B3la74r d4n Bic4r4 (t3nt4n9) ALAY

11:19 PM

Alai ? apa itu Alai ? sejujurnya sampai beberapa waktu kemaren saya masih juga belum ngeh sama alay ini.Maklum di kampung saya sendiri ada juga Alai.Namun tentunya berbeda dengan defenisi yang dipahami oleh orang banyak.Apalagi Alai di kampung saya hanya bisa dipahami , dimengerti dan diketahui oleh orang kampung saya alias orang minang tercinta.Alai di kampung saya merujuk ke 2 pemahaman:

Pemahaman Pertama,Alai adalah sebuah nagari(istilah desa untuk Prov.Sumbar) yang terletak di Kabupaten tempat saya berdomisili (Lubuk Sikaping,Pasaman).Nama lengkapnya adalah TANJUNG ALAI (nah alai juga bukan ^_^).Lalu setelah melalui proses penelitian yang sama sekali tidak mendalam,saya akhirnya mengambil sebuah kesimpulan bahwa Alai adalah sebuah nama yang lumrah dipakai untuk sebuah nagari atau jorong (istilah rw di Sumbar).Jadi bukan hanya di Kabupaten saya ,namun nama ALAI juga ada di kabupaten Lain.

Pemahaman yang kedua adalah ALAI itu nama bagi sebuah jalan.Di tempat saya besar saat kecil dulu (ribet kan bahasanya) ada sebuah jalan di tepi sungai (batang Sinuruik) yang konon menghubungkan jorong Sinuruik dengan Jorong Sianok.Jarak lewat jalan Aspal antara dua jorong ini adalah sekitar 10 km namun kalau lewat jalan alai ini hanya berjarak kurang lebih 1 km.Saya sendiri butuh dua kali tersesat untuk menemukan jalan Alai ini.

Nah kembali ke fenomena Alai.Semestinya para pembaca sudah sadar bahwa penulisan Alai saya berbeda dengan term Alay yang lagi ngetren saat ini.ALAY pakai "YE" beda dengan ALAI pakai "I".Jelas sekali bukan.

Sampai saat ini , di pemahaman saya budaya Alay ini merujuk kedua hal,pertama Gaya bersikap, kedua gaya menulis (terutama tulisan via FB , dan SMS , serta kadang Twitter).Dua pemahaman saya ini mungkin bisa dicontohkan dalam contoh dibawah ini :

Gaya Bersikap




Gaya Tulisan




Lalu pemahaman saya yang super duper rendah ini (lagian siapa juga yang mau mikirin ALAY) saya coba perkuat dengan nanya sama Mbah GUgel.Lalu wikipedia muncul ngasih Pengertian seperti dibawah ini
Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan."[1] Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.[2] Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan dan selalu berusaha menarik perhatian. Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup. Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan.


Nah ada juga yang ngasih pengertian lain seperti ini
Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak Layu, atau Anak keLayapan yang menghubungkannya dengan anak JARPUL (Jarang Pulang). Tapi yang paling santer adalah anak layangan. Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yg sok keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum. Konon asal usulnya, alay diartikan "anak kampung", karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan.Sumber : http://whyprasetyo.blogspot.com/2010/06/pengertian-alay-dan-ciri-cirinya.html


Bahkan tokoh besar Sosiologi seperti Selo Soemardjan dan Koentjara ningrat juga turun tangan
"Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar" (Koentjara ningrat)


"Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu." (Selo Soemardjan)


Tapi pada akhirnya,satu hal yang saya sadari bahwa fenomena Alay hanyalah salah satu dari sekian fenomena manusia yang dijauhkan dari kemanusiaan.Arus globalisasi tanpa filter menjadi candu luar biasa bagi anak bangsa.Budaya pop dianggap sebagai sebuah hal yang lumrah.Wajar kalau bangsa ini semakin hari semakin kehilangan jati dirinya.

oh ya satu lagi , Anak - anak yang Alay ini bisa jadi korban kurangnya perhatian dari pihak2 yang semestinya memperhatikan mereka.Orang tua , guru , masyarakat bahkan saya dan anda juga bertanggung jawab terhadap mereka.Pendidikan yang terjadi sekarang ini cukup berhasil menyuburkan alay ini.

Mari kita saling perhatian.Tidak ada salahnya bukan ? tentunya selagi dalam batasan norma sosial dan terutama norma agama.Toh perhatian bagi orang lain juga menyenangkan jiwa...Percayalah...

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images