(Mungkin) Saya Kualat

11:35 AM

Ternyata perlu waktu yang cukup lama bagi saya untuk memaknai kalimat “kualat” yang sering di dengungkan oleh manusia indonesia.Ibu-ibu arisan misalnya bergosip singkat “ ih tau ga jeng , ibu fulanah itu kayaknya kualat deh” ujar seorang ibu memulai gosip.”eh kenapa bu ?” timpal ibu yang di sebelahnya ,”Coba deh ibu lihat anak nya,nakal banget.Saya yakin dia kualat sama ibu tua yang pernah dia kerjai waktu dia hamil muda dulu” jawab ibu yang tadi.”Oooo” koor singkat pun menghiasai ruangan.

Atau misalnya terjadi dalam dialog berikut

A : Saya benci orang padang ?

B : Kenapa ?

A : Orangnya nyebelin , susah diatur ,pintar sih tapi pemalas

....dan beberapa tahun kemudian si A menikah dengan orang padang, hidup bahagia selamanya (haaah udah kayak pelem kartun)

Atau ada juga yang bilang “Saya kualat gara-gara melanggar janji” atau “saya kualat karena ga gosok gigi” atau “Saya kualat karena jarang mandi”.Dan kualat-kualat lainnya yang bertebaran diatas bumi.

Nah, jadi apa sih makna kualat ? Iseng-iseng pagi ini saya mencoba searching makna kalimat ini via bantuan Dukun Gugel.Setelah mengetikkan keyword “ Kualat “ lalu di spesifikkan menjadi “Maksud dan makna kata kualat” , sebuah situs yang berfungsi sebagai penyimpan makna kata pun memberikan jawabannya.”(1) Mendapatkan bencana, kena tulah (2) Celaka atau terkutuk”.Arti kata itu akhirnya saya telan,kunyah lalu saya cerna sehingga menghasilkan ampas makna versi saya sendiri yakni “Sebuah kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi secara otomatis yang dianggap terjadi karena sebuah perbuatan buruk di masa lalu, bisa juga karena didoakan tidak baik oleh seseorang yang merasa di zolimi”.

Sampai disini,pendahuluan tulisan selesai.

***

Kita masuk ke bagian inti

Jadi ceritanya,waktu masih muda dulu (alhamdulillah sekarang masih tetap muda ^_^) , saya termasuk orang yang agak sedikit populer gimana gitu di sekolah (narsis.com).Dan seperti ciri khas makhluk bernama manusia, seseorang yang populer itu seringkali menjadi mangsa-mangsa (atau dalam bahasa intelejen “target operasi) para pencari cinta :D .Dan saya –karena masuk daftar orang populer gimana gitu- harus rela menjadi salah satu target operasi ini.

Yang sebenarnya membuat saya heran adalah masalah sikap saya yang ternyata tidak terlalu ngefek dengan status agak sedikit populer gimana gitu tersebut.Kebanyakan teman-teman yang populer biasanya adalah orang yang ramah dengan para makhluk tuhan lainnya terutama lawan jenis (mulai dari perempuan , ayam betina , sapi betina , kambing betina dan sepatu sebelah kiri).Dan tentu saja sikap ramah ini menjadi daya pikat plus-plus buat mereka.Siapa coba yang tidak tertarik dengan orang cerdas , ganteng , gudang prestasi , lalu sikap ramah pula.Saya ? jangan ditanya.Saya dianggap –dan memang benar- sebagai makhluk sombong na’udzubillah yang dingin keras dan tegas,jarang bicara dan tidak pernah senyum.Nah dimana letak menariknya coba ? Satu-satunya hal yang dianggap bisa dibanggakan dari saya Cuma prestasi.Itupun sebenarnya tidak terlalu membuat –khusus saya sendiri – bangga.

Nah,spesies seperti saya ini, semestinya bukanlah termasuk orang populer yang dikagumi dan dicintai ^_^.Bahkan saya sendiri berpendapat bahwa saya –meskipun mungkin tidak akan dimusuhi – paling tidak ,tidak akan pernah dilirik dan diperhatikan.Yah anggap saja seperti kecoa busuk yang berkeliaran.

Musibahnya,sikap seperti ini ternyata dianggap sebagai salah satu variabel dari indikator “orang-orang keren” dan “Orang-orang populer yang patung dikagumi dan kalau perlu –memakai bahasa anak ABG – dipacari”.Jadilah saya harus menempuh masa-masa kelam.Upss salah, yang benar jadilah para makhluk aneh dengan sikap yang aneh yang menjadikan saya sebagai target operasinya , harus menikmati masa-masa kelam.Yah masa-masa dimana ketika mereka mencari perhatian saya,harus rela mendapat tatapan dingin keras tegas tanpa sedikitpun senyum terpahat di wajah.Ada juga saat mereka harus mendapatkan tawa keras ga jelas tapi sangat menjengkelkan dari saya ketika sebagian mereka mengungkapkan”nya”.

Yah ini sebenarnya persoalan prinsip.Dari semenjak dulu kala , saya agak sedikit anti dengan yang namanya pacaran.Waktu masih tingkat SMP , tingkat pemahaman saya sampai pada kesimpulan bahwa pacaran hanya akan merusak pembelajaran saya disekolah.Ketika sudah berada di tingkat SMA , pemahaman ini agak sedikit agamis ketika kesimpulan saya muncul berbunyi “saya tidak mau mengkhianati istri saya kelak dengan mencurahkan perasaan cinta saya hari ini kepada orang yang mungkin saja bukan istri saya kelak” gila khan kesimpulan anak yang masih baru SMA.

