Pemimpin adalah Pelayan

3:19 PM

Pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah, salah satu fragmen sejarah menceritakan tentang singgahnya Nabi Saw ke sebuah kemah (warung) milik Ummu Ma’bad. Ceritanya Rasulullah Saw hendak membeli makanan dan minuman di warung tersebut, namun sayang barang-barang yang dicari sedang tidak ada.

Rasulullah Saw lalu melihat seekor kambing yang terikat di pinggir rumahnya. “Kambing itu kurus kering, tidak ada susunya,” kata Ummu Ma’bad. Rasulullah Saw bertanya “Bolehkah saya mencoba memerasnya ?”. “Silahkan, kalau memang kamu mengira kambing ini ada susunya, silahkan kamu peras” jawab Ummu Ma’bad.

Nabi Saw pun memegang kambing tersebut sembari berdoa agar kambing itu diberkahi susunya. Dan atas izin Allah, susu kambing itu memencar deras. Nabi Saw pun menyuruh Abu Bakar dan orang-orang yang mendampingi beliau dari Makkah untuk meminum susu tersebut. Setelah itu beliau menyilahkan Ummu Ma’bad untuk meminumnya. Barulah setelah itu Nabi Saw minum. Lalu beliau berkata “Saaqiyul qaum akhiruhum / Orang yang memberi minum suatu kaum, ia minum paling akhir”

***

Dalam kisah ini, Rasulullah mengajarkan kita materi kepemimpinan yang luar biasa. Pemimpin adalah inisiator. Ketika ada sebuah kebutuhan, pemimpin adalah orang pertama yang menginisiasi idenya lalu mengeksekusinya. Ketika beliau bersama Abu Bakar dan rombongan sedang membutuhkan tambahan bekal, beliau tidak kurang akal ketika warung Ummu Ma’bad sedang kosong. Melihat kambing yang tertambat, muncul ide untuk mencoba memerasnya. Sikap penuh inisiatif ini tentunya dibarengi sikap tawakkal pada Allah yang tinggi serta tidak mau mendahului takdirnya. Walau kambing terlihat kurus, namun apa yang ada di dalamnya adalah hal yang di luar ilmunya, sehingga beliau pun berikhtiar mencoba memerasnya.

Selain itu beliau juga mengajarkan kita bagaimana sikap pemimpin yang sebenarnya. Pemimpin adalah orang terakhir yang mencicipi tatkala nikmat itu datang. Sebelum ia menikmati, pemimpin harus menjamin bahwa orang yang ia pimpin telah menikmatinya terlebih dahulu. Pemimpin harus berani lapar bersama rakyatnya dan menjadi orang yang terakhir kenyang ketika nikmat datang. Pemimpin harus yakin bahwa rakyatnya telah sejahtera sebelum ia mensejahterakan diri dan keluarganya. Setelah semua rakyatnya damai dan tenteram serta tidak berkekurangan, barulah ia memikirkan dirinya sendiri dan keluarga. Itulah pemimpin yang sebenarnya.

Sumber : Hadits tentang peristiwa Hijrah

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images