Laki-laki dekat Mihrob

9:47 AM

Kutemui dia pertama kalinya di Mesjid Salam saat langit membuncah merah pertanda datangnya waktu maghrib.Mahasiswa muda satu angkatan dengan ku yang selalu terlihat duduk tafakkur di dekat mihrab sedangkan aku baru sampai di pintu mesjid.Aku melangkah ke arahnya seraya menjulurkan tangan dan berucap "Assalamu'alaikum Akhi , Apa kabar ?" dengan senyum yang teduh ia menjawab "Wa'alaikumussalam akhi,kabar ana baik,semoga antum juga begitu hendaknya".Wajahnya waktu itu terlihat bahagia,seakan2 sebuah nikmat besar sedang menghampirinya.

lalu iqomah pun berkumandang...

***

Kutemui lagi dia di Mesjid Salam saat panas membara seakan membakar kota penuh sejarah ini.Asap dan debu yang berterbangan membuat semuanya kelam.Beruntung suci dan segarnya air wudlu mengembalikan kembali kekuatan yang mulai sirna ditelan teriknya hari.Kulihat dia masih duduk di tempat yang sama saat kutemui dulu.Duduk dekat mihrob seakan menjadi pilihan nya.agar menjadi saf terdepan sekaligus saf termulia.Kujulurkan lagi tanganku seraya berucap "Assalamu'alaikum Akhi , Apa kabar ?".Dengan pandangan sayu seakan sedang ditimpa sebuah masalah berat ia menjawab "Wa'alaikumussalam akhi,kabar ana baik,semoga antum juga begitu hendaknya".Ingin ku bertanya ada apa yang sedang menimpanya.sayang Iqomah pun berkumandang...

***

Kutemui lagi dia yang istimewa di Mesjid Salam saat dingin nya malam disapu oleh kehangatan sinar mentari.Sekitar pukul 09.00 pagi saat waktu dluha sedang berjalan.Kulihat dia masih setia menempati tempat duduk pilihannya.Di Dekat mihrob dimana sang imam dan khatib menjalankan tugasnya.Penasaran yang kubawa sejak pertemuan kemarin membuat ku bertekad untuk bertanya langsung tentangnya.Lagi, kujulurkan tangan ku sambil berucap "Assalamu'alaikum Akhi , Apa kabar ?" , lalu dengan muka cerah seakan seluruh keindahan sinar terpancar dari wajahnya ia pun menjawab "Wa'alaikumussalam akhi,kabar ana baik,semoga antum juga begitu hendaknya" .Aku pun langsung bertanya "Akhi ada masalah apa yang menimpa antum kemaren ? ana lihat di pertemuan pertama ana dengan antum,wajah antum sangatlah bahagia ,mulut antum pun seakan tak berhenti berucap syukur.Pertemuan kita yang kedua,wajah antum begitu merana,seolah sebuah beban berat sedang diletakkan di bahu antum.Dan hari ini wajah antum kembali bahagia,bahkan nyaris lebih berbahagia dari waktu pertama kali kita bertemu.Kalau ana boileh tahu,ceritakanlah apa gerangan yang sedang antum alami ?

***

Dengan wajah yang tersenyum indah,ia menjawab "Saat pertemuan kita yang pertama,sesungguhnya ana waktu itu habis meng-khitbah seorang perempuan.Dan puji syukur tak terhingga kepada Allah,khitbah ana diterima ,baik oleh si wanita maupun keluarganya.Rasa bahagia ini kemudian meliputi sekujur badan ana dan wajah ini pun tak berhenti tersenyum dan bersyukur.Sebuah proses awal dari langkah untuk menyempurnakan agama telah ana coba lalui,dan diberi kemudahan.Makanya ana lalu duduk di dekat mihrob tersebut dan mencoba bersyukur sebanyak-banyaknya atas karunia Allah."

