'Mengalami-nya' , cara Allah menegur saya

7:12 PM

Sebuah pesan masuk ke Inbox akun FB saya,”Zam ntar sore abang ada ngadain buka bersama , ajak kawan-kawan ya” begitu bunyi pesan tersebut.Pesan ini saya balas singkat “Insya Allah bang , 10 orang cukup kah ? “.Saat itu ada keyakinan dalam diri saya bisa menghadirkan 10 orang sahabat-sahabat di acara buka bersama itu,maklum sore itu akan ada kajian di sekretariat PII.Jadi tentu tidak akan begitu sulit untuk mengajak mereka semua kesana.”Yah 10 orang , abang tunggu ya” balasan pesan itu datang 10 menit kemudian.

Komunikasi via telpon pun mulai saya lakukan.Beberapa sahabat yang memang biasa datang ke kajian, saya telpon untuk konfirmasi lagi.Sahabat lain yang belum pernah ikut kajian pun saya coba hubungi.Malang, tiada satupun panggilan saya yang diangkat.”Mungkin karena masih pagi” ujar saya dalam hati.

Ba’da zuhur, saya coba kembali menghubungi sahabat-sahabat tersebut.Kali ini saya juga kirimkan SMS berisikan info untuk datang tepat waktu sore itu.Beberapa kontak sahabat-sahabat saya telpon.Namun hanya bunyi “tuuut..tuuut...tuuut...” diakhiri dengan ‘tulalit’ yang bisa saya dengar.Saya coba lagi menelpon sahabat yang lain, ternyata tak jauh beda ‘jawaban’nya.”Mungkin mereka lagi Istirahat” sangka saya dalam hati.Panas terik siang Kairo memang bikin stamina seolah-olah menguap ke langit.

Pukul 4 sore masih belum juga ada tanda-tanda kedatangan sahabat-sahabat saya yang mulia itu ke sekretariat.Ada sedikit gusar yang mulai menyelip ke dada saya.Saya coba lagi menelpon mereka, alhamdulillah kali ini ada kemajuan.Dari sekian telpon yang saya coba lakukan , 2 dari sahabat memberikan respon “akan datang” , 1 orang me-reject telpon saya tanda bahwa ia sudah paham tujuan saya menelpon , sedangkan puluhan panggilan lainnya , kembali harus setia dijawab dengan ‘tut tut’ dan ‘tulalit’.

Pukul setengah 6 sore , akhirnya 2 orang sahabat datang ke Sekretariat.Meskipun masih gusar namun paling tidak sudah ada titik terang kedatangan sahabat-sahabat.Sambil bersyukur saya minta mereka berdua untuk menghubungi sahabat-sahabat yang lain.Dari sekian panggilan yang mereka lakukan , akhirnya membuahkan hasil kehadiran 5 orang sahabat.Dari sekitar 10 orang yang janjikan datang ke Undangan Buka Puasa tersebut, saya hanya bisa memenuhi 6 orang.Pukul 6 sore, kami pun melangkahkan kaki menuju lokasi buka puasa di wilayah Hay Tsamin , Nasr City.

***

Sepanjang perjalanan dari Sekretariat menuju Lokasi , saya sedikit merenung.Kalau dipikir-pikir , apa yang terjadi pada saya hari ini –telpon tidak diangkat , SMS tidak dibalas , Tiada kabar , Tiada Berita- mungkin pernah dialami oleh orang lain yang membutuhkan saya.Saya pikir, saya juga pernah seperti itu.Membiarkan telpon saya berbunyi saat ada panggilan dan enggan untuk mengangkatnya karena alasan tertentu.Saya juga sering tidak membalas SMS orang lain padahal semestinya harus dibalas.Saya mungkin termasuk manusia dengan tingkat ‘tidak jelas’ tinggi , maksudnya saya memang orang yang tidak mau dan tidak suka ditebak sehingga kadang terlalu malas untuk sekedar mengabarkan kondisi diri pada orang lain.Dan hari itu , semuanya menimpa saya.Karma kah ini ? tentu tidak.

Saya orang Islam dan Islam tidak mengenal hukum alam bernama ‘karma’.Hukum sebab akibat ini adalah hukum terbodoh yang pernah diciptakan manusia , karena secara tidak langsung mereka telah menafikan kekuatan Zat yang Maha Segala-galanya yang biasa mereka panggil dengan ‘TUHAN’. Bagi muslim , mempercayai hukum ini secara tidak langsung akan membuat mereka menafikan Qudrat Allah atas apa yang terjadi pada HambaNYA.