Nah prinsip sekeras batu inilah yang selama bertahun-tahun saya pegang,hingga sekarang tentunya.Walau begitu, pada dasarnya saya bukanlah orang yang acuh tak acuh terhadap kondisi teman-teman saya.Saya akan tetap membantu mereka jika susah.Bahkan dalam beberapa kesempatan,saya harus menerima fitnah yang aneh hanya gara-gara membela teman-teman saya.Namun kalau perhatian saya sudah dianggap lain , ini dia penyakitnya.

Kuatnya saya berpegang pada prinsip ini , serta banyak nya ‘korban’ yang harus rela menerima kata penolakan dari saya , sempat membuat saya berpikir jangan-jangan apa yang saya alami hari ini adalah versi Kualat dari tingkah saya dulu ?

***

Hal yang dari dulu saya takutkan adalah Jatuh cinta sebelum saya mempunyai kekuatan untuk men-seriusi-nya.Yah dulu saya juga pernah jatuh cinta, paling tidak itu normal untuk usia ABG, namun alhamdulillah saya berhasil melewatinya tanpa harus terikat dalam wadah “pacaran”.Sejak saat itu ada horror yang selalu menakuti saya ketika selembar rasa indah mulai memasuki tembok pertahanan hati.Beberapa kali rasa itu harus saya lawan kuat-kuat disaat anak-anak seusia saya malah menerimanya dengan tangan terbuka.

Saat-saat jatuh cinta memang saat-saat yang misterius,sulit diungkapkan namun ia ada.Ia tidak bisa didefenisikan dengan satu makna, karena memiliki banyak rasa di dalamnya ,kadang manis,kadang asam, kadang asin bahkan tak jarang pahit , persis nano-nano atau kacang segala rasa nya Betty boots.Nah saat mengalaminya itu lah yang saya sebut ‘kualat’ di sini.

Dulu saya seringkali dianggap “kejam” dan “tidak memahami perasaan orang lain” ketika mulut saya harus berucap penolakan disertai tawa sadis (ah enggak ding,becanda ^_^ ).Saya sendiri tahu dan sadar waktu itu bahwa lumayan sakit rasanya saat permintaan kita –apalagi hati- kemudian ditolak.Sungguh-sungguh sangat sakit.Perasaan ini lah yang tak jarang diterjemahkan beberapa film rusak sebagai alasan indah untuk bunuh diri.Tapi memang saya tahu rasa itu, sakit dan perih , walau tak sepenuhnya merasakan.

Nah kembali ke soal kualat , lantas ketika saatnya nanti saya ditakdirkan jatuh cinta apakah saya pantas bergumam lemah “Ah saya kualat dulu sama beberapa ‘admirer’ saya”.Apakah ketika nanti tembok pertahanan hati saya harus jebol baik dengan ikhlas maupun paksaan , menjadi sebuah kepantasan untuk berujar “Saya kualat dengan tingkah saya dulu” ?

***

Hal yang kita sering tidak sadari adalah bahwa pengakuan terhadap ‘Kualat’ adalah pengakuan terhadap adanya eksistensi Luar biasa yang mengatur jalannya hidup selain Allah.Pengakuan akan adanya sebuah kekuatan yang membalas seluruh perbuatan buruk kita terdahulu secara otomatis tanpa kehendak.Ini tentu saja bertentangan dengan akidah Islam dimana Allah Maha Berkehendak dan tidak diikat oleh Hukum ‘otomatis’.

Namun sayangnya benih-benih ini seringkali ditanamkan dalam hampir semua media yang kita temui hari ini.Coba lihat di televisi bagaimana dialog “saya kualat” , “kamu kualat” , “dia kualat " begitu sering kita dengar.Coba lihat dalam beberapa bacaan , nyaris kata ini menjadi alasan singkat saat seseorang mendapat musibah.Jarang kita temui yang mencoba mengembalikannya kepada Yang Maha Penguasa.

Nah paling tidak , mulai sekarang mari sedikit demi sedikit ( lama-lama menjadi bukit ^_^ ) kita ganti kebiasaan ini.Percayalah bahwa setiap kejadian yang kita alami itu murni pelajaran , ujian atau cobaan dari Allah , bukan gara-gara kita kualat.

Meskipun memang seringkali Allah membalasi perlakuan kita terhadap orang lain di dunia ini agar kita mengambil pelajaran untuk selanjutnya menjadi lebih baik.Bahkan tak jarang apa yang kita alami persis sama dengan yang dialami oleh orang yang kita zholimi dulu.Mungkin saja Allah berkehendak agar kita merasakan apa yang pernah dirasakan oleh orang lain akibat perbuatan kita dahulu agar kita mengambil pelajaran berharga dan terus mengingatnya .Bukankah pembelajaran yang didapatkan lewat mengalami lalu mengungkapkannya serta menganalisanya adalah sebuah hal yang sangat luar biasa ?

والله خلقكم وما تعملون

"Dan Allah lah yang telah menciptakan mu dan apa saja yang kamu kerjakan" (Ash-Shoffat : 96)

*Cairo, Pagi 25 Agustus 2011

Mencoba menulis dengan gaya lain

Tulisan semi fiksi pengantar hikmah

Semoga tidak ada yang menafsirkannya macam-macam

Daripada nanti kualat ..uppsss ^_^

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images