My Social's Theory

1:03 PM

Barney:The Cheerleader Effect is when a group of women seems hot, but only as a group.  Just like with cheerleaders. They seem hot, but take each one of them individually… sled dogs!”
Ted: That’s insane
Barney: Take a good hard look at each of these girls, individually
Marshall: I don’t know, the one on the end is kinda cute
Lily: Yes, she really is
Barney: And that my friends is the Cheerleader Effect, also known as the Bridesmaid Paradox, Sorority Girl Syndrome and for a brief window in the mid nineties the Spice Girls Conspiracy. Scary Spice indeed   

#Sebuah Scene Dialog di Sitcom "How I Met Your Mother"

***

Saya tidak tahu apakah teori-teori yang dikemukakan oleh Barney Stinson -salah satu figur dalam sitkom "How I Met Your Mother" - itu benar-benar merupakan teori sosial ilmiah. Namun, setidaknya teori-teori "ngasal" tersebut layak untuk dikaji. Paling tidak sebagai salah satu bahan pembacaan dalam aktifitas sosial sehari-hari.

The Cheerleader Effect atau yang lebih dikenal dengan The Spice Girl Effect sendiri kemudian menjadi istilah baru dalam bahasa urban. Situs Urban Dictionary mendefenisikannya sebagai a phenomenon that occurs when a male sees a group of young females and perceives them to be attractive, when they are not. Upon closer examination of each female, the male can realize the truth of the situation (Sebuah fenomena yang terjadi ketika seorang laki-laki melihat sekelompok wanita muda dan terlihat atraktif padahal sebenarnya tidak. Ketika dilihat dengan jeli pada masing-masing mereka, seorang laki-laki akan menyadari situasi yang sesungguhnya).

Nah, teori ini sendiri sangat mirip dengan teori abal-abal yang pernah saya temukan di saku baju saya (tentang bagaimana saya menemukannya, tanyakan pada pocong yang sedang tersesat). Teori saya berbunyi "Sekelompok orang, akan dikenal dan di-judge oleh orang lain, hanya lewat tingkah dan prilaku orang-orang yang dianggap dominan dalam kelompok tersebut. Padahal, kita akan menemukan kebenaran yang sebenarnya jika -dan hanya jika- kita menilai bagian-bagian tersebut serta kesatuannya secara utuh". Misalnya, ada sebuah kelompok anak-anak kajian keilmuan. Jika disana yang dominan adalah anak-anak perokok, maka kelompok kajian tersebut akan dikenal dan di-judge sebagai kelompok anak kajian perokok. Padahal, jika kita nilai bagian-bagian tersebut serta kesatuannya secara utuh, kita akan mengetahui bahwa kelompok tersebut adalah kelompok kajian keilmuan yang bisa jadi produktif.

Teori ini sendiri berakar dari pengaruh dominan beberapa bagian -baik kecil atau besar- terhadap kelompok tersebut. Dominasi tersebut biasanya adalah yang membuat orang lain tertarik untuk melakukan penilaian atau paling tidak melakukan persepsi awal terhadap mereka. Sikap-sikap yang dianggap menarik itu sayangnya bersifat relatif, tergantung faktor in dan external dari komunitas tersebut.

Teori abal-abal ini juga yang sering membawa kita pada missjudgment alias salah dalam melakukan penilaian atau yang sering kita sebut dengan penilaian yang subjektif. Kita hanya menilai bagian kecil dari kelompok. Dominasi-Atraksi yang kita lihat dari beberapa anggota kelompok, menimbulkan distraksi pandangan kita dalam menilai mereka secara keseluruhan dengan objektif. Jangan heran kalau kita sering mendengar bahwa Kelompok Anak Filsafat itu adalah anak-anak perokok, Anak Seni itu urak-urakan, Organisasi A itu ekslusif, Organisasi B itu suka keluyuran dan seterusnya.

Efek luar biasa dari teori ini adalah timbulnya sikap tidak objektif yang kemudian turun pada prilaku suka antipati sebelum mengetahui. Orang yang suka menilai suatu kelompok lewat penilaian merela terhadap sikap orang-orang yang mereka anggap dominan disana, akan menimbulkan konflik sosial. Konflik ini sangat susah diredam karena ia membentuk sikap dan tertanam cukup kuat di dalam dada.

***

Beruntung, agama saya -ISLAM- mengajarkan etika yang sangat indah sebagai solusi dari masalah ini. Dalam agama Islam, cek dan ricek merupakan kemestian. Allah berfirman : 

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ 
"Wahai Orang-orang yang Beriman, Jika datang kepadamu seorang fasik dengan membawa berita, maka bertabayun lah" (Q.S: Al-Hujurat : 6)

Selain itu, kita dituntut untuk selalu berpikir positif terhadap saudara kita. Allah berfirman :
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ
"Wahai orang-orang yang Beriman, Jauhilah dari banyak berprasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa" (Q.S: Al-Hujurat : 12)

Bahkan jika kita telah sempat menuduh namun mereka bersaksi lain, maka persaksian mereka itulah yang dibenar. Karena dalam Islam, Persaksian atau pengakuan si pelaku adalah bukti yang paling kuat. 

Bahkan, jika kita ingin menasehati, nasehatilah mereka dengan lemah lembut (karena di Al-Qur'an, kepada Fir'aun yang kafirnya level paling besar, tetap Nabi Musa disuruh untuk mengingatkan dengan lemah lembut). Dan kalau perlu, ingatkan dan nasehati mereka di tempat yang sunyi, bukan di keramaian.

Lihat betapa indahnya Ajaran Agama saya dalam mengantisipasi dan memberikan solusi atas dampak teori diatas serta konflik sosial yang ditimbulkannya. (dan yang saya tuliskan belum seberapa :D)

***

Nah, apakah teori saya ini benar ? tentu perlu pembuktian. Namun setidaknya, untuk saat ini saya butuh nama agar saya kelak bisa mematenkannya, paling tidak dibuku paten saya yang berjudul "The Great of Social Theory And Restaurant of Padang" (cari di toko nano-nano terdekat). Apa nama yang cocok untuk mewakili teori ini ? Zamzami saleh's Theory ? Uda Zami's Theory ? atau UdaZamiceumunghudeaaaaaqaqa's Theory ?

Ditunggu saran dan kripik pisang pedas seharga 7 pound mesirnya :D 

Tulisan ini saya tutup dengan puisi singkat

Anak kijang melompat ke sungai.............mati.  
 
    

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images