Madrasah Al-Umariyyah - Universitas Pertama di Damaskus

11:32 AM


Madrasah Al-Umariyyah berlokasi di daerah Hayy Ash-Shalihiyyah, kaki gunung Qasiyun di Damaskus. Lebih tepatnya madrasah ini terletak di Hayy Syekh Muhyiddin yang berada di tengah-tengah antara Mesjid Syekh Muhyiddin dan Mesjid Abdul Ghani An-Nablusi. Daerah ini sendiri memiliki ciri khas seperti banyaknya situs-situs peninggalan serta madrasah-madrasah agama yang begitu terkenal pada masa Dinasti Ayyubiyah dan Mamluk.



foto : Yasminalcham.com
Madrasah Al-Umariyyah  ini di bangun oleh Syekh Abu Umar Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah (607 H)  yang hijrah dari negerinya Nablus – Palestina dan membangun madrasah di Hayy Ash-Shalihiyyah – Damaskus. Madrasah ini dibangun pada tahun 557 H lalu dinamakan dengan Asy-Syaikhah atau Asy-Syaikhiyyah. Madrasah ini mampu menelurkan ribuan Fuqaha dan Ulama serta para Muhaddits  dalam satu waktu. Konon, ruangan dan kamar-kamar madrasah ini mencapai 360 buah dan mampu menampung lebih dari seribu pelajar. Guru-guru yang mengajar pun dikenal sebagai ulama dan guru besar yang mumpuni dalam ilmunya. Syarat untuk belajar disini pun tidak susah. Para murid ketika akan diterima untuk belajar disini hanya disyaratkan agar senantiasa menghiasi diri dengan akhlak yang baik, adab yang mulia serta taqwa. Untuk menunjang proses belajar mengajar, madrasah ini dilengkapi dengan perpustakaan yang memiliki ribuan buku dari berbagai disiplin ilmu.



Tentang cerita pendirian madrasah ini berawal dari Syekh Abu Umar yang mengungsi dari kampungnya pada tahun 551 H / 1156 M beserta 3 orang dari kerabatnya menuju Damaskus untuk melarikan diri dari pembunuhan dan penyerangan yang melanda desa mereka oleh kaum Prancis.  Ketika mereka sampai di Damaskus, mereka berkemah di mesjid abu Saleh di luar pintu kota Damaskus. Setelah itu rombongan ini kedatangan pengungsi lain yang berjumlah sekitar 35 orang dimana sebagiannya adalah keluarga mereka. Mereka berada disana selama 3 tahun.



Setelah itu mereka pindah ke kaki gunung Qasiyun dekat sungai Yazid. Di tempat inilah sebagian pengungsi membangun rumah dan lingkungan mereka. Mereka mulai mendirikan mesjid, madrasah, pasar dan lainnya. Daerah ini semakin lama semakin bertambah penduduknya (terutama oleh para pengungsi dari Palestina) sehingga bangunan pun bertambah banyak. Tempat ini pun dikenal sebagai Kampungnya Bani Qudamah dimana mereka semua dikenal sebagai orang saleh. Hal  inilah yang menjadi salah satu sebab kenapa daerah mereka ini kemudian dikenal dengan Hayy Ash-Shalihiyyah artinya kampung orang-orang yang saleh.
foto : Yasminalcham.com



Adapun madrasah Al-Umariyyah sendiri dibangun pada masa pemerintahan Sultan Nuruddin Zanki. Sultan yang dikenal cinta ilmu ini ikut andil dalam perluasan madrasah yang mulanya hanya terdiri dari 10 ruangan ini hingga menjadi kurang lebih 360 ruangan yang bisa menampung seribu pelajar.

foto : Yasminalcham.com

Madrasah Al-Umariyyah ini dipandang sebagai madrasah terbesar dan terpenting di kota Damaskus dahulunya. Hal ini bisa kita lihat dari keindahan arsitektur bangunannya serta posisinya yang strategis dan luas walaupun hari ini sebagian penduduk yang tinggal di dekatnya banyak yang “merampok” tanah dan bangunan madrasah ini untuk kepentingan mereka.  Madrasah ini juga dikenal sebagai Universitas pertama yang dibangun di negeri Syam dimana ilmu pengetahuan diajarkan disana siang dan malam. Madrasah ini dilengkapi berbagai fasilitas bagi para penuntut ilmu dan pengajar baik dari sisi konsumsi, pakaian, asrama tempat tinggal serta biaya harian yang semuanya Gratis. Semua fasilitas ini merupakan harta wakaf para dermawan yang pada masa itu lazim terjadi.



Secara umum, Madrasah ini sendiri berafiliasi ke mazhab Hanbali dalam fiqh. Dan konsentrasi utama dalam pendidikannya adalah Ilmu Hadits dan Fiqh. Yang unik adalah madrasah ini juga menampung pelajar perempuan sehingga pada masa jayanya, madrasah ini melahirkan tokoh-tokoh di bidang hadits serta ulama yang mumpuni dari kalangan perempuan.
 
foto : Yasminalcham.com
 Madrasah ini mengalami kemunduran di akhir abad ke 19. Saat itu jumlah ruangan hanya tersisa 110 buah diman setiap ruangan hanya berisikan 5 – 20 orang pelajar saja. Yang menyedihkan bahwa menurut catatan sejarahwan, pada tahun 1935 tiada lagi yang tersisa dari madrasah ini satu buah ruangan yang diisi oleh kaum dari maghrib dan sudan. Sempat ada ide untuk kembali merenovasi bangunan pada tahun 1942, sayangnya ternyata sebagian ruangan telah dihancurkan untuk pembangunan jalan dan perumahan.



Mengingat sejarahnya yang begitu megah, beberapa penduduk di sekitar gunung Qasiyun seperti Hayy Ash-Shalihiyyah, Hayy Al-Muhajirin dan lainnya pernah menuntut pemerintah agar memugar madrasah ini dan menjadikannya sebagai Pusat Budaya dan Ilmu Pengetahuan untuk Damaskus. Ide ini sempat kuat namun tidak diteruskan. Di tahun 2008, ada upaya positif untuk pemugaran situs sejarah peradaban islam ini lewat Deklarasi ‘Damaskus sebagai pusat peradaban Arab’ dimana salah satu agendanya adalah menjadikan Bangunan Madrasah Al-Umariyyah sebagai pusat Peradaban Arab dan Islam di Damaskus. Harapan terbesar gerakan ini adalah adanya identifikasi terhadap bangunan asli milik Madrasah ini agar kemudian dilakukan pemugaran sehingga kembali megah seperti masa jayanya dulu.


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images