Puber Ilmiah, Puber Religi

5:52 PM

Pernah melihat remaja yang sedang mengalami masa puber ? kata para psikologi, setiap manusia setidaknya mengalami satu kali masa puber. Biasanya puber pertama kali terlihat pada usia remaja. Saat itu, seorang remaja terlihat ingin dewasa, ingin lepas dari ‘cengkeraman’ orang tuanya. Ingin bebas dari segala aturan-aturan yang mengekangnya.

Saat puber, emosi kita susah terkontrol. Kepekaan terhadap apa yang terjadi mulai tinggi. Kita suka memberikan reaksi atas apa yang kita ketahui dan alami. Reaksi tersebut mulai dari yang sekedar berkomentar ringan sampai pada level yang cukup ‘meledak’ dengan berkata bahkan bertindak kasar. Setidaknya ini ciri-ciri orang yang sedang puber yang mudah kita lihat di sekitar kita. Masa puber akan menjadi titik dimana seorang remaja sedang mencari jati dirinya untuk menuju kedewasaan.

Dalam arena keilmuan bahkan beragama pun sepertinya ada kecenderungan seseorang yg mengalami puber. Istilah yang sering kita dengar hari ini adalah pubertas ilmiah, sebuah istilah yang disematkan pada seseorang yang dianggap belum mapan keilmuannya namun bertindak layaknya orang yang sudah berilmu matang. Cirinya adalah suka sekali membantah dan mengkritisi hal yang dianggap sudah mapan. Selain itu, orang yang puber ilmiah ini suka sekali ber’suara’ padahal masalah yang dibahas itu-itu saja. Orang yang sedang mengalami puber ilmiah pun sering melabrak nilai dan norma, dengan tidak menghormati orang yang tinggi ilmunya misalnya.

Begitu juga dalam beragama. Ada masa dimana seseorang yang sedang belajar agama akan menghadapi masa puber. Puber ‘religi’ ini tidak mengenal batasan usia. Biasanya ini menerpa orang-orang yang baru dan sedang semangatnya belajar agama. Pada kondisi ini, hampir setiap hal akan ia komentari. Tentunya dari sudut pandang agama yang ia pelajari. Ia ikut-ikutan bersuara, menulis, bahkan segala hal akan ia lakukan untuk menguatkan argumentasinya.

Orang yang puber religi biasanya hobi sekali mempertanyakan hal-hal yang tidak ia miliki ilmunya. Perbuatan A mana dalilnya ? perbuatan B kan haditsnya sesuai yang saya baca tidak sahih ? apa yang dilakukan orang C kan hanya mengikuti pendapat dalam kitab fiqh, bukan sesuai dengan sunnah ! dan lain-lain semisalnya. Tak jarang ia masuk arena diskusi dan debat. Disana ia akan berjuang sekuat tenaga mempertahankan argumentasinya. Bahkan kalau perlu dengan membunuh karakter lawan debatnya dengan cara memvonis lawan debatnya dengan vonis negatif.

Hal ini semakin tragis jika ia berafiliasi pada sebuah kelompok. Tak jarang ia akan terjebak pada fanatik buta. Dengan brutal ia akan menyerang kelompok lain, terlepas apakah kelompok lain tersebut menyerang kelompoknya atau tidak. Menyalahkan pendapat lain menjadi semacam prestasi baginya. Jangan coba-coba ada orang yang mengkritisi kelompoknya, emosinya akan meledak dan berbagai cara akan ia lakukan untuk ‘menang’ di arena debat.

Orang yang sedang puber ilmiah dan puber religi, biasanya tidak butuh orang lain. Ibarat remaja puber yang enggan diatur oleh orang tua dan gurunya. Mereka lebih suka independen. Dalam belajar lebih suka otodidak. Melahap buku ini dan itu. Terlepas apakah ia punya dasar ilmu untuk membaca buku tersebut. Jika ada ide dalam buku yang terlihat ‘mendobrak kemapanan’, ia akan gembira karena menganggap ada orang lain yang memahami perasaannya yang juga tidak nyaman dengan hal mapan.

Dalam puber religi, ulama yang kualitasnya sudah diakui dari zaman ke zaman, tak akan segan ia ‘hantam’. Baginya, mengkritik ulama adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Makanya jangan heran kalau hari ini banyak yang menggugat, kenapa mesti mengikut mazhab ? bukankah Al-Qur’an saja sudah cukup ? jika hadits sudah sahih kenapa masih mengikuti pendapat ulama ?. Pendapatnya akan ia kuatkan dengan bacaan-bacaan yang ada. Biasanya adalah terjemahan buku-buku luar negeri. Tak penting kemampuan bahasa arab selagi buku terjemahannya berhasil mendukung pendapatnya.

“Tak penting belajar pada ustadz dan ulama. Toh buku kan karangan ulama juga. Lagian kajian para ulama itu sudah out of date, tidak relevan lagi. Bandingkan dengan buku yang baru saya baca ini”. Redaksi seperti ini akan sering kita dengar dari orang yang sedang puber religi. Kadang, tak jarang mereka berbuat lebih. Tidak sepakat dengan sebuah hukum yang telah ditetapkan oleh ulama misalnya, ia buka terjemahan al-Qur’an dan Hadits, ia kutip pendapat ulama yang sesuai dengan keinginannya, lalu muncul lah hukum baru yang menurutnya lebih tepat dan relevan. Tak lupa ia cari penguat untuk mengkritik dan menyalahkan pendapat lawannya. Bahkan, pendapat dan hasil ijtihad ulama terdahulu pun ia olok-olok sebagai bagian dari pembunuhan karakter lawannya.

Pada akhirnya kita hanya bisa mendoakan bahwa orang yang sedang puber tidak berhenti untuk belajar. Semakin dalam yang ia pelajari, akan semakin dewasa pola pikir dan basis ilmunya. Musibah akan muncul saat ia merasa cukup dengan ilmu yang ia dapatkan. Lalu berkomentar disana dan menghujat disini. Merasa bahwa ia juga punya hak dalam menentukan nasib khalayak dengan fatwanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: Akan muncul di akhir zaman nanti, suatu golongan yang merupakan orang-orang muda yang masih mentah fikirannya. Mereka banyak mengucapkan perkataan khairil bariyyah (Firman Allah dan Hadits Rasulullah) tetapi iman mereka masih lemah. Mereka telah keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Dimana saja kamu bertemu dengan mereka maka hapuskanlah mereka. Siapa yang dapat menghapus mereka, kelak akan mendapat pahala di hari kiamat. (H.R Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda: Di akhir zaman akan ada sekelompok orang yang berbicara kepada kalian dengan hal yang belum pernah terdengar oleh kalian dan orang-orang sebelum kalian. Maka hindarilah mereka. Di dalam riwayat lain disebutkan: Akan ada di akhir zaman, para Dajjal pendusta. Mereka akan berbicara pada kalian dengan hal-hal yang belum pernah terdengar oleh kalian dan orang-orang sebelum kalian. Berhati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan menebarkan fitnah diantara kalian.

Yah, ciri-ciri dalam hadits diatas mirip sekali dengan para puber religi. Semoga bukan kita.

Na’udzubillah min dzalik


Posted via Blogaway

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images