Imam Syafi'i Tabaruk dengan Imam Ahmad ???

8:16 AM



Kisah ini dinukilkan oleh Imam Al-Hafizh Taqiyuddin Abdul Ghani bin Abdul Wahid bin Ali Al-Maqdisi (600 H) dalam kitabnya "Mihnah Al-Imam Ahmad bin Hanbal"

***

Ar-Rabi` bin Sulaiman (salah seorang murid Imam Syafi'i di Mesir) berkata, “Asy-Syafi’i menulis sebuah surat di hadapan saya yang ditujukan kepada Abu Abdillah, Ahmad bin Hanbal. Ia lalu berkata kepada saya, “Wahai Abu Sulaiman, antarkanlah suratku ini ke Irak dan jangan kamu membacanya.” Lalu saya membawa surat itu pergi dari Mesir menuju Irak.

Ketika tiba di Irak dan sampai di masjid Ahmad bin Hanbal, saya mendapatinya sedang melakukan salat Shubuh. Dan saya pun ikut shalat bersamanya. Lantaran tadi saya belum melakukan shalat sunnah (sebelum subuh/sunnah fajar), saya pun melakukan shalat sunnah (mengqodhonya) setelah selesai shalat Shubuh berjamaah dengannya. Imam Ahmad pun memperhatikan saya hingga akhirnya dia mengenali saya.

Setelah selesai shalat, saya pun mengucapkan salam padanya dan saya serahkan surat Imam Syafi’I yang dialamatkan untuk Imam Ahmad tersebut. Lalu dia bertanya banyak hal kepadaku tentang Imam Syafi’I sebelum membaca surat tersebut. Kemudian dia membuka surat tersebut dan membacanya. Ketika sampai pada bagian tertentu dari surat itu, dia menangis dan berkata, “Semoga Allah mewujudkan apa yang dikatakan Syafi’i.” Saya pun bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, apa yang ditulis dalam surat itu oleh Syafi’i?”Dia menjawab, “Syafi’I mengatakan bahwa dia bermimpi bertemu Nabi Saw. dan beliau bersabda, “Wahai Ibnu Idris (Syafi’i), sampaikan berita gembira kepada pemuda itu, Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya dia akan diuji dalam agama Allah. Sesungguhnya ia akan didakwa hingga ia berkata "Al-Qur'an itu Makhluk", maka jangan sampai ia melakukannya. Dan sesungguhnya ia akan dipukul dengan cambuk. Dan bahwasanya dengan itu Allah `Azza wa Jalla akan membentangkan panji untuknya yang tidak akan terlipat hingga hari kiamat".

Maka saya katakan kepadanya, “Itu adalah berita gembira. Apa hadiah untukku karena membawa berita gembira itu?” Ketika itu Ahmad bin Hanbal memakai dua helai jubah, lalu dia melepas salah satunya dan memberikannya kepada saya. Dan yang dia lepas adalah jubah dalamnya yang menempel pada kulitnya langsung. Dia memberikannya sebagai balasan dari surat Syafi’I tersebut.

Kemudian saya pergi dan pulang menemui Syafi’I (di Mesir) lalu saya memberitahu dia tentang apa yang terjadi di tempat Ahmad bin Hanbal. Lalu dia bertanya, "Mana jubahnya?" Saya jawab, "Ini." Dia berkata, "Kami tidak akan membelinya darimu dan tidak memintanya sebagai hadiah, akan tetapi cucilah ia (dalam riwayat lain: basahilah jubah itu) dan bawa airnya ke tempat kami." Lalu saya cuci jubah Imam Ahmad tersebut dan airnya saya bawa ke tempat Imam Syafi'i. Lalu dia memasukkan air itu ke dalam sebuah botol. Dan saya lihat setiap hari dia mengusapkan air tersebut ke wajahnya bertabarruk dengan Ahmad bin Hambal."

***

Bagi saya, kesalehan itu sifatnya menular. Bahkan ia memiliki silsilah tersendiri. Menular, lantaran kesalehan seseorang biasanya merupakan dampak dekatnya ia dengan orang yang saleh. Seseorang yang saleh, biasanya memiliki pengaruh pada orang lain. Kesalehannya akan menular pada orang yang senantiasa bergaul dengannya.

Dan kesalehan itu memiliki silsilah, karena jika dirunut penularan kesalehan tersebut, kita akan sampai pada generasi yang saleh yakni sahabat, tabi'in dan setelah, dan semua itu adalah lantaran mereka bergaul dengan Makhluk Paling Saleh di dunia ini yakni Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan apa yang melarang kita untuk bertabaruk dengan para Anbiya' wash Sholihin ?

***


Bagi yang ingin download kitabnya http://www.waqfeya.com/book.php?bid=6155

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images