"Saat pertemuan kita yang kedua" lanjutnya, " ana waktu itu sedang dilanda gundah gulana,Betapa tidak,pernikahan ana tinggal satu bulan lagi,namun tidak sepeser pun modal yang ana siapkan untuk pernikahan tersebut.Jangan kan biaya untuk bulan pertama,biaya untuk mengadakan akad nikah dan walimahan pun tiada.Belum lagi rencana ke depan untuk terus berumah tangga.Ana sudah pusing kesana kemari bekerja untuk mencari biaya tersebut,namun belum juga terlihat hasilnya.Kesedihan ini pun yang membuat ana akhirnya mencoba menyerahkan diri kepada Allah (lagi).Ana duduk di dekat mihrob mesjid seraya berdoa dan menumpahkan segala gundah gulana kepada Yang Maha Pencipta ".

"Dan hari ini,ana kembali duduk di dekat mihrob.Bersyukur tiada tara.Sebab Allah kembali memudahkan jalan ana.Ceritanya kemaren sore,ana mencoba menceritakan kondisi ana kepada wanita yang telah ana khitbah.Ana ceritakan sejujur-jujurnya bahwa ana sampai sekarang belum juga memiliki modal yang nantinya akan digunakan untuk menjalani akad nikah,walimahan dan tentu saja biaya hidup kita untuk sebulan.Mendengar cerita ana tersebut,wanita yang ane khitbah lalu berucap "Wahai laki-laki mulia yang telah meng-khitbah ku,jangan kau anggap aku wanita yang materialistis,Jangan samakan aku dengan wanita yang menjadikan harta sebagai tumpuan hidupnya.Cukuplah Allah untuk hidup kita.Biarkanlah Allah yang kan mencukupi rezki kita.Hidup ini hanyalah sementara.Ia begitu singkat.Aku ikhlas dengan kondisi yang kau alami".Jawaban wanita yang ana khitbah tersebut menyentakkan dada ana ,bahwa jangan pernah putus asa dari harapan Allah."

"Malam nya" lanjut sang teman , "tiba-tiba seorang teman dari paman ana menelpon,mengatakan bahwa ia mempunyai lowongan pekerjaan yang cocok untuk ana.Insya Allah gajinya cukup untuk kehidupan sehari-hari.Teman paman ana itu juga mau membiayai setengah dari biaya pernikahan dan walimahan ana nanti.Oleh karena itulah maka di waktu dluha ini ana kembali duduk disini.Ana akan perbanyak syukur ana kepada Allah.karena Allah cukup bagi kita.Tidak usah berputus asa dari Kasih SayangNYA" ujarnya mengakhiri cerita.Aku sendiri turut berbahagia.Bahagia karena sang teman ini telah kembali berbahagia.Bahagia karena di waktu yang mulia ini Allah telah memberikan pelajaran berharga lewat sang teman,dan Bahagia bahwa untuk kesekian kalinya,telah ada yang mengingatkan bahwa Jangan pernah putus harapan dari Allah"

***

Beberapa hari kemudian.Cuaca kota nabi ini masih begitu panas.Peluh membasahi sekujur tubuh mengeluarkan aroma yang tidak sedap.Beruntung kebiasaan membawa minyak wangi di kantong paling tidak cukup untuk mengurangi aroma tidak sedap tersebut.Setelah berwudlu, aku pun melangkah ke dalam mesjid untuk melaksanakan shalat Ashar yang tidak sempat ku ikuti secara berjama'ah karena terjebak macet.

Aku berdiri menghadap kiblat.Sebelum takbir , Ku layangkan pandangan ku ke seluruh area mesjid.Pandangan ku berhenti tatkala melihat ke arah mihrab,sesosok tubuh yang begitu familiar sedang duduk bertafakkur disana.Terlihat air matanya mengalir deras.Aku pun coba dekati ia perlahan-lahan.Ia sendiri terus menangis , mengeluarkan air mata yang membasahi seluruh mukanya.

Dan ku dengar isaknya lirih tak berhenti berucap "hasbiyallah wa ni'mal wakil, ni'mal wawla wa ni'man nashir"...

Tulisan Fiktif pelepas penat selesai mengikuti ujian hari pertama

Minimal tulisan ini sebagai pemanasan dan pengantar untuk ujian saya selanjutnya yaitu Madah Ahwal Sakhsiyah yang bercerita seputar Khitbah,Nikah dan Cerai...Jujur saya sendiri tidak tahu kenapa saya menulis tulisan ini...

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images