khas mesir pun mulai kualami satu persatu....(bersambung)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images