Mengenal Hukum, Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

6:42 AM

Mengenal Puasa

Puasa dalam bahasa arab disebut dengan shoum /صوم yang merupakan bentuk masdar (infinitif) dari kata صام – يصوم yang secara etimologi bermakna menahan dari makan, minum, berkata-kata, menikah dan berjalan. Allah Ta’ala berfirman dalam kisah Maryam as dalam Q.S. Maryam ayat 26 :

فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maka katakanlah: “sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”

Adapun menurut istilah, para fuqaha’ mendefenisikan puasa adalah menahan dari segala yang membatalkan puasa (menurut syariat) dengan cara-cara tertentu.

Term puasa sendiri memiliki beberapa diksi yang maknanya saling berdekatan, diantaranya adalah menahan, meninggalkan dan diam. Menahan secara umum mencakup segala hal, baik menahan dari berkata, menahan diri dari makan dan minum, menahan untuk tidak menikah, menahan di rumah tahanan dan semisalnya. Begitu juga dengan meninggalkan, secara umum mencakup segala hal seperti meninggalkan makan dan minum. Adapun diam, ia lebih terkhusus pada meninggalkan berkata-kata atau menahan diri dari bicara.

Hukum Puasa Ramadhan dalam Pandangan Islam

Semua ulama sepakat (Ijma’) bahwa hukum puasa Ramadhan adalah Fardhu atau wajib bagi yang telah memenuhi segala rukun dan syarat serta tidak memiliki penghalang yang membolehkannya untuk tidak berpuasa.

Dalil Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 183 dan 185:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S Al-Baqarah ayat 183)

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Maka barangsiapa yang hadir diantara kamu (di bulan tersebut) maka hendaklah ia berpuasa (Q.S Al-Baqarah ayat 185)

Dalil As-Sunnah, hadits diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih keduanya dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda: “Islam dibangun atas lima, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Salat, menunaikan Zakat, Haji ke Baitullah dan Puasa di bulan Ramadhan

Beberapa Keutamaan bulan Ramadhan

1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad Saw bersabda: “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan (pertimbangan), ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah terdahulu. Dan siapa yang mendirikan malam Al-Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan (pertimbangan), ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah terdahulu” (HR. Bukhari)

2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, berkata: Nabi Muhammad Saw pernah memberitakan kabar gembira kepada para sahabat dengan datangnya bulan Ramadhan, beliau bersabda “Sungguh telah datang padamu Bulan Ramadhan, Bulan yang diberkahi, (dimana) Allah telah mewajibkan kepadamu untuk berpuasa, (pada bulan Ramadhan) pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, di dalam Bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i, dalam sanadnya ada yang terputus namun ada beberapa jalur lain yang menguatkan derjat hadits ini)

3. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ra, dari Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan. Pintu ini akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa di hari kiamat kelak dimana tiada seorang pun yang masuk ke dalamnya selain mereka. (Di hari kiamat) akan dipanggil “mana orang-orang yang berpuasa ?”, maka seluruh orang yang berpuasa pun berdiri (dan masuk melewati pintu tersebut), tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain mereka. Jika telah ditutup pintu tersebut, tidak ada seorang pun yang memasukinya (selain mereka). (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bahkan sangat celakalah orang-orang yang melewati bulan Ramadhan namun dosanya tidak terampuni. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Terpotonglah hidung seseorang (artinya Celakalah seseorang !, pen) yang memasuki bulan Ramadhan, lalu Ramadhan pun berlalu sebelum dosa-dosanya sempat diampuni” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini Hasan”)

5. Dan masih banyak keutamaan lainnya.

Diantara Hikmah Puasa Ramadhan

1. Puasa adalah salah satu metode untuk mendeteksi nikmat lalu mensyukurinya. Seperti yang sering kita dengar dari nasehat para ulama dan ahli hikmah bahwa nikmat baru akan terasa saat ia tidak lagi ada disisi kita. Maka puasa adalah metode dimana kita menahan dari dari makan, minum, berhubungan suami istri dimana tiga hal ini adalah nikmat yang paling sering kita rasakan dan kita butuhkan. Dengan berpuasa, kita akan memahami dan menyadari betapa besarnya tiga nikmat ini dan betapa Maha Pemurah Allah yang telah menganugerahkan kita nikmat-nikmat tersebut, sehingga kita pun akan lebih banyak bersyukur.

2. Puasa adalah salah satu cara efektif untuk melatih diri agar menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa sendiri kita maknai dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dengan puasa, kita tidak saja belajar untuk menahan diri dari yang haram, namun kita juga melatih diri untuk menahan dari yang halal selama periode waktu tertentu (waktu puasa). Insya Allah, jika kita sanggup untuk menahan yang halal, maka menahan yang haram pun (logikanya) akan lebih mudah dan lebih sanggung. Dengan begitu, pribadi yang bertakwa pun insya Allah akan terwujud

3. Puasa adalah ujian yang sangat ampuh untuk menundukkan syahwat. Nafsu syahwat akan lebih mudah dikendalikan ketika lapar ketimbang saat kenyang. Syahwat sendiri hanya memiliki dua opsi pengendalian, yakni dengan menikah atau puasa.

4. Puasa adalah saat dimana kita bisa merasakan apa yang sering dirasakan oleh saudara kita kaum dhuafa. Dengan merasakan penderitaan yang sama, hati orang yang berpuasa insya Allah akan dilunakkan sehingga akan lebih sering berbagi dan memberi kepada mereka kaum dhuafa. Secara ekonomis, hal ini akan mendekatkan kesenjangan ekonomi yang hari ini telah kita rasakan. Apalagi berbagi kasih sayang adalah hal yang sangat utama dalam Islam.

5. Selain itu, puasa juga akan membuat kita menyadari bahwa posisi kita dengan kaum dhuafa faqir miskin sebenarnya sama. Saat berpuasa kita sama-sama tidak makan tidak minum. Bagi kaum dhuafa sendiri, hal ini akan mengangkat harga diri mereka bahwa mereka sebenarnya bukanlah kaum marjinal, terpinggirkan. Justru dengan puasa, derjat mereka akan semakin naik disisi Allah Ta’ala.

6. Puasa juga mengajarkan kita trik dan strategi untuk melawan musuh abadi paling nyata bagi umat manusia, yakni setan. Sejatinya setan tidak punya kuasa atas diri manusia. Namun setan selalu punya celah dari dalam diri manusia yang bisa mereka manfaatkan untuk menghancurkan manusia. Celah itu adalah nafsu syahwat. Maka ketika kita bisa mengendalikan nafsu syahwat dengan berpuasa, setan pun akan sangat kesulitan untuk mempengaruhi dan menjerumuskan manusia, karena mereka tidak lagi memiliki celah tersebut.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images