Meskipun begitu , saya mempunyai sebuah keyakinan bahwa terkadang Allah berkehendak agar kita merasakan sebuah dampak dari perlakuan orang lain pada kita seperti yang pernah dirasakan oleh orang lain akibat perbuatan kita.Allah mungkin hendak mengajarkan kita tentang berlaku sesuai ‘Mestinya’, dengan cara merasakan apa yang pernah dirasakan oleh orang lain.

***

Saya tidak marah kepada sahabat yang -mungkin karena suatu uzur – tidak sempat untuk mengangkat telpon ataupun membalas SMS saya pada hari itu.Yang membuat saya sedih adalah bahwa ternyata saya juga pernah menzolimi orang-orang yang membutuhkan saya dengan tidak mengangkat panggilan telpon mereka.Saya juga pernah berlaku buruk dengan tidak memberikan kabar dan berita padahal itu sangat dinantikan oleh orang yang membutuhkan saya.Saya tidak bisa bayangkan bertapa kejinya prilaku saya waktu itu.Siapa tahu saya memang dalam posisi sangat dibutuhkan waktu itu , lalu ketika saya tidak membalas ataupun mengangkat telpon , saya telah menambah beban pikiran mereka yang membutuhkan saya.Bukankah beban pikiran itu lebih berat dari beban yang kita rasakan saat mengangkat beras misalnya ?

Mungkin ini cara Allah menegur saya.Meskipun malam itu saya lumayan sedih , tapi setidaknya saya bersyukur bahwa Allah masih mau menegur saya dengan cara ini.Allah memberikan saya kesempatan untuk merasakan hal yang sama yang mungkin pernah dirasakan oleh orang-orang yang menghubungi dan butuh saya.Teguran dengan cara ‘mengalami’ memang merupakan pelajaran yang luar biasa dan berharga.Terima Kasih Ya Allah.

***

Salah satu hikmah Ramadhan adalah agar kita bisa merasakan perasaan yang pernah dirasakan oleh kaum Dlu’afa.Mereka yang saban harinya mesti merasakan lapar dan dahaga akibat tidak mempunyai makanan yang pantas untuk dimakan.Mereka yang setiap saat bisa kita temui dalam kondisi lemas dengan muka memelas.Mungkin dengan merasakan hal yang sama ,kita lebih bisa untuk bersikap sepantasnya terhadap mereka.Bukan hanya sekedar membuang muka ketika tangan mereka menengadah untuk meminta sedekah.Bukan pula untuk ikut-ikut ‘menyumpahi’ kemiskinan dan kemelaratan mereka.Tapi sekali lagi agar kita berbuat yang lebih pantas terhadap mereka.Dan dengan Shaum Ramadhan ini kita telah belajar ‘Mengalami’nya.

Saat ini , saudara-saudara kita yang seiman di SOMALIA sedang mengalami ujian yang begitu berat berupa kelaparan yang luar biasa.Ada banyak dari mereka yang meninggal setiap menitnya akibat tidak kuasa lagi untuk menahan lapar yang mereka derita.Bahkan seorang ibu mesti 'memilih' siapa dari anak-anak nya yang harus bertahan hidup sedang yang lainnya mesti menghadap Rabb-nya.Shaum Ramadhan telah mengajarkan kita arti 'Lapar'.Mari kita bersama-sama membantu mereka.Salurkan bantuan-bantuan ke posko-posko terdekat yang bisa kita hubungi.Mari Berkorban untuk saudara-saudara kita.

Dan jangan lupa, selipkan nama mereka dalam do'a-do'a kita , saat kita berdoa di waktu mustajabnya doa.Bulan Ramadhan , bulan untuk mengikis keegoisan diri.Semoga dengan berkorban ego kita terkikis.Semoga dengan menyelipkan nama mereka dalam do'a kita, kita menjadi pribadi yang lebih Baik.

'Yaa Allah , sebagaimana nikmat yang engkau berikan pada kami saat ini , berupa ketenangan , kelapangan , berbagai macam lezatnya santapan , serta rizki yang berlimpah saat kami menikmati Ifhor kami , saat kami menikmati Sahur kami , saat kami menjalani Shaum kami , maka berikanlah juga hal yang sama buat saudara-saudara kami di berbagai belahan bumi lainnya.Di Somalia , di Palestina ,di Syria , dan dimanapun saudari kami berada.Berikanlah saudara-saudara kami ketabahan dan kekuatan iman saat mereka menjalani ujian dari Mu ya Allah.Kabulkanlah doa kami Yaa Allah'

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images